Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN QALBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN QALBU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 April 2014

Apakah itu Ilmu syariat, hakikat, tarikat dan ma'rifat...?

Apakah itu Ilmu syariat, hakikat, tarikat dan ma'rifat...?Yuk menambah Ilmu agar selamat dari kesesatan...

APA ITU SYARI'AT, TAREQAT, HAKIKAT DAN MA'RIFAT?
Bismillah
Berikut ini saya nukilkan klaim mereka , kaum tasawwuf tentang apa itu istilah2 yang populer di kalangan tasawwuf/Sufi dalam rangka menuju Ma’rifatullah :
Ma’rifatullah, pada intinya adalah mengenal Allah.
Di dalam dunia tasawwuf, ada tahap-tahap yang dilalui :
- Syariat,
- Tariqat,
- Hakikat,
- Ma’rifat.
Pada puncak inilah seorang hamba mengenal pencipta-NYA. Saking mengenalnya maka seolah berpadu. Orang bilang ini, “manunggaling kawulo gusti”. Tapi hendaknya dipahami BERPADU disini tidak berarti melebur menjadi satu hingga muncul “Tuhan adalah Aku, Aku adalah Tuhan” seperti “manunggaling kawulo gusti”-nya Fir’aun beberapa abad sebelum masehi yang lalu.
Berpadu, artinya terdiri dari entitas yang berlainan yang masing-masing punya peran dan fungsi berbeda tetapi rela untuk berpadu. Dalam pada itu keduanya memberi warna dalam bingkai ma’rifatullah yang tegas, yang selama tak dilanggar batas-batasnya maka lukisan itu (hidup dan kehidupan) menjadi indah dalam bingkainya.
Sirkuit Syariat (aturan, peribadatan, praktek, amalan, dsb) –melalui Tariqat (jalan, pencarian, pencapaian, pemahaman) – untuk kemudian mencapai Hakikat (hakiki, kesejatian, absolut) – dan pada akhirnya Ma’rifat (mengenal) adalah stasiun-stasiun yang umum dilewati para sufi. Ujungnya, Allah-nya. Pangkalnya, Allah-nya juga.
Seseorang yang shalatnya benar, rukunnya benar, maka pahamnya benar, maka akan mendapatkan kesejatian yang benar, dan mengenal Allah dengan benar. Hamba yang mengenal Allah dengan benar maka shalatnya pun benar, rukunnya benar, pahamnya benar, dan kesejatian yang didapatinya pun benar.
Itulah Ma’rifatullah, dimana hamba menyadari hak dan kewajibannya kepada Allah, sebagaimana Allah telah memenuhi hak dan kewajiban-NYA kepada hamba-NYA.
Ibaratnya orang akan ke pasar nih. syariat adalah jalan kaki atau naik angkot atau apalah. tarikat adalah jalan yang kita lalui untuk menuju ke pasar tersebut. hakikat adalah dari kejauhan sudah nampak atau sudah terasa hingar bingarnya pasar. makrifat adalah kita sudah berada dalam pasar, melebur dan terlingkupi oleh pasar itu sendiri.
Komentar terhadap perkataan diatas :
Tingkatan syari'at, tarekat, hakikat dan ma'rifat, maka itu adalah istilah2 yang biasa digunakan kalangan tasawwuf atau ahli tarekat/Sufi.
Sebab kalangan ahli tasawwuf dan tarikat itu sendiri ada banyak corak ragamnya. Dari yang kotorannya sedikit hingga yang paling kotor dan rusak.
Namun tidak sedikit di antaranya yang justru sudah menginjak-injak syari'ah itu sendiri serta sulit menghindarkan diri dari khurafat, bid’ah dan fenomena syirik. Bahkan boleh dibilang sudah keluar dari syari'ah Islam yang telah ditetapkan oleh para ulama ahlus sunnah.
Sehingga istilah syari'ah, tarekah, ma'rifat dan hakikat itu hanya sekedar "lips service". Namun pada hakikatnya tidak lain merupakan sebuah pengingkaran dan pelecehan terhadap syari'ah serta merupakan penyimpangan dari manhaj salafus shalih.
Ilmu hakikat ma’rifat adalah ilmu yang mempelajari cara memfanakan diri yaitu cara-cara menyatu secara mutlak dan meniadakan bilangan dan pecahan sehingga tidak di bedakan lagi antara hamba dan Tuhan bahkan semua adalah satu yaitu Tuhan adalah hamba dan hamba adalah Tuhan, tidak dibedakan lagi antara Kholiq (Pencipta) dengan makhluk, sedangkan perintah dan larangan syar’i hanya untuk orang-orang yang masih terhijab yaitu orang yang belum mencapai hakekat kefanaan (hakekat ma’rifat).
Bagi orang hakekat ma’rifat perintah dan larangan adalah sesuatu yang tidak dibedakan sehingga bagi mereka tidak ada lagi ketaatan dan kemaksiatan karena sudah tidak ada lagi siapa yang harus taat dan siapa yang harus ditaati, bahkan seluruh isi al-Qur’an adalah kesyirikan karena masih membedakan antara perintah dan larangan, antara ketaatan dan maksiat, antara yang baik dan yang buruk.
Inilah arti tauhid dan hakekat ma’rifat menurut mereka, sehingga mereka tidak membedakan lagi antara wali Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan musuh Alloh Subhanahu wa Ta’ala , antara orang yang dicintai Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang dimurkai Alloh Subhanahu wa Ta’ala, antara ma’ruf dan munkar, antara muttaqin dan orang durhaka, antara orang yang taat dengan ahli maksiat.
Apabila seseorang memiliki keyakinan yang demikian maka terlepas Islam dari lehernya dan dia telah kafir dengan kekafiran yang nyata walaupun orangnya mengaku telah mencapai hakekat ma’rifat atau mengaku sebagai wali Alloh Subhanahu wa Ta’ala maka mereka adalah wali syetan.
Padahal sebenarnya mereka telah menyatu dengan iblis dan tentaranya, mereka telah menyatu dengan setiap kekafiran, kesyirikan dan kedurhakaan. (Madarij : I/130-134).
Dimana Dipelajari Ilmu Hakekat Ma’rifat?
Ilmu hakekat ma’rifat adanya hanya pada tasawuf dan filsafat atau ajaran kebatinan (batiniyah). Ilmu hakikat ma’rifat tidak ada pada kitab-kitab ahlussunnah wal jama’ah semacam kitab Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Kitab Sunan at-Tirmidzi, Abu Dawud, Annasa’I, Ibnu Majah, dan seluruh ulama’ ahlussunnah wal jama’ah semacam al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik bin Anas, al-Imam Asy-Syafi’I, al-Imam Auza’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam an-Nawawi semuanya tidak pernah mengajarkan ilmu hakekat ma’rifat sebagai mana difahami kelompok sufi.
Ilmu hakekat ma’rifat hanya bisa didapatkan di dalam kitab-kitabnya tokoh-tokoh sufi seperti al-Futuhat al-Fushush, Tarjamul Asywaq, Unaqo’, Maghrib, Mawaqiun Nujum semuanya karya Ibnu Arobi, kitab Insanul Kamil karya al-Jaili, Taiyah karya Ibnul Faridl, kitab at-Thibaqot, al-Jawahir, al-Kibrit, al Ahmar karya Asy Sya’roni, kitab al-Ibriz karya ad Dibagh, kitab al-Jawahim dan ar-rimah karya at-Tijari, kitab Roudlotulqulum karya Hasan Ridwan.
Kalau kalian membaca kitab – kitab tasawuf tersebut kemudian membaca buku – buku karya Abu Sangkan maka akan mendapati kesamaan dan kesambungan benang merahnya.
Mengapa Hanya Pada Ajaran Sufi, Filsafat dan Batiniyah Saja Adanya Ilmu Hakekat Ma’rifat? Karena hanya kelompok sufi yang telah mengajarkan dan membagi muslimin menjadi dua golongan yaitu :
1. Ahli syari’at.
Menurut istilah kelompok sufi, kelompok batiniyah, atau kebatinan, ahli syari’at adalah penganut zhohir atau kulit, atau penganut kertas dan mereka katakan sebagai agamanya (syari’atnya) orang awam.
2. Ahli hakekat ma’rifat.
Ilmu hakekat ma’rifat menurut orang tasawuf adalah ilmu yang berasal dari perasaan, kecintaan, dan hawa nafsu tanpa harus mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah, sedangkan ilmu hakekat menurut islam adalah ilmu yang berasal dari al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman as-Salafush shohih.
Ahli hakekat ma’rifat mengaku menganut batin, penganut daya rasa, orang khusus, karena sudah mengerti batinnya atau intinya al-Quran dan al-Hadist yang hanya diketahui orang – orang sufi saja dan tidak diketahui oleh orang syari’at.
Ibarat buah, orang syari’at adalah orang yang masih di kulit dan orang hakekat ma’rifat adalah orang yang sudah mencapai isi/inti yang sudah lepas dari kulit serta tidak butuh lagi dengan syari’at, orang – orang syari’at adalah orang – orang yang masih terikat oleh hukum – hukum syari’at, masih terikat hukum halal harom, perintah dan larangan, dan masih harus sholat, puasa, zakat, dan haji dan seterusnya.
Sedangkan ahli hakekat ma’rifat sudah bebas dari semua itu. Kemudian mereka, tokoh – tokoh sufi terdahulu membuat thoriqoh sendiri untuk mencapai hakekat ma’rifat yaitu acara riyadloh, tujuan tertinggi dari riyadloh ini sama dengan latihan sholat khusyu’ buatan Abu Sangkan yaitu menyatunya hamba dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau wihdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti.
Setelah mereka mengadakan riyadloh, mereka berkata:
“sekarang kita tidak usah pedulikan perbuatan kita, adapun perintah dan larangan itu hanya untuk orang awam yang masih terkena beban (taklif)”. Terhadap perkataan tokoh sufi ini telah berkata Syaikhul Islam bin Taimiyah Rahimahullah :
“Tidak diragukan lagi dikalangan ahli Ilmu dan iman bahwa ucapan ini adalah puncak kekufuran, melampaui kekufuran yahudi dan nashoro mengingkari sebagian dan mengimani sebagian dan tetap menyakini bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala menetapkan perintah dan larangan bagi mereka”
Beliau juga berkata:
“Barang siapa yang berkeyakinan bisa keluar dari perintah dan larangan syari’at dan tidak berlaku padanya hukum harom maka ia adalah orang yang paling kufur di muka bumi dan tergolong jenis Fir’aun”.
Padahal pembagian ini adalah muhdats, dusta dan kebohongan merupakan kebatilan yang besar karena tidak ada dalil yang menunjukan adanya pembagian muslimin menjadi dua golongan tersebut.
Kalau syari'at diletakkan paling rendah, akan muncul kesan bahwa demi kepentingan tarekah, ma'rifat dan hakikat, syari'ah bisa dikesampingkan. Dan paham seperti ini berbahaya bahkan sesungguhnya merupakan bentuk pengingkaran terhadap agama Islam.
Jadi, jangan sampai ada anggapan bahwa bila orang sudah mencapai derajat hakikat, apalagi ma'rifat, lalu dia bebas boleh tidak shalat, tidak puasa atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari'at itu sendiri.
Kalau ajaran seperti itu, dimana ma'rifat dan hakikat boleh menyalahi syari'ah, maka ketahuilah, ulama2 mereka adalah ulama su' yang tidak lain adalah syetan yang datang merusak ajaran Islam.
Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan
ma'rifat dan hakikat, beliau hanya meninggalkan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan syari'ah.
Dan tidaklah seseorang bisa mencapai derajat ma'rifah dan hakikat, manakala dia meninggalkan syari'ah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membuat garis dgn tangannya, kemudian bersabda :
"Inilah jalan Allah yg lurus", lalu beliau membuat garis2 di kanan dan kirinya kmudian bersabda,"Inilah jalan2 yg sesat, tak satupun jalan2 itu kecuali didalamnya terdapat syaitan yg menyeru kepadanya".[SHAHIH. HR. Ahmad 1/435, ad Darimi 1/72, al Hakim 2/261, al Lalika'i 1/90. Dishahihkan al Albani dlm Dzilalul Jannah (17)].

