Senin, 05 Maret 2012

Metode Dakwah Rasulullah

Metode Dakwah cara Sunnah

Metode dakwah cara sunnah (saya kutip dari “metode dakwah cara sunnah”)
“Katakanlah (hai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah (petunjuk dan ilmu), maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”
( QS Yusuf: 108)

Makna Lafadz(Dakwah) : – Berkata Ibnu Zaid: “urusanku, sunnahku dan manhajku.”- Berkata Rabi’ bin Anas: “Dakwahku.” (At-Thabari 7/315)- Berkata Muqatil: “Agamaku.”- Berkata Al-Qurthubi: “semua makna di atas adalah satu, yaitu (jalan dakwah yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa mengantarkan ke surga).” (Tafsir Jami’ li Ahkamil Qur`an 9/179) – Berkata Ibnu Jarir At-Thabari: “di atas keyakinan dan ilmu.” (At-Thabari 7/315)- Berkata Qatadah: “di atas petunjuk.” (Ad-Durrul Mantsur 4/93)- Berkata Abdur Rahman As-Sa’di: “di atas ilmu dan keyakinan dengan tanpa ada keraguan dan pertentangan.” (Tafsir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalam 4/93)- Berkata Abu Bakar Al-Jazairi: “di atas ilmu dan keyakinan terhadap Dzat yang aku (Nabi) berdakwah kepada-Nya serta terhadap hasil dan buah dakwah ini.” (Aisarut Tafaasir 2/653): – Berkata Ibnu Jarir At-Thabari: “orang yang mengikutiku, membenarkan dan beriman kepadaku.” (At-Thabari 7/315) : – Berkata Ibnu Katsir: “yakni aku (Nabi) mensucikan Allah (dari sifat-sifat negatif dan sifat-sifat ketidaksempurnaan), aku agungkan Allah dan aku sucikan Allah dari sekutu-sekutu, persamaan-persamaan, tandingan-tandingan, anak, bapak, istri dan wazir.” (Ibnu Katsir 2/652): – Berkata Ibnu Jarir: “dan aku (nabi) berlepas diri dari ahli syirik, aku bukan dari mereka dan merekapun bukan dari golonganku.” (At-Thabari 7/315)
Tafsir Ayat berkenaan maka Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya 2/652:”Allah Ta’ala berfirman kepada utusan-Nya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang diutus kepada manusia dan untuk memerintahkan kepadanya agar mengkabarkan kepada manusia (dan jin) bahwa ini adalah jalannya, yaitu berdakwah kepada kalimat “Laa Ilaha Illallah wahdahu laa syarika lahu” (tiada sesembahan yang hak kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya). Beliau (rasul) berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah, keyakinan dan kejelasan, dan semua yang mengikutinya juga berdakwah kepada apa yang didakwahkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bashirah, keyakinan dan kejelasan akal serta syari’at.”
Ibnu Jarir dalam kitabnya Syarhul Manazil mengatakan:”Allah menghendaki dengan pemahamanmu terhadap dalil ini supaya kamu sampai kepada derajat ilmu tertinggi, yaitu bashirah yang merupakan derajat khusus, yang membedakan para shahabat dengan umat-umat yang lainnya. Maka ayat ini menunjukkan bahwa pengikut Rasulullah adalah ahli bashirah (yang punya bashirah) yang berdakwah ke jalan Allah. Adapun orang-orang yang bukan ahli bashirah maka mereka bukan pengikut Rasulullah yang hakiki. Dan kalaupun mahu dikatakan pengikut beliau, maka hanya semata-mata penisbatan dan pengakuan semata.” (lihat Fathul Majid hal. 101).
Apa Hukumnya Berdakwah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Daqaiqut Tafsir 3/288-289 berkata: “Berdakwah ke jalan Allah merupakan kewajiban setiap orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu adalah umat beliau yang berdakwah ke jalan Allah seperti dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam…. Dan kewajiban ini juga merupakan kewajiban seluruh umat. Inilah yang dinamakan oleh para ulama dengan fardhu kifayah yang bila sudah ada satu kelompok yang menegakkannya maka gugurlah kewajiban yang lainnya.”
Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan yang mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Seluruh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menduduki tempatnya dalam dakwah ke jalan Allah. Oleh karena itulah, ijma’ (kesepakatan) mereka merupakan hujjah yang qath’i (pasti) karena mereka tidak akan berkumpul di atas kesesatan. Apabila mereka berselisih pendapat dalam suatu masalah, maka mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu ke Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah). Dan masing-masing dari umat beliau mendapat kewajiban untuk berdakwah dengan segenap kemampuannya (kalau tak ada yang berdakwah). Maka, apa yang telah dia dakwahkan menjadi gugur (kewajibannya) atas yang lain dan apa yang dia tidak mampu maka dia tidak dituntut untuk mengerjakannya.
