Rabu, 21 September 2016

Imam Al-Syafi'i

Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i:
Gambar Diri Imam Syafi‘i dalam Syair

Saya kira hampir semua orang mengenal Muhammad ibn Idris al-Syafi‘i atau yang kita sebut secara singkat dengan Imam Syafi‘i, paling tidak pada sebatas ia adalah seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i. Atau, paling tidak, jika disebut Imam Syafi‘i maka yang tebersit pertama dalam pikiran adalah fikih. Dan, barangkali sedikit dari kita yang mengetahui jika Imam Syafi‘i adalah juga seorang penyair, meski ia tidak menulis buku khusus untuk syair-syairnya. Ia menyenandungkan syair secara spontan sebagai cerminan atas keadaan tertentu atau sebagai jawaban pertanyaan seseorang kepadanya. Seorang murid yang mendengar syair itu akan menghafalnya, lalu menyampaikannya dari mulut ke mulut, turun-temurun. Kemudian, para ulama-penulis akan menukil untuk buku-buku mereka syair-syair yang sesuai dengan tema yang mereka tulis. Akhirnya, tersebarlah syair-syair Imam Syafi‘i di berbagai karya tentang hadis, fikih, sejarah, bahasa, etika, dan sebagainya.

Dan, Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i adalah sebuah buku kecil yang merangkum syair-syair[1] Imam Syafi‘i—ada sekitar seratus lima puluhan syair—yang  terserak di berbagai karya tersebut. Tertulis di sampul buku itu, perangkumnya bernama Yusuf Syekh Muhammad al-Biqa‘i, seorang profesor bahasa dan sastra Arab. Sebagian besar syair-syair dalam Dîwân memotret soal moral dan nasihat serta refleksi dari keadaan masyarakatnya saat itu, sekaligus mencerminkan gambar diri Sang Imam.

Ada satu syairnya yang jika dibaca, kita akan tahu betapa Imam Syafi‘i begitu menghormati wanita. Ia tidak menempatkan wanita di posisi yang pantas dipojokkan atau menjadi bahan olok-olok. Simaklah …

أَكْثَرَ النَّاسُ فِي النِّسَاءِ وَقَالُوا

إِنَّ حُبَّ النِّسَاءِ جَهْدُ الْبَلَاءِ

لَيْسَ حُبُّ النِّسًّاءِ جَهْدًا وَلَكِنْ

قُرْبُ مَنْ لَا تُحِبُّ جَهْدُ الْبَلَاءِ

Banyak orang memperbincangkan wanita,

dan mereka mengatakan: mencinta wanita itu puncak bencana.

Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita,

melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.

Mungkin saja, Imam Syafi‘i hidup dalam masyarakat di mana faktor lelaki begitu dominan, saat para lelaki menganggap kelelakian adalah alasan yang membuat seorang lelaki bisa di atas wanita dalam berbagai hal, sehingga seseorang mudah saja mengolok-olok wanita. Atau, mungkin saja, pada suatu ketika, Imam Syafi‘i pernah melewati sekelompok laki-laki yang sedang nongkrong, dan mendengar mereka membicarakan kesialan mereka sendiri tentang wanita. Namun, kesialan itu mereka nisbatkan kepada wanita.

Yang tak sedikit dibicarakan Imam Syafi‘i dalam Dîwân adalah soal “bicara” dan “diam”. Imam Syafi‘i menasihati kita,

إِذَا نَطَقَ السَّفِيْهُ فَلَا تُجِبْهُ

فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوْتُ

Jika ada orang bodoh berbicara, jangan ditanggapi.

Jika harus ditanggapi maka tanggapan terbaik untuknya adalah diam.

Al-Safîh (orang bodoh) bisa kita pahami sebagai “orang bodoh tapi tak mau memikirkan kebodohannya” atau “orang bodoh tapi ngeyel” atau “orang bodoh tapi sok tahu”. Dalam Al-Quran, tepatnya ayat ke-142 dari surah al-Baqarah, al-sufahâ’ (bentuk plural dari al-safîh) dinisbahkan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrik yang mempertanyakan dengan maksud mengingkari keputusan pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah.

“Alasan apa yang membuat orang-orang muslim tidak lagi berkiblat ke Baitul Maqdis?!” kata mereka. Pertanyaan yang bernada sinis. Allah kemudian menyuruh Rasulullah memberi jawaban “sekenanya”: “Timur dan barat itu milik Allah!” Dalam bahasa kita, seperti ini: “Mau menghadap ke mana aja kek, terserah Allah dong!” Jika saja orang-orang Yahudi itu bertanya dengan maksud benar-benar ingin tahu—bukan mengingkari—barangkali Allah akan menyuruh Rasulullah memberi jawaban yang “sebenarnya”.

Mengapa orang-orang seperti itu (al-safîh) tidak perlu didengar dan ditanggapi omongannya? Tentu saja, karena jika al-safîh bertanya, ia tidak bermaksud ingin mendapatkan jawaban, tetapi hanya ingin mengungkapkan ketidaksukaan. Ia bertanya bukan untuk mencari arti, melainkan untuk mengingkari. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya membuang tenaga secara percuma. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan pengingkaran selanjutnya. Menanggapi orang-orang yang ngeyel, orang-orang yang sok tahu, orang-orang yang berdiskusi tanpa argumentasi, orang-orang yang berbicara hanya ingin didengarkan tapi tak mau mendengarkan, pada akhirnya itu sama saja dengan kita menunjukkan kebodohan diri kita sendiri, membuat kita tampak bodoh di hadapan mereka. Namun, “Jika harus ditanggapi,” kata Imam Syafi‘i, “tanggapan terbaik untuknya adalah diam.”

Itulah diam dalam makna yang disebut peribahasa “diam itu emas”. Diam yang menyimpan hikmah. Membangun harga diri dengan tak banyak bicara tanpa arti. Imam Syafi‘i membuat analogi sangat menarik tentang itu dalam syairnya,

أَمَّا تَرَى الأَسَدَ تُخْشَى وَهْيَ صَامِتَةٌ

وَالْكَلْبُ يُخْسَى لَعَمْرِي وَهْوَ نَبَّاحُ

Kautahu, macan tetap ditakuti meski sedang diam,

namun anjing akan dilempar jika terlalu banyak menggonggong.