Jumat, 21 Maret 2014

Tafsir Surat Al-Fatihah


Keutamaan Surat Al-Fatihah
Pertama: Membaca Al-Fatihah Adalah Rukun Shalat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu)
Dalam sabda yang lain beliau mengatakan yang artinya, “Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur’an (surat Al Fatihah) maka shalatnya pincang (khidaaj).” (HR. Muslim)

Makna dari khidaaj adalah kurang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut, “Tidak lengkap”. Berdasarkan hadits ini dan hadits sebelumnya para imam seperti imam Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca Al Fatihah di dalam shalat adalah wajib, tidak sah shalat tanpanya.
Kedua: Al Fatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Al Quran
Dari Abu Sa’id Rafi’ Ibnul Mu’alla radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam Al Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti?” Maka beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar maka aku pun berkata; Wahai Rasulullah, Anda tadi telah bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat paling agung dalam Al Quran?” Maka beliau bersabda, “(surat itu adalah) Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin (surat Al Fatihah), itulah As Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam shalat) serta Al Quran Al ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari, dinukil dari Riyadhush Shalihin cet. Darus Salam, hal. 270)
Penjelasan Tentang Bacaan Ta’awwudz dan Basmalah
Makna bacaan Ta’awwudz
أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Maknanya: “Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan godaan syaitan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.” Syaitan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Syaitan bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan umat manusia. Allah menceritakan sumpah syaitan ini di dalam Al Quran,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُ
“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (yang diberi anugerah keikhlasan).” (QS. Shaad: 82-83)
Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas.
Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,
ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Ini menunjukkan bahwasanya tauhid yang kokoh akan menyisakan kelezatan di dalam hati kaum yang beriman. Yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah orang-orang yang benar-benar memahaminya. Syaitan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً
“Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’aam: 112) (Diringkas dari Syarhu Ma’aani Suuratil Faatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Makna bacaan Basmalah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Maknanya; “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah.” Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki (Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).
Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dengan disertai rasa cinta, takut dan harap. Segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada-Nya. Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah dua nama Allah di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Maknanya adalah Allah memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Akan tetapi Allah hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini (lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 19).
Penjelasan Kandungan Surat
Makna Ayat Pertama
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ
Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.”
Makna Alhamdu adalah pujian kepada Allah karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dan juga karena perbuatan-perbuatanNya yang tidak pernah lepas dari sifat memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Allah senantiasa mengandung hikmah yang sempurna. Pujian yang diberikan oleh seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan dalam dirinya kepada Allah. Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.
Makna dari kata Rabb adalah Murabbi (yang mentarbiyah; pembimbing dan pemelihara). Allahlah Zat yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk tarbiyah. Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya. Selain itu, Allah juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Allah memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.
Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Rabbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Allah satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Allah lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Mereka semua meminta kepada-Nya, baik dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami (lihat Taisir Lathiifil Mannaan, hal. 20).
Makna Ayat Kedua
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
Artinya: “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Ar-Rahman dan Ar-Rahiim adalah nama Allah. Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa Allah memiliki nama-nama yang terindah. Allah ta’ala berfirman,
“Milik Allah nama-nama yang terindah, maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebutnya.” (QS. Al A’raaf: 180)
Setiap nama Allah mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah. Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu: (1) Musyabbihah, (2) Mu’aththilah dan (3) Ahlusunnah wal Jama’ah.
Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat dan mengabaikan sisi penafian keserupaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan). Adapun Mu’aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Allah. Mereka terlalu mengedepankan sisi penafian sehingga terjerumus dalam ta’thil (penolakan). Ahlusunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta’thil. Oleh sebab itu mereka menyucikan Allah tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Inilah akidah yang dipegang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya,
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11) (silakan baca Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan juga ‘Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallahu ta’ala).
Allah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Allah itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Allah sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Allah. Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebagaimana semestinya. Lalu adakah tindakan jahat yang lebih tercela daripada tindakan menolak kandungan nama dan sifat Allah ataupun menyerupakannya dengan makhluk? Di dalam ayat ini Allah menamai diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Di dalamnya terkandung sifat Rahmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Allah tidak serupa persis dengan kasih sayang makhluk.
Makna Ayat Ketiga
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Artinya: “Yang Menguasai pada hari pembalasan.”
Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri. Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.
Yaumid diin adalah hari kiamat. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia. Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Allah. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Allah sajalah yang berkuasa. Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Allah adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Allah jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Allah tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keempat
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”
Maknanya: “Kami hanya menujukan ibadah dan isti’anah (permintaan tolong) kepada-Mu.” Di dalam ayat ini objek kalimat yaitu Iyyaaka diletakkan di depan. Padahal asalnya adalah na’buduka yang artinya Kami menyembah-Mu. Dengan mendahulukan objek kalimat yang seharusnya di belakang menunjukkan adanya pembatasan dan pengkhususan. Artinya ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sehingga makna dari ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Allah terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Allah melarang sesuatu maka itu berarti Allah tidak cinta dan tidak ridha kepadanya. Dengan demikian ibadah itu luas cakupannya. Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahulah berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Allah ta’ala di atas hak hamba-Nya….”
Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Allah dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini. Dan ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Allah (ikhlas). Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Allah ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Seandainya dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka keinginannya untuk melakukan perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang itu tentu tidak akan bisa tercapai.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Kelima
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”
Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Makna Ayat Keenam
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
Artinya: “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.”
Siapakah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah? Di dalam ayat yang lain disebutkan bahwa mereka ini adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih. Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Allah ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengerti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Allah murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Allah ta’ala. Inilah jalan Islam. Islam yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan. Sehingga dengan ayat ini kita kembali tersadar bahwa Islam yang kita peluk selama ini merupakan anugerah nikmat dari Allah ta’ala. Dan untuk bisa menjalani Islam dengan baik maka kita pun sangat membutuhkan sosok teladan yang bisa dijadikan panutan (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 12).
Makna Ayat Ketujuh
غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
Artinya: “Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”
Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya. Sehingga di dalam ayat ini tersimpan motivasi dan dorongan kepada kita supaya menempuh jalan kaum yang shalih. Ayat ini juga memperingatkan kepada kita untuk menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat dan menyimpang (lihat Aisarut Tafaasir, hal. 13 dan Taisir Karimir Rahman hal. 39).
Kesimpulan Isi Surat
Surat yang demikian ringkas ini sesungguhnya telah merangkum berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu di dalam surat-surat yang lain di dalam Al Quran. Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya. Di dalam kata Allah dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya. Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya. Allah telah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi diri-Nya sendiri. Demikian pula Rasul shallallahu’alaihi wa sallam. Maka kewajiban kita adalah mengikuti Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan itu benar-benar dimiliki oleh Allah. Kita mengimani ayat ataupun hadits yang berbicara tentang nama dan sifat Allah sebagaimana adanya, tanpa menolak maknanya ataupun menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rasul. Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas. Dari ayat ini juga bisa ditarik kesimpulan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Allah ta’ala sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Karena pada hakikatnya semua pelaku kebid’ahan maupun penganut ajaran sesat itu pasti menyimpang dari jalan yang lurus; yaitu memahami kebenaran dan mengamalkannya. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan dalam beragama demi Allah ta’ala semata. Ibadah maupun isti’anah, semuanya harus lillaahi ta’aala. Kandungan ini tersimpan di dalam ayat Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (disadur dari Taisir Karimir Rahman, hal. 40).
Allaahu akbar, sungguh menakjubkan isi surat ini. Maka tidak aneh apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai surat paling agung di dalam Al Quran.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari jalan orang yang dimurkai dan sesat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a. Wallahu a’lam bish shawaab.
***
Penyusun: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Cinta, Harap dan Takut kepada Allah

Antara Cinta, Harap dan Takut (Faedah dari Surat Al Fatihah)

Cinta (mahabbah), harap (raja') dan takut (khauf) merupakan tiga landasan seorang mukmin dalam beribadah kepada Rabb-nya. Tidak akan sempurna ibadah seorang mukmin jika tanpa menggabungkan ketiga hal tersebut. Meninggalkan salah satu dari ketiganya dapat menjerumuskan seseorang dalam penyimpangan (sebagaimana yang akan kita lihat nanti). Surat Al-Fatihah yang dinamakan sebagai Ummul-Qur'an (induk Al-Qur'an) pun telah mengisyaratkan tentang ketiga hal di atas.

1. Mahabbah (Cinta)

Tentang cinta, hal ini tercakup dalam ayat kedua dari surat Al-Fatihah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam"

Kita memuji Allah karena segala nikmat yang Ia berikan. Allah lah yang memiliki sifat Al-Mun'im (Maha Memberi Nikmat). Dia yang memberikan nikmat kepada semua hamba-Nya. Merupakan hal yang wajar bila ada seseorang yang berbuat baik atau memberikan sesuatu kepada kita, maka kita memujinya sesuai dengan kadar kebaikan yang diberikannya. Hal tersebut akan mengantarkan pada 'cinta'. Sebab, hati memiliki kecenderungan untuk mencintai setiap orang yang berbuat baik kepadanya, serta membenci orang yang menyakitinya.

Adapun Allah 'Azza wa Jalla, Dia adalah Al-Muhsin (Maha Memberi Kebaikan) dan Al-Mun'im (Maha Memberi Nikmat). Dia-lah yang memberikan segala kebaikan dan nikmat kepada semua makhluk. Sehingga, tidak ada yang lebih pantas untuk dicintai melainkan Allah. Kecintaan kepada Allah tidak boleh ditandingi oleh kecintaan kepada selain-Nya. Seseorang yang mengaku cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka tidak boleh baginya untuk menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam hal ibadah. Dengan sebab itu pulalah mahabbah (cinta) disebut sebagai bentuk ibadah yang agung. Ia akan melahirkan bentuk ibadah yang tulus, tanpa menyekutukan Allah dengan sesembahan lainnya.


2. Raja' (Harap)Poin kedua yang juga menjadi landasan dalam beribadah adalah raja' (harap), yaitu mengharap rahmat dan surga-Nya serta mengharap agar segala amal diterima dan diberi balasan pahala. Hal ini terkandung dalam ayat ketiga dari surat Al-Fatihah.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

"(Rabb) yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"

Karena Allah Maha Penyayang tentulah Ia akan merahmati hamba-Nya. Dengan sebab itu pulalah kita mengharapkan curahan rahmat-Nya. Kita tidak boleh putus asa dari mengharap ampunan dan surga-Nya, meskipun dosa yang kita lakukan sudah tak terhitung banyaknya.


3. Khauf (Takut atau Cemas)

Maksud khauf (takut) di sini adalah takut kepada Allah, takut kepada adzab-Nya, cemas atau khawatir jika amal tidak diterima oleh Allah. Hal ini terkandung dalam ayat keempat dari surat Al-Fatihah.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

"Yang menguasai hari pembalasan"

Di dalam ayat tersebut di atas, terdapat unsur "menakuti-nakuti" akan datangnya sebuah hari pembalasan. Hari di mana semua amal akan diperhitungkan dan dibalas. Semua pelaku keburukan akan dihinakan pada hari tersebut. Tidak ada yang dapat lolos dari perhitungan dan pembalasan Allah. Dengan demikian, unsur khauf tercakup dalam ayat ini.


Kenapa Harus Memiliki Ketiganya?

Ketiga hal yang disebutkan di atas merupakan pokok / landasan dalam beribadah. Barangsiapa yang hanya mengambil salah satu atau sebagian saja dari ketiga unsur di atas maka ia telah terjatuh dalam kesalahan. Ada sebagian orang yang berkata, "Kami beribadah bukan karena takut api neraka, bukan pula karena mengharap surga-Nya, namun kami beribadah semata karena cinta kepada-Nya."

Pernyataan di atas tidaklah tepat. Karena, para Rasul dan Malaikat yang merupakan makhluk mulia saja tetap memiliki rasa takut dan harap kepada Allah, tidak semata karena cinta. Termasuk 'Uzair, Nabi Isa dan ibunya (Maryam) yang mereka disembah oleh kaum musyrikin, mereka pun beribadah kepada Allah karena mengharap rahmat dan takut akan adzab-Nya.