Dan sesungguhnya dakwah itu sendiri adalah amar ma’ruf dan nahi munkar.Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dalam kitabnya Fadhlu ad-Da’wah ilallah wa Hukmuha hal. 14-16:”Telah dijelaskan oleh para ulama bahwa dakwah ke jalan Allah adalah fardhu kifayah, kalau ditinjau dari segi wilayah dan daerah yang membutuhkan adanya kegiatan dakwah. Maka dakwah ini hukumnya fardhu kifayah. Tetapi apabila sudah ada salah seorang yang menegakkannya, maka itu sudah cukup dan gugurlah kewajiban dakwah bagi yang lain. Dan apabila di suatu wilayah penduduknya tidak menegakkan dakwah dengan sempurna, maka semua penduduk tersebut berdosa dan semuanya dibebani kewajiban dakwah menurut kadar kemampuannya.Adapun kalau ditinjau dari segi keseluruhan negeri maka harus ada satu kelompok yang menegakkan dakwah ke jalan Allah di segenap penjuru daerah. Menyampaikan risalah agama Allah dan menjelaskan perintah-perintah Allah dengan metode yang memungkinkan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para dai dan mengirimkan surat-surat kepada para raja dan pemimpin serta mengajak mereka ke jalan Allah. Kadang-kadang dakwah ini menjadi fardhu ‘ain yaitu apabila kamu berada di suatu tempat yang tak ada padanya orang yang menegakkan dakwah selain kamu. Hal ini sama seperti amar ma’ruf nahi munkar, karena hukumnya bisa fardhu ‘ain dan bisa juga fardhu kifayah.
Apabila kamu berada di suatu tempat di mana tidak ada padanya orang yang mampu menegakkan dakwah dan menyampaikan perintah-perintah Allah selain kamu, maka wajib atas kamu untuk menegakkan dakwah ini. Tetapi kalau sudah ada orang yang menegakkan dakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, maka dakwah ini menjadi sunnah atas kamu, dan apabila kamu bersemangat untuk menegakkan dakwah, maka kamu termasuk orang-orang yang berlomba di dalam kebaikan dan ketaatan.”Manhaj Para Nabi dan Rasul dalam Berdakwah oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata dalam kitabnya Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah hal. 41-44:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu.’ Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya, maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul).” (QS An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya’: 25)
“Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS Al-Mukminun: 51-52)
Hafiz Ibnu Katsir berkata:”Agama kalian wahai para Nabi adalah satu, yaitu berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya.” (Ibnu Katsir 3/ 257) Adapun dalam As-Sunnah yang semakna dengan ayat di atas adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Aku adalah manusia yang paling layak dengan Isa bin Maryam di dunia dan akhirat. Dan para Nabi itu saudara ‘allat, ibu mereka berbeda-beda tapi agama mereka satu.” [HR. Bukhari (3443), Muslim 4/1837, dan Ahmad 2/319, 406, 483]
Ini adalah dakwah seluruh para Nabi, khususnya para Ulul ‘Azmi di antara mereka. Dakwah mereka semua berjalan di atas satu manhaj dan mereka memulai dakwahnya dengan satu hal, yaitu tauhid, karena tauhid ini adalah permasalahan terbesar umat manusia dari jaman ke jaman. Dakwah yang dilakukan para Nabi dan Rasul tersebut membuktikan bahwa tauhid-lah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam mendakwahi manusia ke jalan Allah. Dakwah kepada tauhid juga merupakan sunnatullah yang telah digariskan untuk para Nabi-Nya dan pengikut-pengikut mereka yang sejati, tidak boleh ditukar dan tidak boleh menyimpang daripadanya.”Dalam tafsir Ibnu Katsir hal. 123-125 dinyatakan:”Tidak diperbolehkan secara syara’ maupun akal untuk menyimpang dari manhaj ini dan memilih manhaj yang lain, karena beberapa sebab:
(1) Manhaj ini (dakwah kepada tauhid) adalah jalan yang paling lurus yang telah digariskan oleh Allah untuk seluruh para Nabi, dari yang awal sampai yang akhir. Allahlah peletak manhaj ini dan Allahlah yang menciptakan manusia. Dia adalah Dzat yang Maha Tahu akan kemaslahatan rohani dan jiwa mereka.
(2) Para Nabi dan Rasul telah mempraktekkan manhaj ini dengan sungguh-sungguh dan ini menunjukkan suatu bukti nyata bahwa manhaj ini bukan hasil ijtihad. Oleh karena itu, kita tidak menjumpai di dalamnya:a) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan tasawuf.b) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan filsafat dan ilmu kalam.c) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan politik.Justru kita dapati bahwa mereka menempuh satu manhaj dan perhatian mereka pun hanya satu, yaitu tauhidullah (mentauhidkan Allah). Inilah yang mereka letakkan di peringkat pertama.
(3) Apabila kembali kepada Al-Qur’an, kita akan temui bahwa semua rasul, aqidahnya adalah Aqidah Tauhid dan dakwahnya dimulai dengan tauhid. Tauhid ini merupakan masalah terpenting dan terbesar dari apa yang mereka bawa. Kita akan jumpai pula bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti dan menempuh manhaj para Rasul terdahulu. Apabila kita menelaah perjalanan dakwah Nabi kita, niscaya akan kita jumpai bahwa dakwah beliau dari awal hingga akhir difokuskan kepada masalah tauhid dan memberantas syirik beserta fenomena-fenomena dan sebab-sebab yang menjerumus kepadanya.”Semua itu adalah gambaran sekilas tentang manhaj para Nabi dan Rasul dalam berdakwah ke jalan Allah yang wajib bagi semua du’at (para da’i) untuk ittiba’ dan menempuh apa yang mereka tempuh. Untuk lebih rincinya, bisa dilihat di buku karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah.Bagaimanakah Metode Dakwah yang Benar ?
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan dengan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (QS An-Nahl: 125)