Apalagi banyak bicara tanpa arti, bahkan, kata-kata yang pada dirinya benar dan penuh arti pun tak secara otomatis pantas dibicarakan dan disampaikan. Yang benar tak selalu berarti baik. Kebenaran berkaitan dengan “sesuatu yang harus disampaikan”, sementara kebaikan berkaitan dengan “bagaimana cara sesuatu harus disampaikan”. Kebenaran berkaitan dengan logika, kebaikan berkaitan dengan etika. Sesuatu yang logis harus disampaikan secara etis. Barangkali kita memiliki pendapat atau nasihat yang kebenarannya tak terbantahkan. Tapi, kita juga harus berpikir sebelum menyampaikan pendapat atau nasihat itu kepada orang lain: Apakah sesuai betul untuk kondisi orang itu?  Apakah pendapat atau nasihat itu dibutuhkan? Apakah orang itu menghendaki? Jangan-jangan berdasar asumsi kita saja bahwa orang itu membutuhkan pendapat atau nasihat, atau jangan-jangan kita yang terlalu “bersemangat”. Jangan sampai kemudian niat baik kita menjadi buruk gara-gara cara  kita menyampaikannya tidak bijak. Kurang-lebih, seperti itulah yang ingin disampaikan Imam Syafi‘i dalam syairnya ini:

وَلَا تُعْطِيَنَّ الرَّأْيَ مَنْ لَا يُرِيْدُهْ

فَلَا أَنْتَ مَحْمُوْدٌ وَلَا الرَّأْيُ نَافِعُهُ

Jangan kausampaikan pendapat kepada orang yang tak menghendaki;

kau tidak akan mendapat pujian, tidak pula pendapatmu akan berguna.

Sebab itulah tak jarang kita menyaksikan di media-media, satu kelompok bergerak menyerukan kebenaran, tapi yang tebersit dalam sebagian hati kita justru bukan simpati, melainkan caci maki. Dan, tentu saja, bukan caci maki terhadap diri kebenaran, melainkan terhadap ekspresi-kebenaran yang tak benar.

Gambar diri lain dari Imam Syafi‘i yang bisa kita lihat dalam Dîwân­ adalah sikap-rendah-hatinya yang tinggi. Untuk kita ingat … Imam Syafi‘i adalah: seorang bayi yang kelahirannya bertepatan dengan kematian seorang pendiri mazhab-fikih terbesar [yang lain], Mazhab Hanafi, yaitu Imam Abu Hanifah, dan kebesarannya telah diramalkan, sehingga, saat itu, orang-orang berujar, “Mâta imâm wa wulida imâm” (Seorang imam telah berpulang dan [calon] seorang imam telah datang); seorang anak yang telah hafal Al-Quran secara penuh saat berusia tujuh tahun, dan telah hafal seluruh isi al-Muwaththa’—kitab berisi kumpulan hadis—pada usia lima belas tahun, sebelum berguru kepada penulis kitab itu, Imam Malik ibn Anas, yang juga seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, yaitu Mazhab Maliki; seseorang yang kemudian mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i—mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia; seorang guru yang muridnya bernama Imam Ahmad ibn Hanbal juga mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Hanbali; jika Anda pernah menjumpai nama ulama klasik yang dalam rangkaiannya tertulis “al-Syafi‘i”, itu artinya, dalam masalah fikih, ia mengikuti metode fikih yang dibangun Imam Syafi‘i; atau Anda barangkali ingin menambahkan nama besar Imam Syafi‘i dari sudut yang lain …. Namun demikian, coba kita perhatikan apa yang Imam Syafi‘i gambarkan tentang dirinya dalam syair ini,

كُلَّمَا أَدَّبَنِى الدَّهْرُ أَرَانِي نَقْصَ عَقْلِي

وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِي عِلْمًا بِجَهْلِى

Masa mendidikku dan memperlihatkan jika pengetahuanku semakin berkurang.

Pun jika pengetahuanku bertambah maka itu adalah pengetahuan tentang kebodohanku.

Atau yang ini,

أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ

لَعَلِّى أَنْ نَالَ بِهِمْ الشَّفَاعَهْ

وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِى

وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِيْ الِبِضَاعَهْ

Aku bukan termasuk orang-orang saleh, tapi aku mencintai mereka.

Dengan mencintai mereka aku hanya berharap mendapat syafaat.

Aku membenci orang yang perilakunya adalah maksiat,

meski aku dan mereka sama saja.

Bahkan, menjelang ajal, sambil menangis, Sang Imam sempat berkata kepada orang-orang yang menjenguknya, “Dari dunia ini aku akan pergi, dari handai tolan aku akan berpisah, hanya dengan segelas kematian aku meminum, dan kepada Tuhan aku akan kembali. Tapi, aku tidak tahu ke mana ruh jasad ini akan menuju: mungkin ke surga, mungkin ke neraka.”[]