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

"..Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." [QS Al-Anbiya': 90]

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka (yaitu Nabi Isa, para malaikat dan 'Uzair) yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." [QS Al-Isra': 57]

Demikian pula, jika seseorang hanya beribadah semata berlandaskan raja' (harap), maka dikhawatirkan ia terjatuh dalam paham murji'ah. Mereka tidak takut terjatuh dalam dosa dan maksiat. Mereka berkata, "Iman itu hanya sebatas membenarkan dengan hati, atau sebatas membenarkan dengan hati dan diucapkan dengan lisan". Mereka mengeluarkan amal perbuatan dari definisi iman. Mereka berkeyakinan bahwa iman mereka tidak akan berkurang dikarenakan perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan. Padahal, iman itu seharusnya mencakup keyakinan di dalam hati, diucapkan dengan lisan, serta diimplementasikan dalam bentuk amal perbuatan. Tidak cukup hanya salah satunya saja. Seharusnya pulalah bagi kita untuk tidak merasa aman dengan keadaan kita sekarang, dan terus memperbarui iman. Sebab, demikianlah keadaan iman anak manusia, kadang naik dan kadang pula turun (sungguh amat berbeda dengan anggapan golongan murji'ah).

Sebagian golongan yang lain, mereka beribadah semata berlandaskan khauf (takut) saja. Mereka hanya mengambil dalil-dalil nash tentang ancaman saja, mereka mengabaikan dalil-dalil tentang janji, ampunan dan rahmat dari Allah. Hal ini dijumpai pada golongan khawarij. Mereka dengan mudahnya mengkafirkan seorang muslim yang melakukan dosa besar, tanpa memperhatikan dalil lainnya yang memalingkan dari hukum kafir tersebut.

Dalam keseharian, mungkin sering juga kita jumpai orang yang terjatuh dalam kesalahan yang mirip namun dengan kadar yang lebih ringan. Misalnya, orang yang sudah terjatuh pada kubangan dosa dan merasa "putus asa" Allah tidak akan mengampuninya. Maka orang ini telah mengabaikan komponen raja', yaitu senantiasa berharap dan meyakini bahwa Allah Maha Pengampun.

Contoh lain, ada orang yang dengan mudahnya melakukan dosa lantas berkata, "Allah kan Maha Pengampun, pasti Dia akan mengampuni dosaku kelak, jadi tidak mengapalah sekarang melakukan dosa". Orang seperti ini juga telah melakukan kesalahan dengan meremehkan adzab Allah, tidak ada rasa takut dan cemas di hati terhadap segala dosa yang ia lakukan.

Dengan demikian, jalan yang benar tentulah dengan menggabungkan ketiga unsur di atas. Itulah jalannya kaum mukmin, dan itulah tauhid.

WaLlahu a'lam..


---
Disadur dari salinan kitab Syarh Ba'dhu Fawa'idi Surah Al-Fatihah oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin AbduLlah Al-Fauzan (Penerbit: Dar Al-Imam Ahmad, 1427H / 2006M)

Minggu, 09 Februari 2014

Dimana Allah SWT ?

Para Ulama Salaf Ahlus Sunnah wal Jama'ah Sepakat ALLAH Ada di Atas Langit Bersemayam di Atas 'Arsy-Nya

Pertama: Abdullah bin Mas'ud

وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: "ما بين السماء القصوى والكرسي خمسمائة عام، ويبن الكرسي والماء كذلك، والعرش فوق الماء والله فوق العرش، ولا يخفى عليه شيء من أعمالكم"

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Di antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah lima ratus tahun, dan di antara kursi dengan air juga demikian. 'Arasy di atas air dan Allah di atas 'Arasy, dan tidak sesuatupun yang tersembunyi atas-Nya dari amal perbuatan kalian."

Dikeluarkan Oleh:

1. Al-Lalika'i, Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah Wal Jamaah, 3/395-396, no: 659. 2. Al-Baihaqi, Al-Asma' Was Sifat, 2/186-187. 3. Ad-Darimi, Ar-Raddu Al-Jahmiyyah, 275. 4. Ibn Khuzaimah, At-Tauhid, 1/242-243, no: 149. 5. Al-Thabrani, Mu'jam al-Kabir, 9/228. 6. Abu al-Syeikh, Al-Azhamah, 2/688-689, no: 279. 7. Ibn Abdil Barr, At-Tamhid, 7/... 8. Ibn Qudamah Itsbat Sifat Al-Uluw, 104-105, no: 75. 9. Al-Dzahabi, Al-Uluw, 64, katanya sanadnya sahih. 10. Ibn Qayyim al-Jauzi, Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, 122. 11. Al-Haitsami, Majma' Az-Zawa'id, 1/86, katanya perawi-perawinya adalah sahih.

Kedua: Ka'ab Al-Ahbar

قال: "قال الله في التوراة: أنا الله فوق عبادي، وعرشي فوق خلقي، وأنا على عرشي، أدبر أمر عبادي، ولا يخفى علي شيء في السماء، ولا في الأرض"

Ka'ab berkata, Allah berfirman di dalam Taurat, "Aku Allah di atas hamba-hamba-Ku, 'Arasy-Ku di atas makhluk-makhluk-Ku, dan Aku di atas 'Arasy mengatur semua urusan hamba-hamba-Ku. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Ku dan tidak juga di bumi."

- Dikeluarkan Oleh:

1. Abu al-Syeikh, Al-Azhamah, 2/625-626, no: 244. 2. Ibn Baththah, Al-Ibanah, 3/185-186, no: 137. 3. Abu Nu'aim, Al-Hilyah, 6/7. 4. Abu Ya'la, Ibthal At-Ta'wilat, 149. 5. Abdul Qadir al-Jailani, Al-Ghunyah Li Thalibi Thariq Al-Haq, 1/57. 6. Al-Dzahabi, Al-Uluw, 92, katanya perawi-perawinya tsiqah. 7. Ibn Qayyim al-Jauzi, Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, 129 & 260, pada nombor 129 ia berkata diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dengan sanad sahih dari Ka'ab.

Ketiga: Abdullah bin Mubarak (181 H)

ثبت عن علي بن الحسن بن شقيق، شيخ البخاري، قال: قلت لعبد الله ابن المبارك كيف نعرف ربنا؟ قال: "في السماء السابعة على عرشه". وفي لفظ "على السماء السابعة على عرشه، ولا نقول كما تقول الجهمية إنه هاهنا في الأرض". وقال أيضاً: سألت ابن المبارك: كيف ينبغي لنا أن نعرف ربنا؟. قال: "على السماء السابعة، على عرشه، ولا نقول كما تقول الجهمية إنه هاهنا في الأرض"

Dari Ali Ibnul Hasan bin Syaqiq guru Imam Bukhari, dia berkata, "Saya pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?" katanya, "Di langit ke tujuh di atas 'Arasy-Nya." Dalam lafaz lain, "Di atas langit ke tujuh di atas 'Arasy-Nya, dan kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan Jahmiyah bahawasanya Allah di sini, di bumi."

Ali juga berkata, "Saya pernah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, bagaimana seharusnya kita mengenali Tuhan kita?" Dia menjawab, "Di atas langit yang ke tujuh, di atas 'Arasy-Nya, dan kita tidak mengatakan sebagaimana Jahmiyah berkata bahawasanya Allah ada di bumi ini."

- Dikeluarkan Oleh:

1. Bukhari, Khalqu Af'al 'Ibad, 8. 2. Ad-Darimi, Ar-Raddu 'Ala Al-Marisi, 103. 3. Ar-Raddu 'Ala Al-Jahmiyah, 50. 4. Abdullah bin Imam Ahmad, As-Sunnah, 1/111, no: 22 & 1/174-176, no: 216. 5. Ibn Baththah, Al-Ibanah, 3/155-156, no: 112. 6. Ibn Mandah, At-Tauhid, 3/308, no: 899. 7. As-Shabuni, Aqidah As-Salaf, 20, no: 28. 8. Al-Baihaqi, Al-Asma' Wa As-Sifat, 2/336, no: 903. 9. Ibn Abdil Barr, At-Tamhid, 7/142. 10. Ibn Qudamah, Itsbat Sifat Al-Uluw, 117-118, no: 99 & 100. 11. Ibn Taimiyyah, Dar-u Ta'arud Al-'Aql wa an-Naql, 6/264, Al-Fatawa Al-Hamawiyah, 91. 12. Al-Dzahabi, Al-Uluw, 110, Siyar A'lam An-Nubala', 8/402, Al-Arba'in, 40, no: 10, Al-'Arasy, 2/187, no: 161-162. 13. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, 134-135, katanya diriwayatkan oleh Ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dengan sanad yang paling sahih kepada Ali Ibnul Hasan bin Syaqiq.

Keempat: Ashbagh Ibnul Al-Faraj Al-Maliki (225 H)

"وهو مستو على عرشه وبكل مكان علمه وإحاطته"

Ashbagh berkata: "Allah beristiwa' di atas 'ArasyNya, dan ilmuNya serta jangkauanNya ada di setiap tempat."

- Lihat: Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah oleh Ibnul Qayyim, halaman 142 dan Tahzib Sunan Abu Daud, 7/102. Ashbagh Ibnul Faraj bin Sa'id bin Nafi' merupakan seorang ahli fiqh di antara ulama besar mazhab Maliki di Mesir. Biografinya boleh lihat dalam Wafayat Al-A'yan (1/79) dan Al-A'lam (1/333).

Kelima: Hammad bin Hannad (230 H)

قال: "هذا ما رأينا عليه أهل الأمصار وما دلت عليه مذاهبهم فيه، وإيضاح مناهج العلماء وطرق الفقهاء، وصفة السنة وأهلها أن الله فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه وعلمه وقدرته وسلطانه بكل مكان"

Hammad berkata: "Inilah keyakinan ulama-ulama di seluruh pelusuk dunia dan ditunjukkan oleh pandangan-pandangan mazhab mereka, menjelaskan manhaj para ulama' dan jalan ahli fiqh dan merupakan sifat As-Sunnah; bahawa Allah di atas langit yang ke tujuh di atas 'ArasyNya, terpisah dari hamba-hambaNya. IlmuNya, kuasaNya dan kekuasaanNya di setiap tempat."

- Lihat: Al-Uluw oleh Az-Dzahabi, halaman 151, dan Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah oleh Ibnul Qayyim, halaman 242.

Keenam: Ahmad bin Nashr Al-Khuza'I (231 H)

قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه: قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال: "علم الله معنا وهو على عرشه"

Berkata Ibrahim Al-Harbi berdasarkan riwayat yang sahih darinya, berkata Ahmad bin Nashr ketika beliau ditanya tentang ilmu Allah: "Ilmu Allah bersama kita sedangkan Allah di atas 'Arasy-Nya."

- Lihat: Al-Uluw oleh Az-Dzahabi, halaman 128. Ahmad bin Nashr bin Malik Al-Khuza'I seorang yang tsiqah (terpecaya). Ia dibunuh sebagai seorang syahid tahun 231 H di waktu pemerintahan khalifah Al-Watsiq kerana beliau tidak mahu mengatakan Al-Quran itu makhluk. Biografinya boleh dilihat dalam Siyar A'lam An-Nubala (11/166) dan Tahzib At-Tahzib (1/87).