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Allah menyebutkan jenjang-jenjang dakwah dan menjadikannya tiga bagian menurut keadaan mad’u (objek dakwah), karena sesungguhnya mad’u itu kadang-kadang:
1) Orang yang mencari dan cinta kebenaran, dia akan lebih mementingkan kebenaran daripada yang lainnya kalau dia mengetahuinya. Maka orang seperti ini diseru dengan al-hikmah (ilmu), tidak membutuhkan pengarahan ataupun bantahan.
2) Orang yang sibuk dengan sesuatu yang menyelisihi kebenaran, tapi kalau dia mengetahuinya maka dia akan mengikutinya. Maka orang yang seperti ini membutuhkan mau’izhah (pengarahan) berupa kabar gembira dan ancaman.
3) Orang yang menentang dan berpaling dari kebenaran. Maka orang semacam ini dibantah dengan cara yang baik, kalau-kalau dia mau ruju’ (kembali kepada kebenaran). Tetapi kalau tidak mau maka dibawa kepada algojo/eksekutor (dalam pemerintahan Islam, red) jika memungkinkan.” (Lihat Fathul Majid hal. 101)
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di berkata:”Termasuk al-hikmah adalah berdakwah dengan ilmu, bukan dengan kebodohan. Juga di antaranya memulai dari perkara yang paling penting (yakni tauhid), dengan masalah yang mudah dicerna dan dipahami, serta dengan cara yang lemah lembut. Tetapi, apabila cara ini tidak berhasil, gunakanlah metode berikutnya yaitu mau’izhah hasanah (pengarahan yang baik). Cara ini disertai dengan targhib (kabar gembira) dan tarhib (ancaman). Tetapi jika mad’unya merasa dirinya benar atau dia penyeru kepada kebatilan, maka bantahlah dia dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tepat yang membuat dia mau memenuhi panggilan dakwah.” (Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan 4/254-255)
Akhlak Seorang Da’iAkhlak da’i yang baik, dapat kita ketahui dari kriteria yang diberikan oleh Syaikh bin Bazz dalam kitabnya Fadhlud Dakwati ilallah hal. 32-34.Beliau berkata: “Adapun akhlak dan sifat yang harus dipunyai oleh seorang da’i di dalam berdakwah banyak sekali, antara lain:
a. Ikhlas.Wajib atas seorang da’i untuk ikhlas karena Allah (di dalam berdakwah), tidak riya’, sum’ah (cari popularitas) ataupun pujian orang.
Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Katakanlah (hai Muhammad): Inilah jalanku, aku berdakwah ke (jalan) Allah….” (QS Yusuf: 108)