Selasa, 20 September 2016

Usaha ala BUGIS

Makna Usaha ala Bugis (M.Agus Martawijaya).
Usaha
PENDIDIKAN MAHIR-Usaha atau kerja dalam bahasa Bugis dinyatakan dengan reso. Orang yang bekerja disebut tau makkareso sebagai manifestasi dari nilai kejujuran, nilai kecendekiaan, nilai kepantasan, dan nilai keteguhan yang dimilikinya. Terdapat beberapa ungkapan tau riolo yang memiliki makna assitinajang, yakni sebagai berikut.
E kalaki! De’ga gare pallaommu muonro risere laleng? Ianaritu riaseng kedo matuna, gau’ temmaketuju. De’ kua de’gaga pallaommu, laoko ri barugae mengkalinga ade’, iyare’ga laoko ri pasa’e mengkalinga ada pabbalu’. Mapatoko sia kalaki! Nasaba resopa natinulu’ temmangingngi malomo naletei pammase Dewata (Hai kalian anak-anakku! Apakah sudah tidak ada pekerjaanmu  sehingga kalian bermain-main saja? Itulah yang dinamakan hina dan tidak ada gunanya. Jika tidak ada pekerjaanmu, pergilah ke balairung mendengar pembicaraan adat, atau engkau pergi ke pasar mendengar kata-kata penjual. Rajinlah berusaha hai anak-anakku!, sebab hanya dengan jerih payah dan ketekunan serta ketakbosanan yang dirahmati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa). Ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap pekerjaan senantiasa memiliki nilai guna dan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar hendaknya kita melibatkan diri dan mengambil pelajaran yang bermanfaat.
Naiya tettongetta massappa’ ridecengnge (adapun tempat untuk mencari kebaikan) yaitu: (1) tapugau’i malempu’e (melakukan perbuatan yang jujur); (2) pakatunai aleta risillempu’nae (merendahkan diri sejujurnya); (3) saro mase risilasannae (saling membantu sewajarnya); (4) moloie roppo’-roppo narewe (apabila menghadapi rintangan, ia menghindar atau kembali); (5) molae laleng namatike (waspada dalam perjalanan); dan (6) reso patujue (bekerja yang bermanfaat). Sehubungan dengan reso patuju, satu butir pesan yang perlu diimplementasikan dalam berusaha, yaitu saro mase risilasannae yang akan menumbuhkan assiwolongpolongeng (pergaulan yang akrab). Dengan demikian, akan menciptakan persatuan berupa a’bulo sibatang dengan mengutamakan assipetangngareng (saling memintai pendapat yang bermanfaat), assamaturuseng (saling seia sekata), dan mangellek pasang (demokrasi). Narekko maeloko tikkeng seu’wa olokolo’ sappai’ bate-la’na; narekko sappa’ko dalle’, sappai rimaegan’na batela tau (kalau mau menangkap seekor binatang, carilah jejaknya; kalau mau mencari rejeki, carilah dimana banyak jejak manusia).
Eppa’i naompo adecengengna padangkangnge (empat hal yang memunculkan kebaikan pedagang atau pengusaha), yaitu: (1) alempureng (kejujuran); (2) assiwolong-polongeng (pergaulan yang akrab); (3) amaccangeng (kecendekiaan); dan (4) pongnge (modal). Ungkapan ini mengandung makna bahwa kejujuran akan menimbulkan kepercayaan bagi pedagang, pergaulan akan mengembangkan suatu usaha, kecendekiaan akan memperbaiki pengelolaan atau manajemen, dan modal akan menggerakkan usaha. Sehubungan dengan kerjasama dalam berusaha, selain assiwolong-polongeng juga dipesankan oleh tau riolo bahwa aja’to mumaelo maddua-dua tau temmuewae manguru’ nawa-nawa (jangan mau berduaan dengan orang yang tidak sepikiran dengan engkau).
Atutuiwi gau’e mupegau’i, apa’ iyaritu maseroe pawaju risininna pawajue iyana ritu tettongie tettongen maraja, calewoe teppaja ritu ripogau, tennapajatonasa pasolangi (waspadai perbuatan yang engkau lakukan, karena yang sangat berbahaya adalah berdiri di tempat yang tinggi atau menduduki jabatan yang selalu diliputi oleh kelengahan, akan merusak dirimu). Ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap pekerjaan hendaknya dilakukan secara hati-hati agar tidak terperangkap dalam duka. Untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan kejujuran, kecendekiaan, keteguhan, dan kepantasan dalam mengelola pekerjaan itu.
Agana sia upammanariakko, banna matu’ sia ada’e lima lappae rekko mualamui (apa gerangan yang kuwariskan kepadamu kecuali lima kata jika engkau menerimanya), yaitu: (1) rekkua engka mopagau, itai amunrinna (jika ada yang engkau lakukan lihatlah akibatnya); (2) aja mumagelli ripakainge (jangan marah apabila diperingati); (3) atau’i lempu’e (takuti kejujuran); (4) aja muengkalinga kareba, engkalingatoi (jangan dengarkan berita, tetapi dengar juga); dan (5) iyapa musisala magellipo (bertengkarlah apabila engkau marah). Ungkapan ini mengandung makna bahwa dalam mengelola suatu usaha hendaknya terhindar dari emosi dan menyadari manfaat usaha itu.
Appujio sio mumadeceng kalawing ati, apa’ sininna decengnge enrengnge upe’e polemanengnge rideceng kalawing atie (cintailah sesamamu agar engkau berbaik sangka dan tulus hati kepada mereka, sebab semua kebaikan dan kemujuran bersumber dari baik sangka dan ketulusan hati). Ungkapan ini mengandung makna bahwa dalam mengelola usaha hendak dipupuk kecintaan dan baik sangka kepada sesama, karena mereka itulah yang kelak memberikan keuntungan.
Resopa natinuluk, matemmangngingngik, malomo naletei pammase Dewata Seuwa (jerih payah dan kerajinan serta ketidakbosanan, mudah dititi oleh kemurahan Tuhan Yang Maha Esa). Ungkapan yang sejalan dengan pesan ini yaitu: (1) matuk pae’, baja pae’, pura pae’, temmappapura jama-jamang (sebentar, besok, nanti, tak akan menyelesaikan pekerjaan); (2) onroko mammatu-matu napole marakae’ naia makkaluk (tinggallah bermalas-malas, lalu datang yang bergegas maka ialah yang berhasil); (3) ajak mumae’lok ribetta makkalla ri cappana letengnge (jangan engkau mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian). Ungkapan-ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap yang sudah terencana hendak segera dikerjakan atau diwujudkan, karena beberapa ungkapan populer yang sejalan dengan itu, seperti: lebih cepat lebih baik, waktu adalah uang, dan cepat dan tepat.
Keberhasilan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam berusaha sangat tergantung pada semangat juang yang tinggi (pacce) dan sifat ketabahan serta kemauan untuk bekerja keras yang tak mengenal menyerah. Hal ini didukung oleh salah satu ungkapan leluhur, yaitu dek nalabu mata essoe ri tengngana bitarae (Matahari tak akan tenggelam di tengah langit) dan iyami woroane maperrengnge (hanya orang yang mempunyai daya tahan dapat disebut laki-laki).
Pesan yang lain adalah  taroi sia massangka wawa tellepi salompanna nariattangngari (muatilah hingga sarat sampai tenggelam gantungan kemudi,  barulah dipikirkan). Pesan ini bermakna bahwa usaha harus dilakukan sampai titik terakhir dan semua upaya telah dikerahkan, serta pantang mundur. Jika semuanya telah dikerahkan tetapi gagal juga, maka pesan yang menguatkan adalah aga guna masarae, tenrilesangengna pura makkuae; rilesangeng manemmua pura ri putoto’e tenrilesangi (apa guna bersusah hati, tak terhindarkan suratan takdir; semua dapat dihindari kecuali takdir yang tidak dapat terelakkan).
Dalam berusaha, masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat senantiasa mengutamakan kecendekiaan. Hal ini dapat disimak pesan tau riolo yang menyatakan aja’ muappesona buruk, aja’ mulete riwennang silampae (jangan berpasrah tanpa perhitungan, jangan meniti di selembar benang). Namun demikian, mereka tetap berpegang pada were yang diyakini sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk.
Berdasarkan uraian di atas, nampak bahwa masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam menjalani hidup dan kehidupannya secara pribadi atau pun secara bersama-sama (keluarga dan masyarakat) senantiasa mengacu kepada keempat nilai-nilai utama kebudayaannya dengan tidak mengabaikan nilai mappesona ri dewataE (bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa). Dalam bekerjasama,  keempat nilai tersebut melahirkan nilai persatuan yang dinamakan a’bulo sibatang (bahasa Makassar) atau mabbulo sipeppa (bahasa Bugis). Karakter yang terdapat di dalam a’bulo sibatang lahir dari pacce (bahasa Makassar) atau pesse (bahasa Bugis), sebagaimana yang dikemukakan pada bagian sebelumnya