Ketujuh: Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)

قال يوسف بن موسى القطان: وقيل لأبي عبد الله: الله فوق السماء السابعة على عرشه، بائن من خلقه، وعلمه وقدرته بكل مكان. قال: "نعم"

Berkata Yusuf Ibnul Qatthan: "Dikatakan kepada Abu Abdillah, Allah di atas langit ketujuh di atas 'Arasy-Nya, terpisah dengan makhlukNya, dan ilmuNya serta kuasaNya di setiap tempat?" Jawabnya: "Ya." (Dikeluarkan oleh Ibn Batthah dalam Al-Ibanah (3/159), no: 115)

قال أحمد بن حنبل رحمه الله في كتاب "الرد على الجهمية" مما جمعه ورواه عبد الله ابنه عنه: "باب بيان ما أنكرت الجهمية أن يكون الله على العرش، قلت لهم: أنكرتم أن يكون الله على العرش، وقد قال {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}؟ فقالوا: هو تحت الأرض السابعة، كما هو على العرش، وفي السموات والأرض. فقلنا: قد عرف المسلمون أماكن كثيرة ليس فيها من عظمة الرب شيء، أجسامكم وأجوافكم والأماكن القذرة ليس فيها من عظمته شيء، وقد أخبرنا عز وجل أنه في السماء فقال تعالى {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِباً} {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ}، {إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ}، {بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ}، {يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ}، فقد أخبرنا سبحانه أنه في السماء"

Imam Ahmad berkata di dalam kitab Ar-Raddu 'Ala Al-Jahmiyyah, yang mana dihimpunkan dan diriwayatkan dari anaknya iaitu Abdullah: "Tentang apa yang diingkari oleh Al-Jahmiyyah bahawa Allah berada di atas 'Arasy, saya katakan kepada mereka: "Kamu mengingkari Allah berada di atas 'Arasy, padahal Allah telah berfirman:

"Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arasy." (Thaha: 5)

Mereka mengatakan: "Dia di bawah bumi ketujuh sebagaimana Dia di atas 'Arasy, (iaitu) di langit dan di bumi." Maka kami katakan: "Kaum muslimin telah mengetahui banyak tempat yang sama sekali tidak memberikan citra keagungan bagi Allah, seperti tubuh kamu, perut kamu dan tempat-tempat kotor dan najis yang sama sekali tidak ada keagungan bagiNya. Padahal Allah telah mengkhabarkan kepada kita dalam firmanNya:

"Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit bahawa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kalian, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang. Ataukah kalian meresa aman terhadap Tuhan yang di langit bahawa Dia akan menghantarkan badai yang berbatu. Maka kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku." (Al-Mulk: 16-17) "KepadaNya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal soleh yang dinaikkanNya." (Fathir: 10) "…Sesungguhnya Aku akan mematikanmu dan mengangkatmu kepadaKu." (Ali-Imran: 55) "Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka…" (An-Nahl: 50)

Allah telah mengkhabarkan kepada kita bahawa Dia di atas langit."

- Lihat Ar-Raddu Al-Jahmiyyah, halaman 92-93, Az-Dzahabi menyebutkan di dalam Al-Arasy (2/250-251), no: 224, dan Ibnul Qayyim dalam Ijtima' Al-Juyusy, halaman 201-202.

Kelapan: Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (243 H)

قال: "وأما قوله تعالى {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} {وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ} {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} {إِذاً لابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلاً} {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ} هذا يوجب أنه فوق العرش فوق الأشياء كلها متنزه عن الدخول في خلقه لايخفى عليه منهم خافية لأنه أبان في هذه الآيات أنه أراد أنه بنفسه فوق عباده؛ لأنه قال: {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ} يعني فوق العرش، والعرش على السماء لأن من قد كان فوق كل شيء على السماء، في السماء وقد قال {فَسِيحُوا فِي الأَرْضِ}يعني علي الأرض لايريد الدخول في جوفها...."

Dia berkata: Adapun firman Allah: "Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arasy" (Thaha: 5) "Dan Dialah yang berkuasa di atas sekalian hamba-hambaNya." (Al-An'am: 18) "Nescaya tuhan-tuhan itu akan mencari jalan kepada Tuhan yang memiliki 'Arasy." (Al-Israa: 42) "KepadaNya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal soleh yang dinaikkanNya." (Fathir: 10)

Semua ini mewajibkan bahawasanya Allah di atas 'Arasy di atas segala sesuatu, disucikan dari bertempat pada makhlukNya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari padaNya kerana Allah menjelaskan di dalam ayat-ayat ini bahawa Dia berkehendak dengan diriNya di atas semua hamba-hambaNya, kerana Dia berfirman: "Apakah kalian meresa aman terhadap Allah yang di langit bahawa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kalian." (Al-Mulk: 16)

Maknanya di atas 'Arasy, dan 'Arasy adalah di atas langit, kerana Allah yang berada di atas segala sesuatu di atas langit. Dia telah berfirman: "Maka berjalanlah di bumi.." Ertinya di atas bumi yang Dia tidak ingin masuk di dalamnya."

- Lihat: Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, halaman 272. Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi dikenali sebagai seorang sufi. Antara kitabnya yang terkenal dalam menulis masalah tasawwuf ialah Ar-Ri'ayah li Huquqillah dan Risalah Al-Murtarsyidin. Biografinya boleh dilihat di dalam Tarikh Al-Baghdadi (8/211) dan Siyar A'lam An-Nubala' (12/110).

Kesembilan: Abdul Wahab bin Abdul Hakam Al-Warraq (251 H)

Abdul Wahab bin Abdul Hakam Al-Warraq ketika diriwayatkan hadis Ibnu Abbas yang mengatakan Jarak antara langit ketujuh dengan kursi Allah adalah tujuh ribu cahaya, dan Dia di atas semua itu. Beliau berkata:

"من زعم أن الله ههنا فهو جهمي خبيث، إن الله فوق العرش، وعلمه محيط بالدنيا والآخرة"

"Barang siapa yang menyangka bahawa Allah di sini (di bumi), maka dia adalah seorang Jahmiyyah yang keji. Allah berada di atas 'Arasy dan ilmuNya melingkupi dunia dan akhirat."

- Lihat: Al-Uluw (halaman 142) dan Al-'Arasy (2/253) no: 226 oleh Az-Dzahabi dan Ijtima' Al-Juyusy, halaman 232 dan Ibnul Qayyim mengatakan riwayat ini sahih. Abdul Wahab bin Abdul Hakam bin Nafi' An-Nasa'I pernah bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal serta berguru dengannya. Beliau seorang yang soleh, wara' dan zuhud. Biografinya boleh dilihat di dalam Thabaqat Al-Hanabilah (1/209-212) dan Taqrib At-Tahzib, halaman 633.
Kesepuluh: Yahya bin Mu'az Ar-Razi (258 H)

قال: "الله تعالى على العرش، بائن من الخلق، قد أحاط بكل شيء علماً، وأحصى كل شيء عدداً، ولا يشك في هذه المقالة إلا جهمي رديء ضليل هالك مرتاب، يمزج الله بخلقه ويخلط الذات بالأقذار والأنتان"

Yahya berkata: "Allah Ta'ala di atas 'Arasy, terpisah dari hamba-hambaNya. Allah telah meliputi segala sesuatu dengan ilmuNya dan telah menghitung segala sesuatu. Tidak ada yang ragu terhadap pendangan ini kecuali dia adalah seorang Jahmiyyah yang busuk, sesat, binasa dan ragu-ragu kerana dia mencampuradukkan Allah dengan makhlukNya dan membaurkan Zat-Nya dengan kotoran dan benda-benda busuk."

- Lihat: Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, halaman 270 dan Majmu' Al-Fatawa (5/49). Yahya bin Mu'az Ar-Razi seorang penyampai nasihat yang baik sebagaimana disebutkan oleh Abul Qasim al-Qusyairi di dalam Ar-Risalah. Beliau wafat di Nisabur. Lihat Wafayat Al-A'yan (6/165).

Kesebelas: Muhammad bin Yahya Az-Dzahali (258 H)

سئل محمد بن يحي عن حديث عبد الله بن معاوية عن النبي صلى الله عليه وسلم: "ليعلم العبد أن الله معه حيث ما كان" (رواه الطبراني في الصغير ص 115)، فقال: "يريد أن الله علمه محيط بكل مكان والله على العرش"

Muhammad bin Yahya pernah ditanya tentang hadis Abdullah bin Mu'awiyah yang diriwayatkannya dari Nabi sallallahu 'alaihi wasallam: "Hendaklah hamba mengetahui bahawasanya Allah bersama dengannya dimanapun dia berada." (Hadis riwayat Thabrani di dalam Al-Mu'jam Ash-Shaghir, 115) Maka ia menjawab: "Maksud hadis itu adalah bahawa ilmu Allah meliputi semua tempat sedangkan Allah di atas 'Arasy."

- Lihat: Al-Uluw oleh Az-Dzahabi, halaman 136. Muhammad bin Yahya bin Abdullah bin Khalid bin Faris bin Zu'aib Ad-Dzahali an-Nisaburi as-Zuhri, seorang yang tsiqah, penghafal yang baik, peribadinya agung dari thabaqah kesebelas. Ia wafat ketika berumur 85 tahun. Biografi beliau boleh dilihat di dalam Taqrib At-Tahzib, halaman 907 dan Siyar A'lam An-Nubala (12/273).

Kedua Belas: Al-Muzani (264 H)

قال: "الحمد لله أحق من ذكر وأولى من شكر... إلى أن قال.. علا على عرشه في مجده بذاته، وهو دان بعلمه من خلقه، أحاط علمه بالأمور..."

Al-Muzani berkata: "Segala puji bagi Allah tuhan yang paling hak diingat dan disebut, dan Tuhan yang paling utama disyukuri... Allah di atas 'ArasyNya dalam segala keagunganNya dengan ZatNya, Dia dekat dengan ilmuNya dari hamba-hambaNya, ilmuNya meliputi segala sesuatu..." (Lihat: Syarah As-Sunnah oleh Al-Muzani, halaman 75.)

Ketiga Belas: Abu Hatim Ar-Razi (277 H) dan Abu Zur'ah Ar-Razi (264 H)

Abdurrahman bin Abi Hatim pernah bertanya kepada Abu Hatim dan Abu Zur'ah tentang mazhab Ahlus Sunnah dalam masalah aqidah dan apa yang mereka dapatkan dari para ulama di setiap tempat, serta apa yang mereka sendiri yakini. Maka, mereka berkata:

"أدركنا العلماء في جميع الأمصار، حجازاً، وعراقاً، ومصراً، وشاماً، ويمناً، وكان من مذهبهم أن الله على عرشه بائن من خلقه كما وصف نفسه بلا كيف، أحاط بكل شيء علماً"

"Kami mendapati seluruh ulama di Hijaz, Iraq, Mesir Syam, dan Yaman meyakini bahawa Allah di atas 'ArasyNya terpisah dari hamba-hambaNya sebagaimana Allah mensifati diriNya tanpa menentukan cara dan bentuknya, dan ilmuNya meliputi segala sesuatu." (Lihat: Syarah Usul I'tiqad Ahli Sunnah Wal Jama'ah (1/176-179), no: 321)

Keempat Belas: 'Utsman bin Sa'id Ad-Darimi (280 H)

Utsman berkata dalam kitabnya:

"قد اتفقت الكلمة من المسلمين، أن الله بكماله فوق عرشه، فوق سمواته"

"Kaum muslimin telah sepakat bahawa Allah dengan segala kesempurnaanNya di atas 'ArasyNya, di atas langit-langitNya." (Lihat: Ar-Raddu 'Ala Bisyr Al-Marisi, halamn 408)

"وقال أهل السنة: إن الله بكماله فوق عرشه، يعلم ويسمع من فوق العرش، لا يخفى عليه خافية من خلقه، ولا يحجبهم عنه شيء"

Di tempat lain beliau berkata: "Ahlus Sunnah berkata "Allah dengan segala kesempurnaanNya di atas 'ArasyNya, mengetahui dan mendengar dari atas 'Arasy, tidak ada sesuatu pun dari hamba-hambaNya yang tersembunyi daripadaNya, dan tidak ada yang dapat menghalangiNya dari mereka." (Lihat: Ar-Raddu 'Ala Bisyr Al-Marisi, halaman 438. Ar-Raddu 'Ala Al-Jahmiyyah, halaman 268. Dan Al-'Arasy (2/260), no: 230)

Kelima Belas: Zakaria bin Yahya As-Saji (307 H)

قال: "القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث، إن الله تعالى على عرشه، في سمائه، يقرب من خلقه كيف شاء"

Zakaria berkata: Pandangan dalam As-Sunnah yang saya lihat pada sahabat-sahabat kami Ahlul Hadis, bahawasanya Allah di atas 'ArasyNya di langitNya, dekat dari hamba-hambaNya sebagaimana yang dikehendakiNya." (Lihat: Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, halaman 245-246. Al-'Uluw, halaman 150 dan Al-'Arasy (2/278), no: 240)

Keenam Belas: Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari (329 H)

Al-Hasan berkata:

"وهو جل ثناؤه واحد ليس كمثله شئ وهو السميع البصير، ربنا أول بلا متى وآخر بلا منتهى، يعلم السر وأخفى، وعلى عرشه استوى، وعلمه بكل مكان، لايخلو من علمه مكان"

"Allah Yang Maha agung adalah Esa, tidak ada sesuatu pun yang sama denganNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tuhan kita adalah permulaan tenpa menentukan 'bila'? Dia adalah Yang Akhir tanpa kesudahan. Dia mengetahui rahsia apa yang tersembunyi, bersemayam di atas 'ArasyNya. ilmuNya (pengetahuanNya) ada di setiap tempat, tidak ada sesuatu tempat pun yang sunyi dari pengetahuanNya."