b. Memiliki ilmu tentang apa yang didakwahkannya
“Katakanlah (hai Muhammad): “inilah jalanku, aku berdakwah ke (jalan) Allah dengan bashirah….” (Yusuf: 108)
Wajib bagi setiap da’i untuk mengilmui apa yang dia dakwahkan dan melihat dalil-dalilnya, maka apabila telah jelas bagi dia kebenaran dan dia mengetahuinya maka dia dakwahkan, apakah itu berbentuk perbuatan ataupun sesuatu yang dilarang untuk dikerjakan.
c. Ramah dan lemah lembut di dalam berdakwah.
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….”
(QS An-Nahl: 125)

Mengamalkan dan menjadi suri teladan yang baik dari apa yang dia dakwahkan.Tidak seperti orang yang mendakwahkan sesuatu kemudian dia meninggalkannya atau melarang sesuatu kemudian dia malah mengerjakannya. Sebab, ini adalah keadaannya orang-orang yang merugi.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat.” (QS Ash-Shaf: 2-3)

Menanggapi tentang akhlak yang harus dimiliki para da’i Syaikh Shalih bin Fauzan di dalam mukaddimah kitab Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah mengatakan:
1. Mengilmui apa yang dia dakwahkan, karena orang jahil tidak berhak untuk menjadi da’i.
Allah berfirman
“Katakanlah (hai Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke (jalan) Allah dengan bashirah.” (QS Yusuf: 108)

2.Mengamalkan apa yang dia dakwahkan.Ini dimaksudkan agar dia menjadi suri teladan yang baik, yang amalannya membenarkan perkataannya, sehingga ahlul batil tidak mempunyai hujjah untuk melawannya.
Allah berfirman tentang Nabi Syu’aib bahwa dia berkata kepada kaumnya
“… Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan ….” (QS Hud: 88)3.

3. Ikhlas dalam berdakwah.Yaitu karena Allah semata, tidak ingin riya, popularitas, pangkat, kepemimpinan, dan tidak pula karena tujuan-tujuan duniawi yang lainnya, karena kalau diselipi dengan maksud-maksud di atas tadi, maka dakwahnya bukan karena Allah melainkan karena kepentingan pribadi.
4. Memulai dari yang terpenting kemudian yang penting (berikutnya).Yaitu memulai dengan perbaikan aqidah, dengan memerintahkan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan melarang dari perbuatan syirik. Kemudian juga memerintahkan shalat, zakat, amalan-amalan wajib dan melarang dari perkara-perkara haram yang lainnya. Sebab, inilah jalan yang ditempuh oleh para Rasul.
Allah berfirman yang artinya:”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu….” (QS An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya’: 25)
Sejarah perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan contoh yang baik dan manhaj dakwah yang paling lengkap, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Mekkah selama 13 tahun untuk menyeru umat manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari perbuatan syirik. Ini dilakukan sebelum menyeru kepada shalat (lima waktu), zakat, puasa, dan haji. Dan ini sebelum melarang mereka dari zina, riba, mencuri dan bunuh diri,
Bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya dalam berdakwah ke jalan Allah.Seorang da’i harus sabar dalam berdakwah karena perjalanan dakwah tidak selamanya mulus dan tidak semudah yang dibayangkan.
Jalan dakwah itu penuh dengan rintangan dan marabahaya. Contoh-contoh da’i yang baik tentu saja adalah para Rasulullah shalawatullah wa salamuhu alaihim.
Allah berfirman
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka….” (QS Al-An’am: 34)6.

Berbudi pekerti yang luhur dan menggunakan hikmah dalam dakwahnya.Dengan cara ini, dakwah sering kali lebih mudah diterima. Dan ini sesuai pula dengan apa yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika mereka berdakwah kepada Fir’aun, orang yang paling kafir di muka bumi saat itu karena mengaku sebagai Tuhan.
Allah berfirman
“Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaha: 44)