Bisnis Islami

10 Cara Menjemput Rezeki Secara Islami

JEMPUTLAH REJEKI YANG DIBERIKAN ALLAH SWT.

Sumber rezeki sangatlah luas dan dalam. Seluas bentangan bumi dan kedalaman samudra. Sungguh, di setiap jengkal hamparan bumi dan laut terdapat rezeki yang bisa dikais. Permasalahannya, kerap kali manusia lebih berorientasi menunggu rezeki daripada menjemputnya.

Lebih mementingkan selera pribadi dalam memilih sumber rezeki ketimbang merebut kesempatan di depan mata. Lebih mengutamakan cara yang cepat daripada berletih-letih dalam menggapainya.

Liku-liku kehidupan memang tak bisa dikalkulasi dengan hitungan. Seakan manusia telah lalai, bahwa segala yang terhampar di jagat raya ini ada Dzat yang mengaturnya.

Allah Ta’ala telah berfirman, artinya :
“Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Alloh-lah yang memberi rezkinya” (QS. Hud : 6)

Karena itu, Islam menekankan setiap Muslim agar menjemput rezeki dengan mengguna kan semua potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Yang pasti, dua kebaikan perlu diperhatikan.

Pertama, rezeki yang didapatkan adalah yang baik.
(QS Al-Baqarah 2: 127)

“Hai, orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian”

Terkait ayat di atas, Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan betapa pentingnya seorang Muslim mengonsumsi makanan yang halal, bersih, dan lurus.

Halal maksudnya adalah tidak mengandung kedurhakaan terhadap Allah SWT. Bersih bermakna tidak mengandung perkara yang melupakan Allah. Sedangkan, lurus berarti rezeki tersebut mampu menahan nafsu dan memelihara akal.

Kedua, untuk mendapatkan rezeki yang baik, hendaknya proses yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang baik pula. Islam melarang segala bentuk upaya mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang zalim
Riba (Al-Baqarah [2]: 278-279)

Maka jika kamu tidak mengerjakan [meninggalkan sisa riba], maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.

Dan jika kamu bertaubat [dari pengambilan riba], maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak [pula] dianiaya. (279)

Judi (Al-Maidah [5]: 90)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [meminum] khamar, berjudi, [berkorban untuk] berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (90)

Penipuan (gharar), Suap (risywah), dan Maksiat.

Mengapa Islam menekankan pentingnya rezeki yang halal?

Karena, setiap asupan yang masuk ke dalam tubuh manusia akan memengaruhinya, baik secara fisik, emosional, psikologis, maupun spiritual.

Rezeki yang halal menghadirkan ketenangan jiwa. Hidup akan lebih terarah dan menjadikan pintu-pintu keberkahan terbuka semakin lebar.

Selain itu, rezeki yang halal merupakan syarat diterimanya setiap doa oleh Allah SWT. Rezeki yang halal akan menciptakan tatanan mayarakat dan bangsa yang kuat.

Saat ini, sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sepatutnya kita tidak memfasilitasi setiap anak negeri mengais rezeki dengan cara-cara yang dilarang Allah SWT.

Mengikuti arus global, kapitalisme, dan melupakan cara-cara nenek moyang dahulu melakukan aktivitas ekonomi. Yakni, sistem bagi hasil, maro, atau paron ditinggalkan.

Manipulatif, spekulatif, dan ribawi dipraktikkan. Karena itu, kini, kita selalu berada dalam sistem ekonomi yang sangat rentan dan goyah. Krisis demi krisis selalu siap menerjang sepanjang waktu. Petaka demi petaka berlangsung di depan mata.

Kini, saatnya kita kembali kepada sistem yang berkeadilan dalam mencari rezeki dan berupaya meneguhkan kembali jati diri bangsa. Semua itu bermuara pada pentingnya rezeki yang halal. Wallahu  a’lam.

Keyakinan yang mantap adalah bekal utama dalam menjalani asbab (usaha) mencari rezeki. Ar Rahman yang menjadikan dunia ini sebagai negeri imtihan (ujian), telah memberikan jalan keluar terhadap problem yang dihadapi manusia. Diantaranya:
1. Berusaha dan Bekerja

Allah berfirman, artinya :
“Kalau telah ditunaikan shalat Jum’at maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia.” (QS. Al Jumu’ah : 10)

2. Taqwa
(Mengikuti Perintahnya dan Laranganya)

Allah berfirman, artinya :
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thala : 2)

3. Tawakkal
(Menyerahkan urusannya kepada Allah)

Allah berfirman, artinya :
”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq : 3)

4. Bersabar dan Syukur

Allah berfirman, artinya :
“Kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh-sungguh Kami akan menambah untuk kalian (nikmat-Ku) dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

5. Berinfaq / Sadaqah / Zakat

Allah berfirman, artinya :
“Dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39)

6. Silaturahmi

Rasulullah bersabda, artinya :
”Barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturohmi.” (HR. Bukhori Muslim)

7. Ber Do’a dan Istigfar

Rasulullah bersabda, artinya:
“Ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah dan yang selainnya)

Allah berfirman, artinya :
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Rasulullah bersabda, artinya:
“Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim)

8. Berbuat Kebaikan

Allah berfirman, artinya :
“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al qashash: 84)

Rasulullah bersabda, artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan zalim pada hambaNya yang berbuat kebaikan. Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.” (HR. Ahmad)

9. Berdagang

Rasulullah bersabda, artinya:
“Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan.” (Riwayat Ahmad)

10. Bangun Pagi

Fatimah (Puteri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W) mengatakan kepadanya,
“Puteriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Allah, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang.

Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari.” (HR. Al-Baihaqi)

Karenanya apapun rezeki yang kita harapkan maka akan selalu ada langkah yang harus kita usahakan. Dan yang paling utama adalah selalu memelihara rasa syukur terhadap semua yang sedang kita miliki sekarang.

referensi : http://saputra51.wordpress.com

Senin, 19 September 2016

Falsafah Bugis Makassar

Falsafah Hidup Orang Bugis- Makassar

Falsafah Hidup merupakan sebuah cara pandang seseorang mengenai suatu hal dalam menjalani kehidupan Setiap orang tentunya harus harus memiliki pandangan hidup, suku bugis makaassar sudah sangat dikenal sebagai pekerja keras mereka senang sekali untu merantau jauh dinegeri seberang untuk mengubah haluan hidup demi mencapai keuksesan sejati. Falsafah Hidup merupakan sebuah prinsip yang mendasar yang harus dimiliki insane dan individu tanpa prinsip maka kehiduppan orang tersebut laksana kapal yang terombang ambing ombak ditengah lautan tanpa tujuan yang jelas. Orang bugis makasssar memiliki juga beberapa prinsip kehidupan yang sangat dalam dalam memaknai perjalanan hidup dan berikut ini beberapa prinsip-prinsip tersebut: Pertama, Siri na pacce prinsip ini mengajarkan bahwa orang bugis Makassar sangat menjunjung tinggi persoalan siri atau rasa malu mereka akan senantiasa merasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Dan baginya panyang untuk melakuka perbuatan yang memalukan yang bertentangan dengan norma agama, hukum maupun norma adat dan kesopanan Dan sebuah aib yang cukup memalukan bila dikemudian hari melakukan hal-hal yang dianggap sebagai perbuatan tidak terpuji . Harga diri atau integritas merupakan barang/mata uang yang palig berharga bagi orang bugis makassar kehilangan harga diri laksana khilangan segala-galanya dan lebih baik kehiolangan uang dari pada harga diri karena kehilangan uang kita kehilangaan sedikit akan tetapi kalau kehilangan integritas maka kita kehilangan segala-galanya Pacce merupakan sebuah sikapyang dapat merasakan penderitaan sesama manusia dan tentunya sikap ini akan senantiasa memunculkan solidaritas bagai sesama manusia Berpegang teguh pada prinsip kehidupan yang mampu perasakan pederitaan sesama manusia maka hal itu akan memicu keinginan untuk senantiasa mengulurkan pertolongan bagi mereka yang membutuhkannya Kedua ,RESO Tamanginggi Naletei Pammase Puang artinya bahwa didadalam mengarungi kehidupan ini Orang bugis akan senantiasa bekerja secara keras, tekun dan pantang menyerah maka dapat dipastikan kebrhasilan akan bisa dicapai karena Rahmat Tuhan meniti menuju jalan kesuksesa. Dan didalam bekerja tersebbut pantang berputus asa karena semakin kita berkeja keras dan semakin banyak rintangan yang kita hadapi seperti kegagalan maka dapat dipastikan kita akan semakin dekat dengan kesuksesan karena hampir semua orang sukses diunia ini pasti perna merasakan kegagalan .jika Fisik dibesarkan dengan melatihnya mengangkat beban seperti barbell maka jiwa dibentuk berdasarkan kegagalan yang dihadapi. Hanya dengan kerja keras maka segalah usaha pasti bisa dicapai dan tuhan sangat menyenangi orang yang bekerja secara keras. Ketiga, Tea Tamakua idipanajaji yang artinya kesuksesan anda tergantung dari diri anda sendiri apa yang anda pilih pada waktu yang lalu hasilnya apa yang aanda rasakan pada saat ini. Dan jika anda ingin merubah nasib anda maka tidak ada jalan lain hanya anda yang mampu mengubahnya karena itu hargai diri anda ,kenali diri anda dan potensi anda lejitkan dan jangan perna berfokus pada kekurangna anda karen ajika berfokus kepada kekurangan maka annda hanya mampu berkeluh kesah, tapi Fokuslah pada kelebihan anda maka anda akan bisa melakukan apapun yang anda cita-citakan . Tidak akan berubah nasib seseorang kecuali dia yang merubanya sendiri demikanlah peringatan tuhan Keempat, Sipakainga, Sipakatau ,dan sipakalebbi.Sikap ini mengajarkan kepada kita bagaimana cara menggapai kesuksesan dan berhubungan dengan sesama manusia karena kesuksesan tidak akan bisa kita capai tanpa bantuandan berinteraksi dengan orang-orang disekeliling kita karena dalam menjalin hubungan dengan manusia termasuk dengan relasi bisnis dan rekan kerja hendaknya kita senantiasa saling mengingatkan , saling menghormati, dan saling menghargai jikaa ketiga sikap ini anda terapkan maka dipastikan urusan anda akan berjalan mulus. Sipakainga adalah tindakan untuk senantiasa saling mengingatkan ,saling menegur ,saling mengevaluasi dan membimbing jealan yang benar jika seseorang mengalami permasalahan atau kesulitan hidup pada saat tanpa membedakan yang baik dan yang benar Sipakatau merupakan cerminanan untuk senatiasa saling menghormati dan tidak sebaliknya saling bermusuhan ,selink sikuk dan injak menginjak dalam merebut jabatan atau mengejar kekayaan hendaknya senantiasa kita memanusiakan sesama manusia. Sipakalabbi sebuah gambaran dalam menjalani hidup dalam bermasyarakat untu senantiasa saling menghargai antara sesama manusia dengan saling menghargai maka hubungan akan semakin erat dan jauh dari rasa permusuhan dan kebencian. Kelima, Malilu Sipakainge, Mali Siparappe,RebbaSipatokkongartinya bahwa hendaknyaa kita membantu satu sama lain jangan saling menjatuhkan tapi sebaliknya saling menarik serta saling mengingatkan antara sesama manusia karna jalan menuju kesuksesan pasti penuh hambatan Dan ketika engkau terjatuh maka saling bantulah dan memotivasi untuk bangkit kembali karena kegagalan akan selalu ada dalam setiap jalan kesuskesan Jika anda ingin sukses maka jangan perna takut akan kegalalan dan jangan pernah menghitung berapa kali anda gagal dan terjatu tapi hitung dang ingatlah sudah berapa kali anda bangkit dari kegagalan. Keenam, Taro Ada Taro Gau prinsip ini mengajarkan betapa pentingnya memiliki sikap yang bissa dipercaya taro ada taro gau memiliki makna bahwa sebagai pemimin atau apapun profesi anda senantiasalah untuk selalu konsisten antara ucapan dan perbuatan. Ketika ucapan dan perbuatan anda sejalan maka dapat dipastikan orang-orang yang anda pimpin atau berada disekitar anda akan semakin mempercayai anda ,dengan adanya kepercayaan maka anda sudah sukses menapaki tangga kepemimpinan yaitu dipercaya atau menjadi pemimpin yang dipercaya. Ketika seorang pemimpin sudah dipercaya maka yang dipimpinnya otomatis akan mencintainya ketika anda sudah dicintai rakyat atau orang yang anda pimpin maka pegaruh anda akan semakin kuat dengan kuatnya pengarug maka anda menciptkan diri anda menjadi pemimpin yang kharismatik Demikianlah beberapa falsafah orang bugis Makassar yang penuh dengan pembelajaran kehidupan .

Lelaki Bugis

EMPAT KESUKAAN LELAKI BUGIS

Serta konsepsi keseimbangannya

Entah karena konstruk budaya atau karena keturunan, lelaki Bugis identik dengan empat hal. Sehingga dengan kegemaran pada salah satu, dua, tiga atau keempat-empatnya menjadi kelengkapan kelelakian seorang lelaki Bugis.

Bukan berarti bahwa keempat hal tersebut milik lelaki Bugis belaka. Akan tetapi, lelaki Bugis selalu menyenangi memiliki dan menjaga salah satu, dua, tiga atau keempat-empatnya. Adapun keempat hal itu antara lain, Batu, Besi, Ayam dan Istri.

Tulisan ini bermaksud untuk mengurai aspek keseimbangan dari keempat hal tersebut secara filosofis. Bukan pada konteks melakukan penilaian pada perspektif agama yang sepenuhnya penulis serahkan pada pembaca. Tulisan ini hanya mencoba memotret dan menafsir sisi kehidupan lelaki bugis, tidak bermaksud untuk bias gender. Atau mengagungkan kultur patriarki.

Batu
Jangan heran jika menemui lelaki Bugis yang gemar menyimpan dan mengoleksi batu. Tentu bukan sembarang batu. Batu yang dimaksud adalah batu mulia yang dipercaya memiliki aura atau kekuatan magis. Batu kegemaran orang Bugis adalah jenis Feroz, Akik, Akok, dan Jamrud.

Batu mulia ini sering diikat dan dijadikan cincin. Adapula yang dipasang di wanua polobessinya. Juga hiasan-hiasan yang sering digunakan pada pesta pernikahan seperti kalung.

Biasanya penggemar batu, lama-kelamaan tertarik dan menjadi penggemar besi. Begitu pula sebaliknya, penggemar besi, lama-kelamaan tertarik pada batu. Hal ini bukan kebetulan. Sebab keduanya adalah benda mati yang dipercaya memiliki tuah, kekuatan supranatural, yang sangat dibutuhkan untuk membangun citra diri seorang lelaki bugis.

Batu ini juga pada konteks, mustika atau yang sering disebut kulawu. Seringkali mustika ini didapatkan secara tak sengaja yang disebut were=keberuntungan. Bermacam-macam kulawu ini memiliki fungsi yang berbeda. Ada kulawu bessi, yang jika digunakan pemakainya tidak mempan senjata tajam. Ada kulawu air, kulawu ikan, kulawu rusa, dan sebagainya.

Pada konteks yang diperluas, batu juga berarti perhiasan emas dan perak yang sangat digemari lelaki bugis terutama kaum aristokratnya. Pusaka-pusakanya sering berhias emas dan perak. Pada sisi lain, lelaki bugis akan menemukan kesempurnaan sosialnya jika berhasil menghiasi istrinya dengan emas, perak beserta batu mulia lainnya. Makanya sangat lazim ditemukan istri-istri bugis yang memakai perhiasan emas seperti gelang, kalung dan cincin emas. Sementara lelaki bugis, paling memakai cincin emas.

Tak jarang lelaki bugis mengumpulkan beberapa batu mulia sebagai koleksi pribadinya. Selain membawa kesenangan tersendiri ketika menatap keindahan batu-batu tersebut, juga memberikan beberapa pilihan tentang kesesuaian aura dan aspek mistik batu tersebut dengan kepentingan lelaki Bugis sang pemilik batu tersebut.

Besi
Besi adalah hal yang sangat identik dengan lelaki bugis. Sehingga tanpa besi seperti badik, kelewang, keris, tombak ataupun parang seseorang tidak dapat disebut lelaki bugis. bahkan begitu dekatnya orang bugis dengan besi, sehingga badik dianggap sebagai saudara sendiri.

Badik biasanya disisipkan dipinggang kiri. Ini menyimbolkan sebagai tulang rusuk kiri yang disempurnakan oleh sebilah Badik. Selain itu, badik juga dianggap sebagai saudara sejati. Ketika seorang lelaki bugis mendapati masalah, maka hanya badiknyalah yang tidak akan meninggalkannya hingga akhir hayatnya.

Secara umum ada tiga jenis badik di sulawesi selatan. Antara lain, badik jenis Makassar. Cirinya, dibagian depan lancip dan bagian tengahnya agak besar. Sering juga disebut lompobattang=besar perut sebab dibagian perutnya agak membesar. Jenis kedua yaitu gecong. Badik model ini cenderung lebih langsing. Lancip didepan, agak membesar kemudian mengecil lagi didekat gagang. Badik ini umumnya digunakan didaerah Bugis. Jenis ketiga adalah badik luwu. Model ini lancip didepan kemudian dibagian tengah hingga belakang rata.

Dalam khazanah perbesian, dikenal pamoro = pamor yang merupakan teknik panre=tukang besi dalam membuat urat-urat besi yang kelihatan indah. Beberapa pamor yang terkenal seperti bunga pejje, bori bojo, daung ase, kurissi, uleng-mpuleng dan ure tuo. Pamor-pamor tersebut dianggap mengandung kekuatan tertentu terhadap pemakainya.

Selain pamor, juga dikenal istilah mausso. Yaitu tingkat kekuatan besi dalam mematikan lawan. Tingkat maussonya sebuah besi dapat diuji sendiri dengan menempelkan ujung besi dengan ujung jari. Besi yang mausso akan terasa gatal dan seperti ada sengatan listrik kecil.

Bentuk dan tujuan pembuatan besi juga sangat diperhatikan oleh lelaki bugis. Misalnya besi yang terbelah didepan disebut massumpang buaja=bermulut buaya dan terbelah dipunggung badik disebut Cappa sikadong. Cappa sikadong ini dianggap bertuah untuk dipakai melamar atau berdagang. Ini yang disebut sissi’. Yaitu efek langsung yang dapat dirasakan pengguna ketika membawa besi tersebut. Ada besi yang memang didesain untuk penjaga rumah, untuk bertarung, untuk merantau, untuk berdagang dan sebagainya.

Selain sissi’ dan pamor besi, lelaki bugis juga memperhatikan kesesuaian ukuran besi dengan proporsi tubuhnya. Untuk mengukur hal itu, dipakai teknik massuke dengan berbagai variasinya. Bila dilihat dari ukuran panjang besi dari ujung hingga ke gagang, suke yang sering digunakan adalah dua jari, atau empat jari, atau hitungan jempol. Ukuran yang dianggap ideal adalah satu jengkal untuk badik atau sepanjang (maaf) kelamin pria. Sepanjang lengan atas dan bawah untuk parang dan alameng. Dan sesiku untuk keris.

Ada juga teknik massuke dengan menggunakan daun. Lidi dan kain, juga dipakai sebagai teknik massuke untuk mengetahui arah geografis (utara,timur,barat dan selatan) penggunaan besi saat bertarung. Dan masih banyak lainnya teknik massuke yang tidak sempat dipaparkan disini.

Biasanya lelaki bugis mendapatkan besi sebagai warisan dari leluhur. Namun, lelaki bugis tidak berhenti hanya dengan menyimpan warisannya. Lelaki bugis selalu tertarik untuk memiliki lebih dari satu besi. Sehingga lama-kelamaan lelaki bugis biasanya memiliki beberapa besi dengan spesifikasi tertentu. Beberapa lelaki bugis ketika hendak keluar rumah, ia berkomunikasi dengan besi-besinya yang dianggap cocok untuk menemaninya, sesuai spesifikasi besi dengan urusannya diluar rumah. Sehingga ia memberi kesempatan untuk “menggilir” besi-besi yang dipakainya.
Untuk senjata besi silakan kunjungi artikel "Terjemah dan Transliterasi Lontara Bessi" "Cara Membersihkan Polobessi" "Pamor dan Sissi pada Polobessi Sulawesi" dan "5 Rahasia Keunggulan Badik dan Parewa Bessi Sulawesi"

Ayam
Orang bugis dulu hingga sekarang sangat gemar dengan ayam. Rumah tiang orang bugis ditinggali dibagian tengah dan dijadikan penyimpanan dibagian atas. Sementara dibagian bawah selalu dijadikan kandang ayam.

Hampir di tiap bawah rumah orang bugis kita temukan Tarata’=tempat bertenggernya ayam dan baka=tempat bertelurnya ayam. Artinya, hampir semua orang bugis memelihara ayam. Ayam ini umumnya untuk dikomsumsi terutama pada acara ritual (maccera), acara keagamaan (lebaran) dan menghormati tamu (menu ayam). Ayam dibiarkan mencari makannya sendiri. Adapun telurnya dimanfaatkan untuk konsumsi seperti kue-kue, menu makanan dan obat kuat dicampur madu asli.

Selain aspek konsumsinya, ayam juga sering dijadikan aduan. Sejak zaman dulu, orang bugis menyukai ayam aduan. Sampai-sampai, adu ayam selalu menjadi acara wajib tiap pesta. Seperti halnya besi, orang bugis sangat memperhatikan sissi dari ayamnya. Sissi dapat dilihat dari bulu (bakka, barumpung, buri dst), proporsi badan ayam, bentuk pial, ekor, kaki, bentuk paruh dan sebagainya. Lelaki bugis juga memperhatikan waktu yang tepat bagi ayamnya untuk duel. Sehingga tidak sembarang waktu ia mengadu ayamnya.

Seiring perkembangan zaman, saat ini populer Manu Gaga atau ayam gagap. Ayam ini tidak dinilai dari kemampuan bertarungnya, atau pada bulunya. Namun pada kualitas suara yang dihasilkan. Baik ayam aduan untuk disabung maupun untuk dipertandingkan suaranya, sama-sama membutuhkan perawatan khusus. Mulai dari pemilihan pakan, mengurut ayam, memandikan, melatih, hingga mengawinkan ayamnya dengan ayam betina yang ideal dalam menurunkan bibit-bibit unggul. Bagi pecinta ayam, proses ini adalah sebuah seni. Ada kenikmatan tersendiri bagi yang bersangkutan. Mungkin bagi orang lain, adalah hal yang membosankan. Namun sekali lagi, hal ini adalah kenikmatan bagi pecintanya.

Biasanya lelaki bugis penggemar ayam, lama kelamaan akan menjadi pengkoleksi ayam. Memiliki beberapa ayam merupakan kesenangan tersendiri. Bagi sesama pengkoleksi ayam, pengetahuan tentang spesifikasi ayam masing-masing menjadi informasi berharga dalam transaksi, pertukaran maupun perkawinan ayam-ayam mereka.Ayam aduan adalah sisi maskulin dan ayam konsumsi adalah sisi feminim.

Pada konteks yang lebih luas, ayam disini juga berarti unggas lain seperti burung perkutut. Selain karena kemerduan suaranya, sebagian lelaki bugis juga memelihara burung perkutut karena sisi mistis yang terkandung didalamnya seperti mencegah pencurian atau kebakaran. Sebagaimana layaknya ayam, perkutut ini juga membutuhkan perawatan ekstra. Kemerduan suara perkutut adalah sisi feminimnya, sedang fungsi mistis perkutut adalah sisi maskulinnya.

Perempuan
Tentu kelelakian seseorang akan dipertanyakan bila tidak memiliki ketertarikan pada perempuan. Bagi lelaki bugis, perempuan memiliki arti yang sangat dalam. Satu sisi, perempuan adalah hal berharga yang harus dijaga dan dianggap siri. Di sisi lain, memiliki beberapa istri adalah salah satu kebanggaan lelaki bugis. hingga muncul plesetan BUGIS= Banyak Uang Gandakan Istri.

Proses menemukan pasangan ini bermakna maskulin. Dalam artian, usaha-usaha dan perjuangan lelaki adalah sesuatu yang sangat dihargai. Hingga muncul prinsip 3A, Akurangsiriseng (ketidakmaluan), Awaraningeng (keberanian) dan Atemmanginggireng (sikap pantang menyerah). Bahwa lelaki bugis, tak boleh malu menyatakan perasaannya pada perempuan yang disenanginya. Citra lelaki bugis akan jatuh jika ia kehilangan keberanian untuk menyatakan cintanya. Dan lelaki bugis akan dianggap pecundang jika ia gampang putus asa dalam mendapatkan cintanya.

Epos Ilagaligo secara singkat mengisahkan perjalan dan perjuangan Sawerigading mendapatkan cinta sejatinya yaitu We Cudai. Dikisahkan bahwa, Sawerigading harus berlayar 40 hari 40 malam. Bertarung melawan 7 bajak laut. Terakhir, harus berperang melawan We Cudai sebelum lamarannya diterima. Itupun, Sawerigading harus menyamar untuk bertemu dengan We Cudai.

Nampaknya, cuplikan kisah cinta Sawerigading dan We Cudai sangat mempengaruhi cara berpikir lelaki bugis. sehingga perjuangan mendapatkan cinta adalah sesuatu yang sangat diapresiasi oleh orang bugis. untuk itu, seorang lelaki bugis dilengkapi berbagai media untuk memudahkan perjuangannya seperti mantra dan gaukeng cenning rara, kawali cappa sikadong dan berbagai media mistis lainnya. Namun tidak melulu di ranah metafisik, di ranah teks, lelaki bugis (tempo dulu) terkenal terampil merayu dalam bahasa sastra yang indah yang hingga kini tersimpan dalam sebuah galigo
Gellang ri wata majekko (kuningan bengkok yang ditarik=pancing=MENG)
Anrena menre’e (makanan khas orang mandar=pisang=LOKA)
Bali ulu bale (lawan kepala ikan=ekor=IKKO)
MENG+LOKA+IKO = saya mau kepada anda
Poligami dizaman dulu merupakan hal wajar. Selain disebabkan aspek politik dan perkembangan generasi (sebab populasi manusia masih sedikit dimasa lalu sementara alam masih banyak yang belum tergarap), juga memiliki banyak istri menyimbolkan kekuatan unsur maskulin seorang lelaki bugis.

Bagan 1
Unsur maskulin dan feminim pada empat hal yang berkaitan dengan lelaki bugis

Bagan 2
Unsur maskulin dan feminim pada empat hal yang berkaitan dengan lelaki bugis

Diantara semua ritual adat bugis, pernikahan adalah ritual yang terlama dan paling rumit. Hal ini tidak lepas dari pentingnya konsepsi keseimbangan aspek maskulin dan feminim dalam paradigma berpikir orang Bugis. Sengkang, 27 september 2012. 03.07 am wita