- Lihat: Syarah As-Sunnah oleh Al-Barbahari, halaman 71. Al-Barbahari ialah seorang Imam dan Hafiz dan seorang ulama dalam mazhab Hanbali di Baghdad. Terkenal dengan sikapnya yang tegas terhadap As-Sunnah. Lihat biografinya dalam Thabaqat Al-Hanabilah, jilid 2, halaman 18-45.

Ketujuh Belas: Ibn Abi Zaid Al-Qairawani (386 H)

قال الإمام أبو محمد بن أبي زيد المالكي المغربي في رسالته في مذهب مالك، أولها: "وأنه فوق عرشه المجيد بذاته، وأنه في كل مكان بعلمه"

Berkata Imam Abu Muhammad bin Abi Zaid Al-Maliki di dalam risalahnya tentang Mazhab Imam Malik: "Sesungguhnya Allah di atas 'ArasyNya yang Maha agung dengan ZatNya dan bahawasanya ilmuNya di setiap tempat." (Lihat: Risalah Al-Qairawani, halaman 4 dan Al-'Uluw, halaman 171)

وقال في كتابه المفرد في السنة: "وأنه فوق سمواته على عرشه دون أرضه وأنه في كل مكان بعلمه"

Dalam kitab Al-Mufrad ia berkata: "Sesungguhnya Allah di atas langitNya di atas 'ArasyNya bukan di bumiNya, dan bahawa Dia di setiap tempat dengan ilmuNya." (Lihat: Al-Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, halaman 151)

Kelapan Belas: Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamnain (399 H)

قال محمد بن عبد الله: "ومن قول أهل السنة إن الله عز وجل خلق العرش واختصه بالعلو والارتفاع فوق جميع ما خلق ثم استوى عليه كيف شاء كما أخبر عن نفسه في قوله {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}... فسبحان من بعد فلا يرى، وقرب بعلمه وقدرته فسمع النجوى"

Muhammad bin Abdillah berkata: "Di antara pandangan Ahlus Sunnah adalah bahawasanya Allah menciptakan 'Arasy dan mengkhususkannya untuk ketinggianNya di atas makhluk-makhlukNya. Kemudian Dia bersemayam di atasNya sebagaimana yang Dia kehendaki, seperti yang Dia khabarkan tentang diriNya di dalam firmanNya: "Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arasy." Maka Maha Suci Allah yang jauh sehigga tidak dapat dilihat, dan dekat dengan ilmuNya dan kuasaNya sehingga mendengar bisikan rahsia sekalipun."

- Lihat: Riyadh Al-Jannah Bi Takhrij Usul Sunnah, halaman 88. Biografi Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Isa al-Mariy Al-Andalusi boleh dilihat dalam Al-Wafi Bi Al-Wafayat (2/321) dan Syadzarat Az-Dzahab (3/156). Beliau seorang yang bermazhab Maliki terkenal dengan gelarannya Ibn Zamnain.

Kesembilan Belas: Abu Bakar Al-Baqilani (403 H)

قال أبو بكر محمد بن الطيب الباقلاني في كتاب "الإبانة": "فإن قيل: هل تقولون إنه في كل مكان؟؛ قيل له: معاذ الله، بل هو مستو على عرشه، كما أخبر في كتابه وقال {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}، وقال {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ}، وقال: {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ}، ولو كان في كل مكان، لكان في بطن الإنسان، وفمه، والحشوش، ولوجب أن يزيد بزيادات الأماكن، إذا خلق منها ما لم يكن، ولصح أن يرغب إليه إلى نحو الأرض، وإلى خلفنا، وإلى يميننا، وشمالنا، وهذا قد أجمع المسلمون على خلافه وتخطئة قائله"

Abu Bakar berkata dalam kitab Al-Ibanah: "Jika ada yang bertanya, apakah kalian berpandangan bahawasanya Allah ada di setiap tempat, maka jawablah, aku berlindung kepada Allah dari pandangan seperti itu. Bahkan Dia bersemayam di atas'ArasyNya, sebagaimana yang Dia khabarkan di dalam kitabNya: "Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arasy," "KepadaNya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal soleh yang dinaikkanNya," "Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit." Kalaulah Dia di setiap tempat, nescaya juga berada di dalam perut dan mulut manusia, perut binatang, serta akan bertambah dengan tambahannya tempat. Kita juga nescaya akan menghadap kepadaNya (dalam solat dan doa) ke setiap arah bumi, ke arah belakang kita, ke sebelah kanan atau sebelah kiri dan kaum muslimin telah ijma' (sepakat) menentang pandangan ini dan menyalahi orang yang mengatakannya." (Lihat: Al-'Arasy oleh Az-Dzahabi (2/338), no: 261 begitu juga secara ringkas disebutkan di dalam Siyar A'lam An-Nubala', jilid 17, halaman 558-559)

Kedua Puluh: Al-Lalika'I (418 H)

قال الإمام أبو القاسم هبة الله بن الحسن الشافعي، في كتاب شرح أصول السنة له: "سياق ما روي في قوله {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}، وأن الله على عرشه في السماء، قال عزوجل {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ}، وقال {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ}، وقال {وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ}، قال: فدلت هذه الآيات أنه في السماء وعلمه محيط بكل مكان"

Berkata Al-Imam Abul Qasim Hibatallah bin Al-Hasan As-Syafi'I, dalam kitab Syarah Usul As-Sunnahnya: "Rangkaian apa yang difirmankan oleh Allah "Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arasy," Dan bahawa Allah di atas 'ArasyNya di langit, firman Allah "KepadaNya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal soleh yang dinaikkanNya," Dan firmanNya lagi "Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di langit." Dan firmanNya lagi "Dan Dia berkuasa di atas hamba-hambaNya." Al-Lalika'I berkata: "Maka semua ayat ini menunjukkan bahawasanya Allah di langit dan ilmuNya meliputi setiap tempat."

- Lihat: Syarah Usul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, jilid 3, halaman 387-388. Al-Lalika'I adalah seorang ulama' bermazhab As-Syafi'i, seorang Imam dan Hafiz. Dia menulis kitab Syarah I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menjadi rujukan paling penting berkenaan akidah Ahli Sunnah. Biografinya boleh dilihat di dalam Tarikh Baghdad (14/70), dan Siyar A'lam An-Nubala' (17/419).

[Dinukilkan dari kitab Al-Atsaru Al-Mar'wiyah Fi Sifatu Al-Ma'iyyah karangan Dr. Muhammad Khalifah Ali At-Tamimi].
Tanya Jawab Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Dimana Allah ?

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya berkata, “Sesungguhnya Alloh itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiallohu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Segala puji bagi Alloh, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”

Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Alloh telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Alloh itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Alloh tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Alloh tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Alloh tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Alloh tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Alloh tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: “Di mana Alloh?” Budak tersebut menjawab, “(Alloh) di atas langit.” Akan tetapi bukan berarti maknanya Alloh berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Alloh berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Alloh dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata setelah penjelasan yang panjang, Orang yang mengatakan, “Barang siapa tidak meyakini Alloh di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Alloh itu di dalam lingkup langit sehingga Alloh terbatasi dan diliputi langit” maka perkataannya itu keliru. Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Alloh berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya- maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: “Ya Alloh!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil (penolak dan penyeleweng sifat Alloh) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Alloh anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Alloh itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Alloh anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Alloh menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Alloh) Pencipta Yang Maha tinggi. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?”

Kemudian Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

“Itulah fitrah Alloh yang manusia diciptakan berada di atasnya, tidak ada penggantian dalam fitrah Alloh.”

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Alloh berikan kepada mereka, karena Alloh menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah dan untuk memperkuat fitrah bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”

Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Alloh berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Alloh,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”

Barang siapa berbicara tentang Alloh, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Alloh secara batil.

Kebanyakan dari mereka itu menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka katakaberbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”

Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam dia akan menjadi zindiq (baca: sesat).”

Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah/penolak sifat Alloh itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah penyerupa sifat Alloh dengan sifat makhluk itu adalah penyembah arca. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Alloh itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.

Alloh ta’ala berfirman,

وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.”

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

(Majmu’ Fatawa V/256-261)

Sumber: http://www.facebook.com/notes/allah-ada-di-atas-langit-bersemayam-di-atas-arsy-nya/allah-ada-di-atas-langit-bersemayam-di-atas-arsy-nya/166936776668918