Demikian pula apa yang difirmankan Allah pada Nabi Muhammad, bagaimana beliau harus berdakwah kepada umatnya
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran: 159)7.
Bertekad bulat dengan cita-cita yang kuat.Seorang da’i tidaklah boleh putus asa dalam berdakwah dan tidak pula boleh putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, walaupun ia telah berdakwah dalam jangka waktu yang lama. Cukuplah bagi dia, para Rasul sebagai suri teladannya. Ingatlah bagaimana sikap Nabi Nuh yang selama 950 tahun menyeru kaumnya ke jalan Allah. Ingatlah pula apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kaumnya dengan kejamnya menganiaya beliau, sampai-sampai beliau didatangi malaikat penjaga gunung yang meminta izin untuk menjatuhkan batu-batuan kepada mereka.
Rasulullah pada saat itu hanya menjawab (yang maknanya): “Jangan, (biarlah) aku tangguhkan mereka. Mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari anak cucu mereka, orang-orang yang beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun.”
Inilah beberapa akhlak yang harus dimiliki oleh setiap da’i. Para da’i yang tidak memiliki sifat dan akhlak di atas, dakwahnya niscaya akan kandas dan usahanya akan menjadi sia-sia.Fadhilah (Keutamaan) Dakwah
1. Allah berfirman
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru ke jalan Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” (QS Fushshilat: 33)
Setelah membaca ayat ini, Hasan Al-Bashri berkata:”Orang ini adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Ia adalah orang yang paling dicintai Allah. Allah kabulkan doanya dan menyeru manusia kepada apa yang (menyebabkan dia) dikabulkan doanya oleh Allah. Dan dia beramal shalih ketika dikabulkan doanya sambil berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” Maka orang ini adalah khalifah Allah.” (At-Thabari 11/109-110)2.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib
“…Sungguh jika Allah memberi hidayah kepada seorang laki-laki disebabkan (dakwah) kamu, niscaya itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta kekayaan yang termahal).” [HR. Bukhari 7/58, Muslim (2406) dan Imam Ahmad 5/333]3.
Dari Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Barangsiapa menunjukkan (orang) kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim 1893)4.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:?”Barangsiapa menyeru kepada huda (petunjuk) maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi dari pahala mereka (pengikutnya) sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” [HR. Muslim (2674)]
Tujuan Dakwah SalafiyyahSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz hafizhahullah berkata dalam bukunya Fadhlud Da’wah ilallah hal. 32:’
“Tujuan dakwah adalah mengeluarkan manusia dari gelapnya kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas dan murni. Di samping itu, juga membimbing mereka kepada kebenaran sehingga mereka mengetahuinya dan mengamalkannya. Pada akhirnya, mereka selamat dari api neraka dan kemurkaan Allah. Tujuan dakwah juga mengeluarkan orang kafir dari gelapnya kekufuran kepada cahaya iman dan petunjuk; mengeluarkan orang jahil dari kegelapan kebodohannya kepada cahaya ilmu, dan mengeluarkan ahli maksiat dari kegelapan kemaksiatannya kepada cahaya ketaatan.
Inilah seluruh tujuan dakwah, sebagaimana yang difirmankan Allah
“Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman)…” (Al-Baqarah: 257)

Wallahu a’lam bis-Shawab
Maraji:
1. Tafsir At-Thabari oleh Ibnu Jarir At-Thabari
2. Tafsir Ibnu Katsir oleh Ibnu Katsir
3. Ad-Durrul Mantsur oleh Imam Suyuthi
4. Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Qurthubi
5. Aisarut Tafasir oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
6. Taisirul Karimir Rahman oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di
7. Daqa’iqut Tafsir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
8. Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
9. Fadhlud Da’wah Ilallah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz

Minggu, 04 Maret 2012

MENGHAFAL AL-QUR’AN

CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR’AN

Pada edisi sebelumnya,  telah kami posting RUMUS PRAKTIS MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN maupun bekal-bekal yang harus dipersiapkan oleh para penghafal Al Qur’an Al Karim. Sedangkan pada edisi kali ini, kami akan berikan penjelasan tentang CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN yang ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba. [admin]
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين
Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:
وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:
وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini
Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.
Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?
Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.
Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.
Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.
Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?
Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.
Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?
- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:
- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.
Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?
Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.
Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an
o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda
o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..
o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas
o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.
o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.
Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445 [mirror]
Artikel: www.salafiyunpad.wordpress.com

Senin, 27 Februari 2012

Macam2 Sedekah !