Jumat, 07 Februari 2014

wasiat nabi muhammad saw. terhadap kaum perempuan


Telah bersabda Rasulullah SAW maksudnya: “Kebanyakan wanita itu adalah isi Neraka dan kayu apinya.” Sayidatina Aisyah bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW:
  1. Karena kebanyakan perempuan itu tidak sabar dalam menghadapi kesusahan, kesakitan dan cobaan seperti kesakitan waktu melahirkan anak, mendidik anak-anak dan melayani suami serta melakukan kerja-kerja di rumah.
  2. Rasulullah SAW bersabda
    “Wanita, apabila ia sholat lima waktu, puasa sebulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, maka masuklah ia dari mana saja pintu surga yang ia kehendaki.”
    (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani dan Anas bin Malik)
  3. Rasulullah SAW bersabda:
    “Pertama kali urusan yang akan ditanyakan pada hariAkhirat nanti ialah mengenai sholat dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya atau tidak).”
  4. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya kepada Allah sehingga ia menjalankan kewajibannya kepada suaminya. Seandainya suaminya memintanya (untuk digauli) walaupun (dia) sedang berada di belakang unta maka ia tidak boleh menolaknya.
  5. Nabi SAW bersabda:
    ‘Apabila lari wanita dari rumah suaminya, tidak diterima sholatnya sehingga ia kembali dan mengulurkan tangannya kepada suaminya (meminta maaf).”
    (Riwayat dan Hassan)
  6. Abdullah bin Amru bin Al Ash r.a. berkata: ‘Bersabda Rasulullah SAW: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.”
    (Riwayat Muslim)
  7. Sabda Rasulullah SAW:
    “Siapa saja perempuan yang memakai bau bauan, kemudian ia keluar melihat kaum lelaki ajnabi agar mereka mencium bau harumnya maka ia adalah perempuan zina dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina.” (Riwayat Ahmad, Thabrani dan Hakim)
  8. Sebaik-baik bagi wanita ialah tinggal di rumah, tidak keluar kecuali untuk urusan yang mustahak. Wanita yang keluar rumah akan dipesonakan oleh iblis. Sabda Rasulullah SAW:
    “Perempuan itu aurat, maka apabila ia keluar, mendongaklah syaitan memandangnya.”
    (Riwayat Tarmizi)
  9. Haram bagi wanita melihat laki-laki sebagaimana laki-laki haram melihat wanita (yang halal nikah) kecuali dalam urusan menuntut ilmu dan berjual-beli.
    Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, ketika Rasulullah bersama sama isteri-isterinya (Ummu Salamah dan Maimunah), datang seorang datang seorang sahabat yang buta matanya (Ibnu Maktum), Rasulullah menyuruh isten-istennya masuk ke dalam. Bertanya Ummu Salamah, ‘Bukankah orang itu tidak dapat melihat kami, ya Rasulullah?”
    Rasulullah menjawab, “Bukankah kamu dapat melihatnya?” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)
10. Rasulullah SAW bersabda:
“Perempuan yang melabuhkan pakaian dalam keadaan berhias (bukan untuk suami dan muhramnya) adalah seumpama gelapgulita pada han Kiamat, tidak ada nur baginya. “
(Riwayat Tarmizi)
11. Sabda Rasulullah SAW:
‘Dikawini wanita karena empat sebab: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka carilah yang kuat beragama niscaya kamu bertuah.”
(Riwayat Bukhari)
12. Rasulullah SAW bersabda:
“Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkawinannya, cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kawinnya).”
13. Nabi SAW pemah bersabda:
“Wanita yang taat akan suaminya, semua burung-burung di udara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya selama dia masih taat pada suaminya dan diredhainya (serta menjaga sholat dan puasanya).
14. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Wanita yang taat berkhidmat pada suaminya akan tertutup tujuh pintu Neraka dan akan terbuka pintu-pintu Surga. Masuklah dan mana saja pintu yang disukainya dengan tidak dihisab.”
15. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja wanita yang bermuka masam sehingga menyebabkan tersinggung hati suaminya, maka wanita itu dimurkai Allah sampai ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya.”
16. Hendaklah isteri berpuas hati (redha) dengan suaminya yang telah dijodohkan oleh Allah, baik itu miskin atau kaya
17. Ibnu Umar berkata bahwa telah datang seorang wanita kepada Rasulullah saw lalu bertanya,”Apakah hak suami atas isteri?” Jawab baginda,”Tunaikanlah hajatnya sekalipun engkau berada di alas belakang unta. Jangan berpuasa sunat melainkan seijin suami, kalau engkau berpuasa juga maka pahalanya untuk suami dan dosa untuk isteri. Jangan keluar melainkan dengan ijinnya, jika keluar juga akan dilaknat oleh malaikat Rahmat dan malaikat azab sehinggalah ia kembali ke rumahnya.”
18. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Tidak boleh seorang isteri mengerjakan puasa sunat kalau suaminya ada di rumah serta dengan tidak seijinnya dan tidak boleh memasukkan seorang laki-laki ke rumahnya dengan tidak seijin suaminya.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
19. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Tdaklah putus balasan dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.”
20. Dari Muaz bin Jabal, bersabda Rasulullah: “Siapa saja wanita yang berdiri diatas kedua kakinya membakar roti untuk suaminya, hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api, maka diharamkan muka dan tangannya dan api Neraka.”
21. Dan siapa saja wanita yang menunggu suaminya hingga pulang lalu disapukan mukanya, dihamparkan tempat duduknya atau menyediakan makan minumnya atau merenung ia pada suaminya atau memegang tangannya, membaikkan hidangan padanya, memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya karena mencari keredhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah ucapannya tiap-tiap langkahnya dan setiap renungannya pada suaminya seperti memerdekakan seorang hamba. Pada hari Kiamat nanti, Allah karuniakan nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas karuniaan karamah itu. Tidak ada seorang pun yang sampai ke martabat itu melainkan nabi-nabi.
22. Thabit Al Bananiy berkata: “Seorang wanita dari Bani Israil yang buta sebelah matanya, sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila dia menghidangkan makanan di hadapan suaminya, dipegang pelita sampai suaminya selesai makan. Pada suatu malam, pelitanya kehabisan sumbu, maka diambil rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada esok harinya matanya yang buta telah sembuh Allah karuniakan karamah (kemuliaan) pada perempuan itu karena memuliakan dan menghormati suaminya.”
23. Dan lbnu Mas’ud bersabda Rasulullah SAW: ‘Tiap-tiap wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah memasukkannya ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (sepuluh ribu tahun) karena dia memuliakan suaminya di dunia maka mendapat pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan menghadapnya.”
24. Nabi SAW bersabda:
“Siapa saja wanita yang berkata kepada suaminya: Tidak pemah aku dapat dari engkau satu kebaikanpun. Maka Allah akan hapuskan amalannya selama 70 tahun walaupun ia berpuasa siang hari dan beribadah pada malam hari.”
25. Sabda junjungan Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia menyenangkan engkau, jika engkau memerintah diturutinya perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.”
26. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Perempuan tidak berhak keluar dari rumahnya kecuali jika terpaksa (karena suatu urusan yang mustahak) dan dia juga tidak berhak melalui jalan lalu-lalang melainkan di tepi-tepinya.”
27. Syeikh Abdullah berkata:
“Durhaka seorang perempuan yang keluar dan rumahnya kepada majlis zikir atau majlis ilmu yang bukan fardhu ain. Wajiblah atasnya keluar supaya belajar dia akan segala fardhu ain itu dan haram atas suaminya mencegah isteri jika dia (suami) tidak mampu mengajarnya. Jika dia ada ilmu niscaya wajiblah atasnya mengajar akan isterinya itu maka ketika itu haramlah perempuan itu keluar dari rumahnya lagi durhaka dia.”
28. Sabda Rasulullah SAW:
“Apabila seorang laki-laki memanggil isterinya ke tempat tidur tetapi ditolaknya, hingga marahlah suaminya, maka tidurlah wanita itu dalam laknat malaikat sampai pagi. “
29. Abu Bakar As Siddiq mengatakan. aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita-wanita yang menggunakan lidahnya untuk menyakiti hati suaminya, ia akan mendapat laknat dan kemurkaan Allah, laknat malaikat juga laknat manusia semuanya “
30. Ibnu Umar r.a. berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu masing-masing akan ditanya dan suami pemimpin kepada keluarganya dan isteri
pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian pemimpin dan akan bertanggungjawab atas pimpinanmu. “
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
31. Tersebut dalam kitab Muhimmah karangan Syeikh Abdullah bin Abdul Rahim Pattani:
“Hendaklah isteri mendahulukan suaminya atas hak dirinya dan seluruh kaum kerabatnya.”
32. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku di dalam surga.”
33. Rasulullah SAW bersabda:
“Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.” (Riwayat Ahmad)
34. Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita yang meminta suaminya menceraikannya dengan tidak ada sebab yang dibenarkan oleh syariat, haramlah baginya bau
surga.”
(Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)
35. Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita yang meninggal dunia dalarn keadaan suaminya redha (tidak marah) padanya, niscaya ia masuk surga.”
(Riwayat Tarmizi)
36. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Apabila seorang wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristightarlah para malaikat untuknya, Allah mencatatkan baginya setiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan baginya serbu
kejahatan.”
37. Sabda Rasulullah SAW bermaksud:
“Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah (perang sabil)”.
38. Nabi SAW bersabda:
“Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa dosanya seperti keadaan ibunya melahirkannya.”
39. Rasulullah SAW bersabda:
“Perintahkanlah anak-anakmu semua yang berumur tujuh tahun untuk mengerjakan sholat. Apabila mereka telah berumur sepuluh tahun tetapi belum mengerjakan sholat hendaklah dipukul (tetapi jangan sampai luka) dan pisahkanlah tempat tidurnya.”
(Riwayat Abu Daud)
40. Sabda Rasulullah SAW:
“Ya Fatimah, barang siapa wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong kumis dan mengerat kukunya, memberi minum Allah akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman daripada taman-taman surga, dan dicatatkan Allah baginya kebebasan dari api Neraka dan selamatlah ia melintas titian Sirat”
41. Hal-hal yang menjadikan wanita itu durhaka kepada suaminya seperti tersebut dalam kitab Muhimmah:
a. Menghalang suami dari bersuka-suka dengan dirinya baik itu untuk jimak atau menyentuh mana saja bagian tubuhnya.
b. Keluar rumah tanpa izin suami baik itu ketika suami ada di rumah ataupun tidak ada.
c. Keluar rumah karena belajar ilmu yang bukan ilmu fardhu ain. Dibolehkan keluar untuk belajar ilmu fardhu ain jika suaminya tidak mampu mengajar.
d. Tidak mau berpindah (berhijrah) bersama suaminya.
e. Mengunci pintu, tidak mengijinkan suami masuk ke rumah ketika suami ingin masuk.
f. Bermuka masam ketika berhadapan dengan suami.
g. Minta talak.
h. Berpaling atau membelakangi suami ketika berbicara.
i. Menyakiti hati suami baik itu dengan perkataan atau perbuatan.
j. Meninggalkan tempat tidur tanpa izin.
k. Mengijjnkan orang lain masuk ke dalam rumah, sedangkan orang itu tidak disukai oleh suami.
42. Tersebut dalam kitab Muhimmah, suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW keluar mengiringi jenazah. Baginda mendapati beberapa orang wanita dalam majelis. Baginda lalu bertanya: “Apakah kamu menyolatkan mayat?” Jawab mereka, “Tidak.” Sabda baginda, “Sebaiknya kamu sekalian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetap tinggallah di rumah dan berkhidmat kepada suami niscaya pahala sama dengan ibadah- ibadah orang laki-laki.”
43. Imam Ghazali rh.m berkata: “Wajib bagi wanita mengikuti perintah suaminya selagi tidak membawa maksiat.”
44. Ulama-ulama ada berkata, wajib bagi wanita-wanita:
a. Mengekalkan malu pada suaminya.
b. Merendahkan (menundukkan) mata ketika berpandangan. c. Mengikut kata-kata dan suruhannya.
d. Dengar dan diam ketika suami berbicara. e. Berdiri menyambut kedatangannya.
f. Berdiri menghantar kepergiannya,
g. Hadir bersamanya ketika masuk tidur.
h. Memakai wangi-wangian untuk suaminya.
i. Membersihkan dan menghilangkan bau mulut untuk suaminya.
j. Berhias ketika hadirnya dan tinggalkan hiasan ketika tidak adanya.
k Tidak berkhianat ketika ketidak adaan suaminya. I. Memuliakan keluarga suaminya.
m. Memandang pemberian suami yang kecil sebagai besar dan berharga.
n. Ketahuilah, Surga dan Neraka bagi seorang wanita itu bergantung pada redha atau tidaknya suami padanya
45. Dicentakan di dalam kitab Muhimmah bahwa seorang Badwi menemui Rasulullah lalu berkata,” Tidak akan aku percaya pada engkau sebelum
ditunjukkan padaku suatu mukjizat.” “Apakah yang engkau kehendaki” tanya Rasulullah. “Suruh pohon kurma yang kering itu menghadap engkau,” kata Badwi itu. Maka bersabda Rasulullah, “Pergilah engkau kepada pohon yang kering itu, katakan bahwa Muhammad memanggilnya.” Arab Badwi itu pun melakukan apa yang diperintahkan. Setelah diberitahu kemudian, pohon kurma itu kelihatan bergerak gerak ke kin dan ke kanan hingga tercabut akar-akarnya dan berjalan ia menghadap Rasulullah, lalu memberi salam. Rasulullah menjawab salamnya. Melihat peristiwa itu Arab Badwi itu terus mengucap kalimah syahadah. “Cukuplah ya Rasulullah, cukuplah,” katanya lagi. Rasulullah pun memerintahkan pohon itu kembali ke tempatnya. Arab Badwi itu berkata lagi. “Wahai Rasulullah, aku telah meminta darimu sesuatu yang tidak pernah diminta oleh orang lain. Itu pun engkau tunaikan, karena itu ijinkan aku sujud kepadamu setiap kali sujud sholat di belakangmu.” Jawab baginda, “Tidak harus seorang manusia sujud kepada manusia dan jika diharuskan, maka akan aku perintahkan semua kaum wanita sujud pada suaminya, karena membesarkan dan memuliakan hak-hak suami mereka.”
46. Dari Ali bin Abi Talib: Aku dengar Rasulullah bersabda: “Tiga golongan dari umatku akan mengisi Neraka Jahanam selama tujuh kali umur dunia. Mereka itu adalah: a. Orang yang gemuk tetapi kurus. b. Orang yang berpakaian tetapi bertelanjang. c. Orang yang alim tetapi jahil. Adapun yang gemuk tetapi kurus itu ialah wanita yang gemuk (sehat) tubuh badannya, tetapi kurang ibadahnya. Orang yang berpakaian tetapi telanjang ialah wanita yang cukup pakaiannya tetapi tidak taat agama (yaitu berpakaian tipis atau terlalu ketat hingga terbayang bentuk tubuh badannya). Orang yang alim tetapi jahil ialah ulama yang menghalalkan yang haram karena kepentingan pribadi. “
47. Rasulullah SAW bersabda:
“Empat golongan wanita yang berada di surga ialah:
a. Perempuan yang menjaga dirinya dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
b. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati keadaan serba kurang (dalam kehidupannya) bersama suaminya.
c. Perempuan yang bersifat pemalu dan jika suaminya datang maka ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
d. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dininya hanya untuk mengurus anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia menikah karena kuatir putera puterinya akan tersia-sia. (Kalau ada jaminan putera-puterinya tidak akan disia-siakan barulah ia mau nenikah).
Dan empat golongan wanita yang berada dalam Neraka ialah:
a. Wanita yang jelek (kotor) mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya datang ia memakinya (memarahinya),
b. Wanita yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang dia tidak mampu.
c. Wanita yang tidak menutupi dinnya dari kaum laki-laki dan keluar rumah dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menanik kaum laki-laki).
d. Wanita yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minurn dan tidur dan ia tidak sanggup berbakti kepada Allah dan tidak sanggup berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak sanggup berbakti kepada suaminya.”
48. Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, pada hari Kiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat ke belakang tengkuknya.”
49. Rasulullah SAW bersabda:
“Aku berdiri di atas surga, kebanyakan orang yang masuk ke masuk ke dalamnya ialah golongan miskin, manakala orang-orang kaya tertahan di luar pintu surga karena dihisab. Selain dari itu ahli Neraka diperintahkan masuk ke dalam Neraka dan aku telah berdiri di atas pintu Neraka, aku lihat kebanyakan orang yang masuk ke dalamnya ialah wanita.”
(Riwayat Imam Bukhari dan Usamah bin Lad r.a)
50. Rasulullah SAW juga bersabda: “Aku lihat api Neraka, tidak pemah aku melihatnya seperti hari ini, karena ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakan ahli Neraka ialah wanita.” Baginda ditanya, “Mengapa begitu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Wanita mengkufurkan suarninya dan mengkufurkan ihsannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum merasa puas hati dan cukup.”
(Riwayat Imam Bukhari)
51. Sabda Nabi SAW: “Kebanyakan ahli Neraka adalah terdiri dari kaum wanita.” Maka menangislah mereka dan bertanya salah
seorang daripada mereka, “Mengapa terjadi demikian, apakah karena mereka berzina atau membunuh anak atau kafir?” Jawab Nabi, “Tddak, mereka ini ialah mereka yang tidak bersyukur akan nikmat suaminya, sesungguhnya tiap-tiap seorang kamu adalah dalarn nikmat suaminya.”
52. Sabda Rasulullah SAW:
“Keadaan wanita sepuluh kali ganda seorang laki-laki di dalam Neraka dan dua kali ganda seorang laki-laki di dalarn surga. “
53. Suatu hari Rasulullah SAW datang melawat anaknya Fatimah ra dan didapatinya sedang menangis. Maka bertanyalah Rasulullah
SAW: “Apakah yang membuat engkau menangis, wahai Fatimah?’
Fatimah menjawab, “Wahai ayahku, aku menangis disebabkan oleh keletihan yang tidak terkira ketika mengisar tepung dan menyediakan keperluan rumah. Sekiranya ayahanda menyuruh Imam Ali membeli seorang wanita suruhan, itu akan menjadi pemberian yang besar bagiku.”
Mendengar kata-kata itu, hati Rasulullah teriris hingga berlinang air mata baginda. Lalu baginda pun duduk berhampiran alat pengisar kemudian mengambil segenggam gandum dan melafazkan
Ketika Rasulullah memasukkan gandum tersebut ke dalam alat pengisar maka bergeraklah alat itu dengan sendirinya sambil alat itu memuji Allah dalam bahasa yang amat indah dan suara yang amat merdu sehingga semuanya dikisar. Lalu Baginda pun berkata, “Berhentilah kamu wahai alat pengisar ” Ketika itu Allah telah menjadikan alat itu dapat berkata-kata. “Demi Allah yang mengantarmu dengan kebenaran sebagai seorang Rasul dan dengan berita sebagai orang yang diamanahkan. Aku tidak akan berhenti sebelum kau memberi jaminan dari Allah untuk menempatkan aku di dalam surga dan menjauhkan aku dari api Neraka.” Berkata Rasulullah SAW: “Kau adalah batu, namun kau takut pada api Neraka” Alat pengisar menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah mendengar kata-kata ini dari Al Quran: “Wahai orang yang beriman, jauhkanlah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka yang pembakarnya terdiri dari manusia dari batu-batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, tidak mendurhakai terhadap apa yang diperintahkan Allah kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Maka Rasulullah pun mendoakan untuk keselamatan batu itu. Selesai berdoa turunlah malaikat Jibril a.s dan berkata: “Wahai Muhammad, Tuhan yang untuknya segala pujian dan yang Maha Tinggi, mengirim salam dan penghormatan dan berpesan kepada engkau, beritahu batu itu berita gembira bahwa Allah telah menganugerahkan pada batu itu keselamatan dari api neraka dan
meletakkannya di antara batu-batu surga di dalam mahligai Fatimah di mana ia akan bercahaya bagaikan matahari di alam ini.”
Lalu disampaikan berita itu. Baginda memandang kepada Fatimah lalu bersabda: “Wahai Fatimah, sekianya begitu kehendakAllah, pengisar ini akan bekerja setiap hari tetapi Allah ingin mencatatkan untukmu perbuatan baik dan meninggikan derajatmu karena tanggung jawabmu yang berat itu. “
“Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit di antara dirinya dengan api Neraka, jarak di antara parit itu ialah sejauh langit dan bumi. “
“Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utas benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat.” “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam benang yang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khusus untuknya di atas takhta di hari Akhirat.” “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya pahala sama seperti orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang tidak berpakaian.” “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya, menyikatnya, mencuci pakaian-pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan yang jahat dan menjadikan dinnya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memperhatikan.”
(Riwayat Abu Hurairah)
54. Asma binti Khanyah Fazari dinwayatkan telah berkata pada puterinya pada hari pernikahan anaknya itu: “Hai anakku, kini engkau akan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenali. Itulah suamimu. Jadilah engkau tanah bagi suamimu (taat perintahnya) dan dia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya dia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan berbagai-bagai kesukaran karena itu akan memungkinkan dia meninggalkamu. Kalau dia mendekatimu, dekatilah dia dan jika dia menjauhimu maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah benar-benar suamimu itu akan hidungnya, pendengarannya, matanya dan lain-lain. Janganlah biarkan suamimu itu mencium sesuatu darimu melainkan yang harum, Jangan pula dia mendengar melainkan yang enak dan janganlah dia melihat melainkan yang indah saja pada dinmu.”
Bila isteri lebih masyhur dari suaminya, suami rasa bertuah dalam derita, kalau suami lebih masyhur dari isterinya, isteri rasa bertuah dalam kebanggaan.