Oleh Pentingnya Menuntut Ilmu Syar'i
DA'WAH TAUHID

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, engkau menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, engkau melarang dari kemungkaran adalah sedekah, engkau memberi petunjuk kepada orang di tempat ia tersesat adalah sedekah, engkau menuntun orang yang lemah penglihatannya (buta) adalah sedekah, engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang (gangguan) dari jalan adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah sedekah."
(HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 891, At-Tirmidzi, no. 1956, dan Ibnu Hibbaan, no. 474, 530)

Dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari jalan Hudzaifah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Setiap kebaikan adalah sedekah."
(HR. Muslim, no. 1005)

Kunci Sukses Bermu'amalah

Al Husain, menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata : Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku mengatakan, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti luhur lagi rendah hati. Beliau bukan seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang mencela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkannya, pasti tidak akan kecewa. Dan siapa saja yang memenuhi undangannya, pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara, (yaitu) riya, berbangga-bangga diri, dan dari yang tidak bermanfaat. Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara, (yaitu): beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala. Jika berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka di sisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa.

Minggu, 26 Februari 2012

Ucapan & Konsekwensinya

Dampak Jelek Bagi Orang Yang Mengucapkan/Melakukan Sesuatu Tanpa Memikirkan Konsekuensinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‎إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat.
‎وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”.
[HR al-Bukhâri, no. 6478].
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu.
[Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]
[Artikel Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari, "Mengendalikan Lidah", yang disalin almanhaj.or.id dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M]
Ibnu Rajab berkata,
“Maksud buah ucapan lisan adalah balasan dan hukuman atas perkataan-perkataan yang diharamkan. Karena sesungguhnya manusia itu menananm ucapan dan amalan yang baik dan buruk di dunia, kemudian menuainya pada hari kiamat.
Maka barangsiapa menanam kebaikan baik berupa ucapan maupun amalan, maka dia akan menuai kemuliaan. Sebaliknya barangsiapa yang menanam kejelekan berupa ucapan maupun amalan, maka dia akan menuai penyesalan di kemudian harinya.”
(Jami’ul Ulum wal Hikam 2/143; Dikutip dari majalah Al-Furqon 2/II/1423H hal 19 – 20; dari blogvbaitullah)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‎إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ
“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”.
[HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: "Hasan shahîh"]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‎إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu, dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”
[HR Muslim, no. 2988].
Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. Lâ haula wa lâ quwwata illa bilâhil-’aliyyil-’azhîm.
[Artikel Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari, "Mengendalikan Lidah", yang disalin almanhaj.or.id dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M]
Berkata tanpa ilmu dapat menghapuskan amalan dan memasukkan seseorang ke neraka
Dari Jundab, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan:
‎أَنَّ رَجُلًا قَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ
Ada seorang laki-laki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Si Fulan!”
‎وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ
Kemudian sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulan?!
‎فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
Sesungguhnya Aku telah mengampuni Si Fulan, dan Aku menggugurkan amalmu”.
Atau seperti yang disabdakan Nabi
[HR Muslim, no. 2621].
[Artikel Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari, "Mengendalikan Lidah", yang disalin almanhaj.or.id dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M]
Pelaku ghibah puasanya sia-sia
Rasulullah bersabda:
‎مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya[*] serta berbuat kebodohan[**] maka Allah tidak butuh kepada puasanya dari meninggalkan makan dan minumnya”
(HR Al-Bukhori no 1903, 6057. Hadits ini diriwayatkan oleh Hannad bin As-Sari dalam kitabnya Az-Zuhud II/572 no 1200 pada bab الْغِيْبَةُ لِلصَّائِمِ “Ghibah yang dilakukan oleh orang yang berpuasa”)
[*] Yaitu mengamalkan konsekuensi dari kedustaan tersebut (Al-Fath 4/151)
[**] Syaikh Abdullah Al-Fauzan menjelasakan,”Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan tindakan orang-orang budoh seperti berteriak-teriak dan hal-hal yang bodoh lainnya” (Ahaditsu siyam hal 74)
Berkata Ibnu At-Thin,
” Zohir hadits menunjukkan bahwa barangsiapa yang berbuat ghibah tatkala sedang puasa maka puasanya batal, demikianlah pendapat sebagian salaf[*]. Adapun jumhur ulama berpendapat sebaliknya (yaitu puasanya tidak batal), namun menurut mereka makna dari hadits ini bahwasanya gibah termasuk dosa besar dan dosanya tidak bisa sebanding dengan pahala puasanya maka seakan-akan dia seperti orang yang batal puasanya”.
[Fathul Bari X/473]
[*] Diantaranya adalah Anas bin Malik sebagaimana diriwayatkan oleh Hannad bin As-Sari dalam kitabnya Az-Zuhud II/573 no 1204. Anas berkata, “Jika seseorang yang berpuasa berbuat ghibah maka ia telah berbuka”
Meskipun Ibnu Hajar kurang setuju dengan pendalilan Ibnu At-Tin dengan hadits ini (karena hadits ini tidak menyebutkan tentang ghibah akan tetapi hanya menyebutkan perkataan dusta), namun Ibnu Hajar setuju tentang hukum yang disebutkan oleh Ibnu At-Thin bahwasanya orang yang berpuasa dan berghibah maka ia tidak mendapatkan pahala puasanya karena dosa ghibahnya tidak sebanding dengan pahala puasa yang diraihnya.
(Fathul Bari X/473).
Hal ini jalas menunjukan bahwa dosa ghibah sangatlah besar hingga memakan pahala puasa yang sangat besar !!!
Abul ‘Aaliyah berkata,
“Orang yang berpuasa berada dalam ibadah bahkan meskipun ia sedang tidur selama tidak berbuat ghibah”
[Diriwayatkan oleh Hannad dalam kitabnya Az-Zuhud II/573 no 1201]
[Artikel Ustadz Firanda, "Bahaya Menggunjing", yang disalin dari website beliau; http://firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/31-bahaya-menggunjing?showall=1]
Orang yang tidak menjaga lisannya atau tangannya menjadi orang yang MUFLIS (BANGKRUT) dihari kiamat
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ
“Tahukah kalian siapa AL-MUFLIS (orang yang bangkrut) itu?”
Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ
“Sesungguhnya AL-MUFLIS dari ummatku adalah orang-orang yang datang di Hari Kiamat dengan membawa PAHALA shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga pernah MENCACI si fulan, MENUDUH si fulan (tanpa bukti), memakan harta si fulan, MENUMPAHKAN DARAH si fulan, memukul si fulan, maka diberikanlah pahalanya pada si fulan dan si fulan.”
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Sehingga apabila telah habis pahalanya sebelum habis dosanya, maka diambillah dosa orang-orang lain tersebut dan dipikulkan pada dirinya lalu dilemparkan ia ke neraka.”
[HR. Muslim]
Ghibah merupakan penyebab siksa kubur
Imam Al-Bukhari membawakan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu di bawah bab Ghibah, beliau (Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu) berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu ia berkata:
‎إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ، أَمَّا هَذَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ
“Sesungguhnya keduanya sedang di adzab, dan tidaklah keduanya disiksa karena perkara yang besar (menurut anggapan mereka, ed). Adapun yang ini ia tidak bersih tatkala buang air kecil, dan adapun yang ini ia berjalan sambil bernamimah”
(HR Al-Bukhari V/2249 no 5705)
Meskipun hadits ini tidak meyebutkan ghibah namun Imam Al-Bukhari membawakannya di bawah bab ghibah.
Berkata Ibnut Tin,
“Imam Al-Bukhari menyebutkan hadits ini di bawah judul ghibah padahal yang disebutkan dalam hadits ini adalah namimah karena keduanya sama-sama merupakan bentuk penyebutan sesuatu yang dibenci oleh orang yang sedang dibicarakan dan dia sedang tidak hadir”
(Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari X/470).
Berkata, “Al-Kirmani,
“Ghibah merupakan salah satu bentuk dari namimah, karena jika orang yang sedang dinukil perkataannya mendengar perkataan yang dinukil darinya maka akan menyedihkannya”
(Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari X/470).
Ibnu Hajar berkata,
“Ghibah terkadang terdapat dalam sebagian bentuk-bentuk namimah, yaitu jika ia menyebutkan saudaranya -dan ia tidak hadir- tentang perkara yang tidak disukai oleh saudaranya tersebut dengan maksud untuk menyebarkan kerusakan.
Maka ada kemungkinan bahwa kisah tentang orang yang di adzab di kuburnya demikian kisahnya (yang disebutkan hanyalah namimah), dan ada kemungkinan juga bahwa Imam Al-Bukhari memberi isyarat kepada lafal yang terdapat pada beberapa jalan hadits yaitu lafal “ghibah” yang sangat jelas”
[Fathul Bari X/470-471]
[Artikel Ustadz Firanda, "Bahaya Menggunjing", yang disalin dari website beliau]
Pelaku ghibah disiksa dengan adzab yang sangat pedih
Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
‎مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ بِأَظَافِرِيْهِمْ
”Pada malam isro’ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”
‎فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيْلُِ مَنْ هَؤُلآءِ؟
Lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”
‎قَالَ : الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ النَّاسَ, وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ
Jibril berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”.
Dalam riwayat yang lain :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‎لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ
Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka.
‎فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟
Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”
‎قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ
Jibril berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”.
(Riwayat Ahmad (3/223), Abu Dawud (4878,4879), berkata Syaikh Abu ishaq Al-Huwaini : Isnadnya shohih, lihat kitab As-Somt hadits no 165 dan 572)
[Artikel Ustadz Firanda, "Bahaya Menggunjing", yang disalin dari website beliau; http://firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/31-bahaya-menggunjing?showall=1]
Demikianlah bahaya LISAN/TULISAN yang TIDAK TERKENDALI. (Yang diantara penyebabnya adalah orang-orang yang berbicara tanpa ilmu dan tanpa bukti yang nyata, tapi hanya berdasarkan prasangka atau “kata orang”). Karena sedemikian besar bahaya lisan/tulisan itulah, tidak salah apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya.
“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!”
Beliau menjawab:
‎قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqomahlah”.
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”.
Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda:
‎هَذَا
“Ini”.
[HR Tirmidzi, no. 2410. Ibnu Majah, no. 3972. Dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani]
Syaikh Husain al-’Awaisyah berkata:
“Sesungguhnya sekarang ini, sesuatu yang manusia merasa amat tenteram terhadapnya ialah lidah mereka, padahal lidah yang paling dikhawatirkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas umatnya. Dan yang nampak, lidah itu seolah-olah pabrik keburukan, tidak pernah lelah dan bosan”
[Hashâ`idul-Alsun, Penerbit Darul-Hijrah, hlm. 15]
[Artikel Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari, "Mengendalikan Lidah", yang disalin almanhaj.or.id dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M]
Semoga bermanfaat

Indahnya Matematika



Indahnya matematika


1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

sekarang perhatikan simetrisnya


1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

sekarang perhatikan ini


101% dari sudat pandang matematika murni

Apa yang dimaksud dengan 100%?

Apa yang dimaksud dengan memberi lebih dari 100%?

Pernah memikirkan tentang orang2 yg memberikan lebih dari 100%?

Kita pasti pernah berada pada situasi dimana orang2 ini kita utk memberikan lebih dari 100%

Tapi bagaimana dgn menerima 101%?



Ini sedikit rumus matematika yg dibayangkan


jika :

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
disetarakan dengan :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

jika:

H-A- R- D –W – O - R- K
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%

dan:

K - N – O –W – L - E- D -G- E
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%

maka:

A- T – T – I – T - U – D -E
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%

sekarang, berapa yang diberikan oleh love of God:

L – O – V – E – O - F- G -O-D
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%

kesimpulannya dalam matematika:

ketika hardwork dan knowledge akan membawamu ke arah 100% kemampuanmu, maka attitude akan membuatmu sempurna 100%.

Tapi hanya love-of-god yang akan membuatmu melebihi kemampuan yang ada pada dirimu.

Matematika Cinta

Differensial Cinta

Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar,
membelah rasa diagonal-diagonal ruang hatiku,
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku.

Jika aku adalah persamaan dengan akar-akar x1 dan x2,
maka kaulah persamaan dengan akar-akar 2×1 dan 2×2.

Aku ini binatang jalang,
dari himpunan yang kosong.

Kaulah integrasi belahan jiwaku,
kaulah kodomain fungsi hatiku.

Kemanakah harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?

Harus dengan metode apakah kubuktikan cintaku?
Metode kontradiksi?
Ataukah pembuktian langsung?

Kulihat variabel dimatamu,
matamu bagaikan elipsoid,
hidungmu bagaikan asimtot hiperbola,
dan bibirmu bagaikan grafik kosinus jika kau tersenyum
padaku.

Modus ponen?
Modus tolen?
Dengan modus apakah kusingkap logika hatimu?

Beribu-ribu matriks n x n kutempuh,
harus bagaimanakah kuungkap adjointku padamu?

Kujalani tiap geometri yang takhingga banyaknya,
dan tiap barisan aritmatika yang tak terhitung,
sampai akhirnya kutemui determinan matriks hatimu,