40 Wasiat Nabi shalallohu alaihi wa sallam untuk Muslimah (bag 1)


40 Wasiat Nabi
Setelah ayat-ayat al-Qur’ an al-Karim, yang sepatutnya dipelajari dan dikaji untuk kemudian diamalkan dan didakwahkan oleh setiap Muslimah adalah hadits-hadits Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam dan ucapan atau atsar dari para saha-batnya. Di antara hadits dan atsar tersebut yang merupakan wasiat khusus bagi Muslimah adalah:
HADITS KE-1
Dari (‘Abdullah) bin ‘Umar radhiallohu anhu, bahwa Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam ber-sabda:
(( لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ))
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk mendatangi masjid-masjid, akan tetapi rumah-ru-mah mereka adalah lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah; shahih)
Faedah Hadits: berdiam dirinya seorang wanita di rumah-nya adalah lebih baik dari keluarnya, walaupun untuk pergi ke masjid (shalat). Namun seorang suami juga tidak diper-bolehkan melarang istrinya pergi ke masjid.
HADITS KE-2
Dari ‘Aisyah radhiallohu anha dari Nabi shalallohu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:
(( قَدْ أُذِنَ أَنْ تَخْرُجْنَ فِي حَاجَتِكُنَّ ))
“Telah diizinkan bagi kalian (para wanita) untuk ke-luar (rumah) memenuhi kebutuhan kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: kebolehan bagi wanita untuk keluar ru-mah demi memenuhi kebutuhannya.
HADITS KE-3
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallohu anhu, dari Nabi shalallohu alaihi wa sallam; bahwa beliau bersabda:
(( إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ مِنْ وَجْهِ رَبِّهَا وَهِيَ فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا ))
“Sesungguhnya wanita adalah aurat. Apabila keluar rumah, ia akan diikuti oleh setan (yang berusaha menggelincirkannya). Karenanya, tempat yang lebih mendekatkan dirinya dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih)
Faedah Hadits: adanya bahaya yang muncul manakala wanita keluar rumah, yaitu ambisi setan untuk menggoda dan menjerumuskannya dalam kehancuran.
HADITS KE-4
Dari (‘Abdullah) bin ‘Umar radhiallohu anhu, bahwa salah seorang istri ‘Umar menghadiri shalat jama’ah Shubuh dan ‘Isya di masjid. Maka dikatakan padanya: ‘Kenapa engkau keluar ke masjid, padahal engkau tahu bahwa ‘Umar tidak me-nyukainya dan cemburu karenanya?’ Ia berkata, ‘Apa yang menghalangi ‘Umar untuk melarangku?’ Ibnu ‘Umar radhiallohu anhu berkata: “Yang menghalanginya adalah sabda Nabi shalallohu alaihi wa sallam:
(( لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ )) )
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Alloh (wa-nita) dari masjid-masjid-Nya.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: seorang wanita tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya, sehingga bila suami tidak mengizin-kan, maka ia tidak pergi.
HADITS KE-5
Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallohu anhu, bahwa Nabi shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( إِذَا اسْتَعْطَرَتْ الْمَرْأَةُ فَمَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ قَوْلاً شَدِيدًا )). وَفِي لَفْظٍ: (( فَهِيَ زَانِيَةٌ ))
“Jika seorang wanita mengenakan parfum, lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium bau wanginya, maka ia adalah begini dan begitu. Be-liau telah berkata dengan perkataan yang sangat ke-ras.” Dan dalam sebagian lafadz disebutkan “Maka wanita itu adalah pelacur.” (HR. Abu Daud, at-Tirmi-dzi dan Nasa’i; hasan shahih)
Faedah Hadits: larangan menggunakan parfum bagi wa-nita ketika keluar rumah, baik ke masjid atau tempat lainnya.
HADITS KE-6
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiallohu anhu, dari Nabi shalallohu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
(( ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ؛ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ ))
“Tiga orang (golongan) yang engkau tidak usah menanyakan lagi tentang keadaan mereka, yaitu: (1) orang yang memisahkan diri dari jama’ah kaum Muslimin dan ia durhaka kepada imamnya (khali-fah) hingga meninggal dalam kondisi tersebut; (2) seorang budak yang lari dari tuannya, lalu ia meninggal; dan (3) seorang wanita yang ketika sua-minya pergi telah dicukupi kebutuhan hidupnya namun ia bertabarruj; maka jangan engkau tanya-kan lagi tentang (keburukan) mereka.” (HR. Ahmad, Hakim dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad; shahih)
Faedah Hadits: larangan untuk menampakkan perhiasan (tabarruj) saat keluar.
HADITS KE-7
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallohu anhuma, bahwa Nabi shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( لاَ تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلاَ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ )). فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ. فَقَالَ: (( اخْرُجْ مَعَهَا ))
“Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya, dan jangan sampai ada laki-laki yang masuk menemuinya kecuali ia bersama mahramnya.” Kemudian salah seorang sahabat berkata: ‘Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya hendak pergi bersama pasukan ini dan itu, sedangkan istriku ingin pergi haji. Maka Nabi bersabda: “Pergilah bersamanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: larangan bagi wanita untuk mengadakan perjalanan atau bepergian tanpa mahram.
HADITS KE-8
Dari Nafi’, dari (‘Abdullah) bin ‘Umar radhiallohu anhu berkata: Rosu-lulloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ )). قَالَ نَافِعٌ: ( فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ )
“Kalau saja kita tinggalkan pintu ini khusus untuk wanita”. Nafi’ berkata: ‘Sejak saat itu Ibnu ‘Umar tidak lagi masuk lewat pintu itu hingga wafat’.” (HR. Abu Dawud; hasan)
Faedah Hadits: menyediakan pintu khusus di masjid untuk keluar masuknya jama’ah Muslimah.

HADITS KE-9
Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari radhiallohu anhu, dari bapak-nya, bahwa ia telah mendengar Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda ke-pada para wanita (saat itu beliau berada di luar masjid, dan terlihat laki-laki dan wanita berbaur di jalan):
(( اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ، عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ )). فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.
“Menepilah ke pinggir, karena tidak layak bagi kalian untuk berjalan di tengah. Kalian harus berjalan di pinggir.” Sejak saat itu, ketika para wanita berjalan keluar, mereka berjalan merapat ke tembok. Bahkan baju-baju mereka sampai tertambat di tembok, kare-na begitu rapatnya mereka dengan tembok ketika berjalan.” (HR. Abu Dawud; hasan)
Faedah Hadits: wanita tidak berjalan di tengah jalan, karena yang terbaik adalah lewat pinggir.
HADITS KE-10
Dari Ibnu Juraij rahimahulloh berkata: ‘Atha rahimahulloh telah memberitahu-kan padaku dengan berkata (hal itu ketika Ibnu Hisyam melarang wanita untuk thawaf bersama laki-laki):
( كَيْفَ يَمْنَعُهُنَّ وَقَدْ طَافَ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ الرِّجَالِ. قُلْتُ: أَبَعْدَ الْحِجَابِ أَوْ قَبْلُ. قَالَ: إِي لَعَمْرِي لَقَدْ أَدْرَكْتُهُ بَعْدَ الْحِجَابِ. قُلْتُ: كَيْفَ يُخَالِطْنَ الرِّجَالَ. قَالَ: لَمْ يَكُنَّ يُخَالِطْنَ، كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَطُوفُ حَجْرَةً مِنْ الرِّجَالِ لاَ تُخَالِطُهُمْ )
“Bagaimana mungkin ia melarang para wanita untuk thawaf bersama laki-laki, padahal para istri Nabi telah tha-waf bersama laki-laki?” Aku katakan padanya: “Apakah hal itu setelah turun perintah hijab atau sebelumnya?” Ia ber-kata: “Sungguh aku mendapatinya setelah turunnya perin-tah hijab.” Maka aku katakan: “Bagaimana mungkin para istri Nabi berbaur dengan laki-laki,” Ia berkata: “Mereka memang tidak berbaur dengan laki-laki, ‘Aisyah radiallohu anha saat itu thawaf di sisi para laki-laki dan tidak berbaur dengan mereka.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: thawafnya wanita adalah tidak berbaur dengan laki-laki.
HADITS KE-11
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallohu anhu, bahwa Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam:
(( إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ )). فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ اْلأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: (( الْحَمْوُ الْمَوْتُ ))
“Berhati-hatilah dari menemui wanita.” Lalu salah seorang Anshar berkata: “Wahai Rosululloh, bagai-mana dengan saudara dari suami (ipar)? Beliau ber-sabda: “Saudara suami (ipar) adalah kematian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: larangan laki-laki menemui wanita yang bukan mahram, walaupun statusnya sebagai ipar.
HADITS KE-12
Dari Abu Hurairah radhiallohu anhu ia berkata bahwa para wanita mendatangi Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam, lalu mereka mengatakan:
“Wahai Rosululloh, kami tidak mampu menghadiri majelismu karena banyak kaum laki-laki, maka berikan-lah waktu khusus buat kami pada hari tertentu hingga kami bisa mendatangimu. Maka beliau bersabda:
(( مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنٍ )) وَأَتَاهُنَّ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلِذَلِكَ الْمَوْعِدِ. قَالَ: فَكَانَ مِمَّا قَالَ لَهُنَّ يَعْنِي (( مَا مِنْ امْرَأَةٍ تُقَدِّمُ ثَلاَثًا مِنْ الْوَلَدِ تَحْتَسِبُهُنَّ إِلاَ دَخَلَتْ الْجَنَّةَ )) فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ: أَوْ اثْنَانِ؟ قَالَ: (( أَوْ اثْنَانِ ))
“Kita akan bertemu di rumah orang ini.” Maka mere-ka pun menemui Nabi shalallohu alaihi wa sallam pada hari dan tempat yang telah ditentukan. Perawi hadits berkata: maka di antara hal yang beliau shalallohu alaihi wa sallam sampaikan kepada mereka “Tidaklah seorang wanita yang memiliki tiga orang anak, lalu mereka meninggal dan ia mengharap pa-hala di sisi Alloh atas hal itu, kecuali ia akan masuk surga.” Mendengar itu salah seorang wanita dari me-reka berkata: “Bagaimana kalau dua orang anak?” Beliau menjawab: “Kalau dua anak pun demikian.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban; shahih)
Faedah Hadits: mengkhususkan majelis ilmu bagi para wanita dan menyendirikan mereka di tempat terpisah dari laki-laki jika dibutuhkan.
HADITS KE-13
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallohu anhu berkata bahwa Nabi shalallohu alaihi wa sallam pernah bersabda:
(( إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ ِلأْلِهَا: يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلاَّ اْلإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَ اْلإِْسَانُ لَصَعِقَ ))
“Ketika jenazah seseorang telah diletakkan, lalu di-usung oleh sekelompok laki-laki di atas pundak-pundak mereka; jika jenazah itu adalah hamba yang shalih ia akan berkata, ‘Percepatlah’, sedangkan kalau jenazah itu adalah bukan orang yang shalih ia akan berkata kepada keluarganya: ‘Celakalah, kemana kalian akan membawanya?’ Suara ini akan terdengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Kalau saja suara ini terdengar oleh manusia, pasti mereka akan pingsan karenanya.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: yang berhak membawa dan mengusung jenazah adalah kaum laki-laki, bukan wanita.

HADITS KE-14
Dari Abi al-Malih al-Hudzali rahimahulloh, bahwa sekelompok wanita dari kota Hamsh meminta izin kepada ‘Aisyah radhiallohu anha, lalu ia berkata: “Jangan-jangan kalian adalah para wanita yang suka memasuki pemandian umum. Saya telah men-dengar Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ ))
“Siapapun dari para wanita yang menanggalkan ba-junya di selain rumah suaminya, maka ia telah meng-koyak tabir (kesucian) antara dirinya dengan Alloh.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)
Faedah Hadits: larangan bagi wanita untuk masuk pe-mandian umum, atau kolam renang, atau tempat umum lainnya yang semisalnya.
HADITS KE-15
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallohu anhu, bahwa: Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( لاَ تُبَاشِرُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ))
“Janganlah seorang wanita bersentuhan kulit langsung dengan wanita lainnya, kemudian ia menceritakan hal itu pada suaminya, ia buat seakan-akan suaminya tengah memandang wanita itu.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: larangan bagi istri untuk menyentuh kulit wanita lain tanpa penghalang lalu ia menceritakan hal itu pada suaminya.
HADITS KE-16
Dari Abu Hurairah radhiallohu anhu, dari Nabi shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( التَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ ))
“Mengucapkan subhanalloh adalah untuk laki-laki dan bagi wanita adalah dengan menepuk tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: larangan bagi wanita untuk berbicara di hadapan laki-laki bukan mahram, kecuali ada kebutuhan.
HADITS KE-17
Dari Ummi ‘Athiyyah radhiallohu anha berkata:
( أَخَذَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ الْبَيْعَةِ أَنْ لاَ نَنُوحَ فَمَا وَفَتْ مِنَّا امْرَأَةٌ غَيْرَ خَمْسِ نِسْوَةٍ )
“Nabi shalallohu alaihi wa sallam mengambil bai’at dari kami agar kami tidak meratapi mayit. Maka tidak ada yang menunaikan bai’at tersebut kecuali lima orang wanita saja.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: larangan meratapi mayit dan diboleh-kannya menangis sampai batas tertentu, yaitu tanpa di-sertai ratapan.
HADITS KE-18
Dari Asma’ binti Yazid al-Anshariyyah radiallohu anha bercerita bahwa Nabi shalallohu alaihi wa sallam pada suatu hari lewat di masjid, sedangkan sekerumunan wanita sedang duduk di sana. Lalu Nabi shalallohu alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya untuk menyampaikan salam, lalu beliau bersabda:
(( إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَانَ الْمُنَعَّمِينَ إِيَّاكُنَّ وَكُفْرَانَ الْمُنَعَّمِينَ )). قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعُوذُ بِاللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مِنْ كُفْرَانِ اللَّهِ. قَالَ: (( بَلَى إِنَّ إِحْدَاكُنَّ تَطُولُ أَيْمَتُهَا وَيَطُولُ تَعْنِيسُهَا ثُمَّ يُزَوِّجُهَا اللَّهُ الْبَعْلَ وَيُفِيدُهَا الْوَلَدَ وَقُرَّةَ الْعَيْنِ. ثُمَّ تَغْضَبُ الْغَضْبَةَ فَتُقْسِمُ بِاللَّهِ مَا رَأَتْ مِنْهُ سَاعَةَ خَيْرٍ قَطُّ. فَذَلِكَ مِنْ كُفْرَانِ نِعَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَذَلِكَ مِنْ كُفْرَانِ الْمُنَعَّمِينَ ))
“Berhati-hatilah dari ingkar terhadap yang telah memberikan nikmat kepada kalian, berhati-hatilah dari ingkar terhadap yang telah memberikan nikmat kepada kalian.” Maka salah satu di antara mereka berkata: “Wahai Rosululloh, saya berlindung dari mengingkari nikmat Alloh.” Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda: “Ya, sungguh kalian telah lama menyendiri kemu-dian Alloh nikahkan kalian dengan seorang suami, lalu kalian dikaruniai anak dan hal yang menyejuk-kan pandangan. Kemudian suami itu marah karena sesuatu, kemudian wanita itu bersumpah dengan nama Alloh bahwa dirinya tidak pernah melihat ke-baikan darinya sama sekali. Itulah salah satu bentuk pengingkaran kalian terhadap nikmat Alloh dan itulah bentuk dari ingkar terhadap yang telah mem-beri kalian nikmat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)
Faedah Hadits: dibolehkannya seorang laki-laki meng-ucapkan salam kepada wanita dan juga sebaliknya ketika aman dari fitnah.
HADITS KE-19
Dari Anas bin Malik radhiallohu anhu berkata bahwa Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan, maka Nabi shalallohu alaihi wa sallam berkata:
“Bertaqwalah kamu pada Alloh dan bersabarlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: diperbolehkannya laki-laki berbicara dengan wanita dan juga sebaliknya ketika diperlukan.
HADITS KE-20
Dari Anas bin Malik radhiallohu anhu, telah datang seorang wanita kepada Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam dengan menawarkan dirinya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ، فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ: مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ. قَالَ: ( هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ، رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا )
“Wahai Rosululloh, apakah engkau tertarik denganku?” Maka putri Anas berkata: “Betapa sedikit rasa malunya, bu-ruk dan betapa jeleknya.” Lalu Anas bin Malik radhiallohu anhu berkata: “Ia lebih baik daripada dirimu, ia tertarik kepada Nabi shalallohu alaihi wa sallam lalu menawarkan dirinya.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: dibolehkannya seorang wanita mena-warkan dirinya kepada laki-laki yang shaleh, baik dengan sindiran maupun dengan berterus terang.
HADITS KE-21
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallohu anhuma bahwa ada seorang gadis yang men-datangi Nabi shalallohu alaihi wa sallam lalu ia menyebutkan bahwa bapaknya telah menikahkan dirinya, sedang ia tidak menyukainya. Maka Nabi shalallohu alaihi wa sallam memberikan pilihan kepadanya (untuk melanjutkan pernikahan itu atau membatalkannya). (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah; shahih)
Faedah Hadits: seorang wanita tidak boleh dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang tidak ia sukai, jika walinya tetap menikahkannya tanpa izinnya dan ternyata ia tidak menyukainya, maka pernikahannya tertolak (batal).
HADITS KE-22
Dari Ummu Mubasyir radhiallohu anha, bahwa Nabi shalallohu alaihi wa sallam melamar man-tan istri al-Barra bin Ma’rur radiallohu anhu; lalu wanita itu berkata bahwa ia telah mensyaratkan kepada suaminya untuk tidak menikah lagi sepeninggalnya, maka Nabi shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( إِنَّ هَذَا لا يَصْلُحُ ))
“Sesungguhnya syarat ini tidak benar.” (HR. ath-Thabrani; hasan)
Faedah Hadits: tidak sah seorang istri mensyaratkan ke-pada suaminya untuk tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal.