Kamis, 13 Oktober 2016

Selingkuh (1)

LIFESTYLE

Ini Tanda Anda Terjebak Hubungan Palsu

Hubungan adalah sesuatu yang harus dijalani dengan kesungguhan dan tidak boleh ada kepalsuan sedikit pun antara Anda dan pasangan. Kepalsuan yang Anda maupun pasangan buat, justru hanya akan memperburuk keadaan.

Mungkin awalnya, Anda merasa apa yang Anda tutupi berjalan dengan baik dan berharap akan berakhir sempurna. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan menyadari bahwa Anda harus menciptakan kebohongan lainnya dan berpikir bahwa ternyata hubungan Anda penuh dengan kepura-puraan.

Berikut beberapa tanda bahwa hubungan Anda tengah berada dalam kebohongan dan kepura-puraan, seperti dilansir Boldsky.

1. Dia tidak mau membaca pikiran Anda
Terkadang Anda hanya membutuhkan untuk bisa berbagi segala hal yang dirasakan dengan pasangan. Anda berharap tak perlu menjelaskannya, karena dia sudah mengerti apa yang sedang Anda rasakan. Tapi jika pasangan tidak pernah mengerti tentang diri Anda dan apa yang tengah Anda rasakan, kemungkinan ada hal yang salah dalam hubungan.

2. Tidak ada chemistry satu sama lain
Salah satu kebutuhan untuk saling memahami antara pasangan adanya chemistry satu sama lain. Jika hal ini tidak dirasakan, hubungam akan berjalan basi dan tidak bernyawa. Anda harus menyadari bahwa Anda terjebak dalam hubungan yang tak memiliki jiwa.

4. Tidak pernah memuji
Kita semua pasti senang dipuji dan tidak pernah menolak hal ini, apalagi jika itu keluar dari mulut pasangan. Pujian-pujian kecil juga dapat memperkuat hubungan. Jika ini hilang, maka ada sesuatu yang tidak benar dalam hubungan.

5. Anda sering meyakinkan diri sendiri
Jika Anda merasa harus meyakinkan diri sendiri atas apa yang Anda rasakan terhadap dia atau meyakinkan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk Anda, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda berada dalam hubungan palsu. Karena jika Anda mencintaimya, Anda bisa merasakan dalam hati bahwa dia adalah belahan jiwa yang Anda cari selama ini. Jadi, bukannya sibuk meyakinkan diri sendiri.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Steve Jobs (1)

5 Kunci Sukses Steve Jobs yang Akan Menginspirasi Kamu

Siapa yang tidak kenal Steve Jobs? Beliau adalah pendiri dari Apple Computer yang juga merupakan penemu yang berasal dari Amerika Serikat. Meskipun beliau telah meninggal tahun 2011 silam, jasanya tidak akan pernag dilupakan karena beliau telah membuat perubahan besar di bidang teknologi.

Apple sendiri sudah berkembang pesat sampai sekarang. Terbukti dengan suksesnya iPhone di pasaran, ada juga MacBook, iPod, iPad dan masih banyak lagi. Tentunya semua produk Apple dikemas dengan kualitas premium. Terus apa sih yang membuat Steve Jobs bisa sebegitu suksesnya? Berikut TS rangkum 5 kunci sukses ala Steve Jobs yang bisa kamu jadikan inspirasi.

1. Lakukan Apa yang Kamu Suka

Hal inilah yang akan menjadi dasar jika kamu ingin sukses. Mulailah dengan hal-hal yang kamu suka. Seperti kita tau, pekerjaan yang dilakukan atas dasar suka (tanpa paksaan) pastilah akan membuahkan hasil yang memuaskan juga. Kamu bisa menciptakan sesuatu hal yang luar biasa dari sini.

2. Carilah Relasi

Untuk menjalankan sebuah bisnis, peran relasi sangatlah penting. Dengan memiliki banyak relasi kamu akan lebih mudah menjalankan bisnis dan mencari berbagai informasi yang berkaitan dengan bisnismu. Tentu akan sangat berbeda jika kamu melakukan semuanya sendirian bukan?

3. Belajar Mengatakan Tidak

Tidak disini berarti belajar untuk mengetahui apa hal yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Hal yang kita inginkan tidak selalu kita butuhkan, tapi hal yang kita butuhkan sudah pasti menjadi keinginan kita. Untuk meraih sukses, kamu harus benar-benar tau apa yang kamu butuhkan. Percayalah, kualitas selalu lebih diutamakan daripada kuantitas.

4. Cari Pengalaman Baru

Jangan berhenti saat kamu sudah sukses. Cari dan carilah pengalaman baru untuk menambah wawasan kamu. Jika kamu seorang pelaku bisnis, janganlah fokus dengan apa yang kamu kamu jual saja melainkan kamu juga harus tau bagaimana metode penjualan yang tepat. Ini akan menjadi kombinasi ampuh dalam membangun bisnis yang kamu jalankan.

5. Biarkan Orang Tau Idemu

Saat kamu punya sebuah ide cemerlang tapi kamu hanya diam saja, ide tersebut hanya akan menjadi sebuah ide belaka. Jika ada orang lain yang mengemukakan ide serupa dengan idemu, dialah yang akan dianggap sebagai penemu ide tersebut. Jadi presentasikan idemu dan biarkan semua orang tau!

Suksesnya seseorang memang tidak ada yang tau. Kunci sukses setiap orang tergantung pada dirinya sendiri. Mulailah dari hal kecil, selalu berusaha dan jangan putus asa.

Kamis, 29 September 2016

FITNES usia tua

KISAH INSPIRATIF : Umur 50 tahun belajar fitness, umur 79 tahun jadi model terkenal

Usia bukan penghalang meraih mimpimu, mungkin itulah yang ingin diutarakan oleh Wang Deshun (79 tahun) asal Cina. Bagaimana tidak, pada umurnya yang sudah menginjak kepala 8 itu, beliau masih menggapai keinginannya untuk menjadi seorang model. Bahkan penampilannya mengalahkan model-model muda lainnya dan memukau penonton panggung peragaan busana tersebut. Saat kita lihat, sorot mata beliau menunjukkan keyakinan, langkahnya yang pasti dan bentuk badan yang tegap mencerminkan keyakinan dirinya.
"Saat aku melihatnya, aku merasa dia kembali ke umur 20-an" tulis salah seorang penggemar di media sosial.

Wang memulai karirnya sebagai aktor panggung di Teater Changchun ketika dia berumur 24 tahun. Namun, karena industri hiburan terus berkembang dan teater secara bertahap kehilangan popularitasnya di Changchun, Wang 49 tahun dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Beijing untuk terus mengejar cintanya teater .Namun , kehidupan di Beijing itu sulit . Tidak dapat menemukan pekerjaan akting tradisional , Wang mulai mengembangkan bentuk unik sendiri seni kinerja diam .

Dengan penampilannya sering melibatkan lukisan dirinya dan berdiri diam selama berjam-jam pada suatu waktu Wang mulai memukul gym pada usia 50 .Selama tahun 1980 -an dan awal 1990-an , ia membangun nama untuk dirinya sendiri di Beijing dan dilakukan di luar negeri di tempat-tempat seperti Jerman , Perancis dan Korea Selatan
"Saya bekerja membangun fisik selama empat jam sehari  dan butuh tiga tahun untuk membuat tubuh saya terlihat seperti patung , " kata Wang dalam sebuah wawancara dengan Yangtze Evening Post . Menurut dia, ia terus bekerja setidaknya dua puluh jam setiap hari

Kisah Inspiratif ini juga menarik perhatian Artis Indonesia Wulan Guritno. Di akun instagram pribadinya, wulan guritno menuliskan demikian :
“Wang Deshun (China) baru mulai belajar bahasa Inggris usia 44 tahun, usia 49 tahun mulai belajar drama ke Beijing, di usia 50 tahun belajar fitness, dan di usia 65 tahun Wang Deshun belajar naik kuda. Di usia 70 tahun, Wang Deshun menjadi body builder dan belajar naik speda motor. Baru di usia 79 tahun, Wang Deshun menjadi model. Pada tanggal 25 Maret 2015, penampilan Wang Deshun di panggung fashion show menyedot perhatian media massa. Sejak saat itulah Wang Deshun menjadi sangat terkenal."

"Kisah perjuangan Wang Deshun kembali membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti belajar, berprestasi, atau mengejar impian. Sikap adalah segalanya. Sikap kita terhadap hidup ini akan menentukan masa depan dan prestasi. TIDAK ADA KATA TELAT DALAM APAPUN KALAU ADA KEMAUAN,” tulis Wulan Guritno kepada satu setengah juta pengikutnya di Instagram.

Senin, 26 September 2016

Reso Temmangingngi

Motivasi (Reso Temmangingngi) Dalam Suku Bugis

Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:
Aja’ mumaelo’ ribetta makkalla ri cappa alletennge
(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)

Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:

Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.
(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)

Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo’a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.

Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut.

Akkellu peppeko mulao,
a’bulu rompeko murewe’.

(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).

Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:
Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu
(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)

Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut.

Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.
(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)

Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.

Pustaka :

http://bangsabugis.blogspot.com

http://portalbugis.com/

Rabu, 21 September 2016

Imam Al-Syafi'i

Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i:
Gambar Diri Imam Syafi‘i dalam Syair

Saya kira hampir semua orang mengenal Muhammad ibn Idris al-Syafi‘i atau yang kita sebut secara singkat dengan Imam Syafi‘i, paling tidak pada sebatas ia adalah seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i. Atau, paling tidak, jika disebut Imam Syafi‘i maka yang tebersit pertama dalam pikiran adalah fikih. Dan, barangkali sedikit dari kita yang mengetahui jika Imam Syafi‘i adalah juga seorang penyair, meski ia tidak menulis buku khusus untuk syair-syairnya. Ia menyenandungkan syair secara spontan sebagai cerminan atas keadaan tertentu atau sebagai jawaban pertanyaan seseorang kepadanya. Seorang murid yang mendengar syair itu akan menghafalnya, lalu menyampaikannya dari mulut ke mulut, turun-temurun. Kemudian, para ulama-penulis akan menukil untuk buku-buku mereka syair-syair yang sesuai dengan tema yang mereka tulis. Akhirnya, tersebarlah syair-syair Imam Syafi‘i di berbagai karya tentang hadis, fikih, sejarah, bahasa, etika, dan sebagainya.

Dan, Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i adalah sebuah buku kecil yang merangkum syair-syair[1] Imam Syafi‘i—ada sekitar seratus lima puluhan syair—yang  terserak di berbagai karya tersebut. Tertulis di sampul buku itu, perangkumnya bernama Yusuf Syekh Muhammad al-Biqa‘i, seorang profesor bahasa dan sastra Arab. Sebagian besar syair-syair dalam Dîwân memotret soal moral dan nasihat serta refleksi dari keadaan masyarakatnya saat itu, sekaligus mencerminkan gambar diri Sang Imam.

Ada satu syairnya yang jika dibaca, kita akan tahu betapa Imam Syafi‘i begitu menghormati wanita. Ia tidak menempatkan wanita di posisi yang pantas dipojokkan atau menjadi bahan olok-olok. Simaklah …

أَكْثَرَ النَّاسُ فِي النِّسَاءِ وَقَالُوا

إِنَّ حُبَّ النِّسَاءِ جَهْدُ الْبَلَاءِ

لَيْسَ حُبُّ النِّسًّاءِ جَهْدًا وَلَكِنْ

قُرْبُ مَنْ لَا تُحِبُّ جَهْدُ الْبَلَاءِ

Banyak orang memperbincangkan wanita,

dan mereka mengatakan: mencinta wanita itu puncak bencana.

Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita,

melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.

Mungkin saja, Imam Syafi‘i hidup dalam masyarakat di mana faktor lelaki begitu dominan, saat para lelaki menganggap kelelakian adalah alasan yang membuat seorang lelaki bisa di atas wanita dalam berbagai hal, sehingga seseorang mudah saja mengolok-olok wanita. Atau, mungkin saja, pada suatu ketika, Imam Syafi‘i pernah melewati sekelompok laki-laki yang sedang nongkrong, dan mendengar mereka membicarakan kesialan mereka sendiri tentang wanita. Namun, kesialan itu mereka nisbatkan kepada wanita.

Yang tak sedikit dibicarakan Imam Syafi‘i dalam Dîwân adalah soal “bicara” dan “diam”. Imam Syafi‘i menasihati kita,

إِذَا نَطَقَ السَّفِيْهُ فَلَا تُجِبْهُ

فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوْتُ

Jika ada orang bodoh berbicara, jangan ditanggapi.

Jika harus ditanggapi maka tanggapan terbaik untuknya adalah diam.

Al-Safîh (orang bodoh) bisa kita pahami sebagai “orang bodoh tapi tak mau memikirkan kebodohannya” atau “orang bodoh tapi ngeyel” atau “orang bodoh tapi sok tahu”. Dalam Al-Quran, tepatnya ayat ke-142 dari surah al-Baqarah, al-sufahâ’ (bentuk plural dari al-safîh) dinisbahkan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrik yang mempertanyakan dengan maksud mengingkari keputusan pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah.

“Alasan apa yang membuat orang-orang muslim tidak lagi berkiblat ke Baitul Maqdis?!” kata mereka. Pertanyaan yang bernada sinis. Allah kemudian menyuruh Rasulullah memberi jawaban “sekenanya”: “Timur dan barat itu milik Allah!” Dalam bahasa kita, seperti ini: “Mau menghadap ke mana aja kek, terserah Allah dong!” Jika saja orang-orang Yahudi itu bertanya dengan maksud benar-benar ingin tahu—bukan mengingkari—barangkali Allah akan menyuruh Rasulullah memberi jawaban yang “sebenarnya”.

Mengapa orang-orang seperti itu (al-safîh) tidak perlu didengar dan ditanggapi omongannya? Tentu saja, karena jika al-safîh bertanya, ia tidak bermaksud ingin mendapatkan jawaban, tetapi hanya ingin mengungkapkan ketidaksukaan. Ia bertanya bukan untuk mencari arti, melainkan untuk mengingkari. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya membuang tenaga secara percuma. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan pengingkaran selanjutnya. Menanggapi orang-orang yang ngeyel, orang-orang yang sok tahu, orang-orang yang berdiskusi tanpa argumentasi, orang-orang yang berbicara hanya ingin didengarkan tapi tak mau mendengarkan, pada akhirnya itu sama saja dengan kita menunjukkan kebodohan diri kita sendiri, membuat kita tampak bodoh di hadapan mereka. Namun, “Jika harus ditanggapi,” kata Imam Syafi‘i, “tanggapan terbaik untuknya adalah diam.”

Itulah diam dalam makna yang disebut peribahasa “diam itu emas”. Diam yang menyimpan hikmah. Membangun harga diri dengan tak banyak bicara tanpa arti. Imam Syafi‘i membuat analogi sangat menarik tentang itu dalam syairnya,

أَمَّا تَرَى الأَسَدَ تُخْشَى وَهْيَ صَامِتَةٌ

وَالْكَلْبُ يُخْسَى لَعَمْرِي وَهْوَ نَبَّاحُ

Kautahu, macan tetap ditakuti meski sedang diam,

namun anjing akan dilempar jika terlalu banyak menggonggong.

Apalagi banyak bicara tanpa arti, bahkan, kata-kata yang pada dirinya benar dan penuh arti pun tak secara otomatis pantas dibicarakan dan disampaikan. Yang benar tak selalu berarti baik. Kebenaran berkaitan dengan “sesuatu yang harus disampaikan”, sementara kebaikan berkaitan dengan “bagaimana cara sesuatu harus disampaikan”. Kebenaran berkaitan dengan logika, kebaikan berkaitan dengan etika. Sesuatu yang logis harus disampaikan secara etis. Barangkali kita memiliki pendapat atau nasihat yang kebenarannya tak terbantahkan. Tapi, kita juga harus berpikir sebelum menyampaikan pendapat atau nasihat itu kepada orang lain: Apakah sesuai betul untuk kondisi orang itu?  Apakah pendapat atau nasihat itu dibutuhkan? Apakah orang itu menghendaki? Jangan-jangan berdasar asumsi kita saja bahwa orang itu membutuhkan pendapat atau nasihat, atau jangan-jangan kita yang terlalu “bersemangat”. Jangan sampai kemudian niat baik kita menjadi buruk gara-gara cara  kita menyampaikannya tidak bijak. Kurang-lebih, seperti itulah yang ingin disampaikan Imam Syafi‘i dalam syairnya ini:

وَلَا تُعْطِيَنَّ الرَّأْيَ مَنْ لَا يُرِيْدُهْ

فَلَا أَنْتَ مَحْمُوْدٌ وَلَا الرَّأْيُ نَافِعُهُ

Jangan kausampaikan pendapat kepada orang yang tak menghendaki;

kau tidak akan mendapat pujian, tidak pula pendapatmu akan berguna.

Sebab itulah tak jarang kita menyaksikan di media-media, satu kelompok bergerak menyerukan kebenaran, tapi yang tebersit dalam sebagian hati kita justru bukan simpati, melainkan caci maki. Dan, tentu saja, bukan caci maki terhadap diri kebenaran, melainkan terhadap ekspresi-kebenaran yang tak benar.

Gambar diri lain dari Imam Syafi‘i yang bisa kita lihat dalam Dîwân­ adalah sikap-rendah-hatinya yang tinggi. Untuk kita ingat … Imam Syafi‘i adalah: seorang bayi yang kelahirannya bertepatan dengan kematian seorang pendiri mazhab-fikih terbesar [yang lain], Mazhab Hanafi, yaitu Imam Abu Hanifah, dan kebesarannya telah diramalkan, sehingga, saat itu, orang-orang berujar, “Mâta imâm wa wulida imâm” (Seorang imam telah berpulang dan [calon] seorang imam telah datang); seorang anak yang telah hafal Al-Quran secara penuh saat berusia tujuh tahun, dan telah hafal seluruh isi al-Muwaththa’—kitab berisi kumpulan hadis—pada usia lima belas tahun, sebelum berguru kepada penulis kitab itu, Imam Malik ibn Anas, yang juga seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, yaitu Mazhab Maliki; seseorang yang kemudian mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i—mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia; seorang guru yang muridnya bernama Imam Ahmad ibn Hanbal juga mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Hanbali; jika Anda pernah menjumpai nama ulama klasik yang dalam rangkaiannya tertulis “al-Syafi‘i”, itu artinya, dalam masalah fikih, ia mengikuti metode fikih yang dibangun Imam Syafi‘i; atau Anda barangkali ingin menambahkan nama besar Imam Syafi‘i dari sudut yang lain …. Namun demikian, coba kita perhatikan apa yang Imam Syafi‘i gambarkan tentang dirinya dalam syair ini,

كُلَّمَا أَدَّبَنِى الدَّهْرُ أَرَانِي نَقْصَ عَقْلِي

وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِي عِلْمًا بِجَهْلِى

Masa mendidikku dan memperlihatkan jika pengetahuanku semakin berkurang.

Pun jika pengetahuanku bertambah maka itu adalah pengetahuan tentang kebodohanku.

Atau yang ini,

أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ

لَعَلِّى أَنْ نَالَ بِهِمْ الشَّفَاعَهْ

وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِى

وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِيْ الِبِضَاعَهْ

Aku bukan termasuk orang-orang saleh, tapi aku mencintai mereka.

Dengan mencintai mereka aku hanya berharap mendapat syafaat.

Aku membenci orang yang perilakunya adalah maksiat,

meski aku dan mereka sama saja.

Bahkan, menjelang ajal, sambil menangis, Sang Imam sempat berkata kepada orang-orang yang menjenguknya, “Dari dunia ini aku akan pergi, dari handai tolan aku akan berpisah, hanya dengan segelas kematian aku meminum, dan kepada Tuhan aku akan kembali. Tapi, aku tidak tahu ke mana ruh jasad ini akan menuju: mungkin ke surga, mungkin ke neraka.”[]

Selasa, 20 September 2016

Usaha ala BUGIS

Makna Usaha ala Bugis (M.Agus Martawijaya).
Usaha
PENDIDIKAN MAHIR-Usaha atau kerja dalam bahasa Bugis dinyatakan dengan reso. Orang yang bekerja disebut tau makkareso sebagai manifestasi dari nilai kejujuran, nilai kecendekiaan, nilai kepantasan, dan nilai keteguhan yang dimilikinya. Terdapat beberapa ungkapan tau riolo yang memiliki makna assitinajang, yakni sebagai berikut.
E kalaki! De’ga gare pallaommu muonro risere laleng? Ianaritu riaseng kedo matuna, gau’ temmaketuju. De’ kua de’gaga pallaommu, laoko ri barugae mengkalinga ade’, iyare’ga laoko ri pasa’e mengkalinga ada pabbalu’. Mapatoko sia kalaki! Nasaba resopa natinulu’ temmangingngi malomo naletei pammase Dewata (Hai kalian anak-anakku! Apakah sudah tidak ada pekerjaanmu  sehingga kalian bermain-main saja? Itulah yang dinamakan hina dan tidak ada gunanya. Jika tidak ada pekerjaanmu, pergilah ke balairung mendengar pembicaraan adat, atau engkau pergi ke pasar mendengar kata-kata penjual. Rajinlah berusaha hai anak-anakku!, sebab hanya dengan jerih payah dan ketekunan serta ketakbosanan yang dirahmati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa). Ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap pekerjaan senantiasa memiliki nilai guna dan segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar hendaknya kita melibatkan diri dan mengambil pelajaran yang bermanfaat.
Naiya tettongetta massappa’ ridecengnge (adapun tempat untuk mencari kebaikan) yaitu: (1) tapugau’i malempu’e (melakukan perbuatan yang jujur); (2) pakatunai aleta risillempu’nae (merendahkan diri sejujurnya); (3) saro mase risilasannae (saling membantu sewajarnya); (4) moloie roppo’-roppo narewe (apabila menghadapi rintangan, ia menghindar atau kembali); (5) molae laleng namatike (waspada dalam perjalanan); dan (6) reso patujue (bekerja yang bermanfaat). Sehubungan dengan reso patuju, satu butir pesan yang perlu diimplementasikan dalam berusaha, yaitu saro mase risilasannae yang akan menumbuhkan assiwolongpolongeng (pergaulan yang akrab). Dengan demikian, akan menciptakan persatuan berupa a’bulo sibatang dengan mengutamakan assipetangngareng (saling memintai pendapat yang bermanfaat), assamaturuseng (saling seia sekata), dan mangellek pasang (demokrasi). Narekko maeloko tikkeng seu’wa olokolo’ sappai’ bate-la’na; narekko sappa’ko dalle’, sappai rimaegan’na batela tau (kalau mau menangkap seekor binatang, carilah jejaknya; kalau mau mencari rejeki, carilah dimana banyak jejak manusia).
Eppa’i naompo adecengengna padangkangnge (empat hal yang memunculkan kebaikan pedagang atau pengusaha), yaitu: (1) alempureng (kejujuran); (2) assiwolong-polongeng (pergaulan yang akrab); (3) amaccangeng (kecendekiaan); dan (4) pongnge (modal). Ungkapan ini mengandung makna bahwa kejujuran akan menimbulkan kepercayaan bagi pedagang, pergaulan akan mengembangkan suatu usaha, kecendekiaan akan memperbaiki pengelolaan atau manajemen, dan modal akan menggerakkan usaha. Sehubungan dengan kerjasama dalam berusaha, selain assiwolong-polongeng juga dipesankan oleh tau riolo bahwa aja’to mumaelo maddua-dua tau temmuewae manguru’ nawa-nawa (jangan mau berduaan dengan orang yang tidak sepikiran dengan engkau).
Atutuiwi gau’e mupegau’i, apa’ iyaritu maseroe pawaju risininna pawajue iyana ritu tettongie tettongen maraja, calewoe teppaja ritu ripogau, tennapajatonasa pasolangi (waspadai perbuatan yang engkau lakukan, karena yang sangat berbahaya adalah berdiri di tempat yang tinggi atau menduduki jabatan yang selalu diliputi oleh kelengahan, akan merusak dirimu). Ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap pekerjaan hendaknya dilakukan secara hati-hati agar tidak terperangkap dalam duka. Untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan kejujuran, kecendekiaan, keteguhan, dan kepantasan dalam mengelola pekerjaan itu.
Agana sia upammanariakko, banna matu’ sia ada’e lima lappae rekko mualamui (apa gerangan yang kuwariskan kepadamu kecuali lima kata jika engkau menerimanya), yaitu: (1) rekkua engka mopagau, itai amunrinna (jika ada yang engkau lakukan lihatlah akibatnya); (2) aja mumagelli ripakainge (jangan marah apabila diperingati); (3) atau’i lempu’e (takuti kejujuran); (4) aja muengkalinga kareba, engkalingatoi (jangan dengarkan berita, tetapi dengar juga); dan (5) iyapa musisala magellipo (bertengkarlah apabila engkau marah). Ungkapan ini mengandung makna bahwa dalam mengelola suatu usaha hendaknya terhindar dari emosi dan menyadari manfaat usaha itu.
Appujio sio mumadeceng kalawing ati, apa’ sininna decengnge enrengnge upe’e polemanengnge rideceng kalawing atie (cintailah sesamamu agar engkau berbaik sangka dan tulus hati kepada mereka, sebab semua kebaikan dan kemujuran bersumber dari baik sangka dan ketulusan hati). Ungkapan ini mengandung makna bahwa dalam mengelola usaha hendak dipupuk kecintaan dan baik sangka kepada sesama, karena mereka itulah yang kelak memberikan keuntungan.
Resopa natinuluk, matemmangngingngik, malomo naletei pammase Dewata Seuwa (jerih payah dan kerajinan serta ketidakbosanan, mudah dititi oleh kemurahan Tuhan Yang Maha Esa). Ungkapan yang sejalan dengan pesan ini yaitu: (1) matuk pae’, baja pae’, pura pae’, temmappapura jama-jamang (sebentar, besok, nanti, tak akan menyelesaikan pekerjaan); (2) onroko mammatu-matu napole marakae’ naia makkaluk (tinggallah bermalas-malas, lalu datang yang bergegas maka ialah yang berhasil); (3) ajak mumae’lok ribetta makkalla ri cappana letengnge (jangan engkau mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian). Ungkapan-ungkapan ini mengandung makna bahwa setiap yang sudah terencana hendak segera dikerjakan atau diwujudkan, karena beberapa ungkapan populer yang sejalan dengan itu, seperti: lebih cepat lebih baik, waktu adalah uang, dan cepat dan tepat.
Keberhasilan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam berusaha sangat tergantung pada semangat juang yang tinggi (pacce) dan sifat ketabahan serta kemauan untuk bekerja keras yang tak mengenal menyerah. Hal ini didukung oleh salah satu ungkapan leluhur, yaitu dek nalabu mata essoe ri tengngana bitarae (Matahari tak akan tenggelam di tengah langit) dan iyami woroane maperrengnge (hanya orang yang mempunyai daya tahan dapat disebut laki-laki).
Pesan yang lain adalah  taroi sia massangka wawa tellepi salompanna nariattangngari (muatilah hingga sarat sampai tenggelam gantungan kemudi,  barulah dipikirkan). Pesan ini bermakna bahwa usaha harus dilakukan sampai titik terakhir dan semua upaya telah dikerahkan, serta pantang mundur. Jika semuanya telah dikerahkan tetapi gagal juga, maka pesan yang menguatkan adalah aga guna masarae, tenrilesangengna pura makkuae; rilesangeng manemmua pura ri putoto’e tenrilesangi (apa guna bersusah hati, tak terhindarkan suratan takdir; semua dapat dihindari kecuali takdir yang tidak dapat terelakkan).
Dalam berusaha, masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat senantiasa mengutamakan kecendekiaan. Hal ini dapat disimak pesan tau riolo yang menyatakan aja’ muappesona buruk, aja’ mulete riwennang silampae (jangan berpasrah tanpa perhitungan, jangan meniti di selembar benang). Namun demikian, mereka tetap berpegang pada were yang diyakini sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk.
Berdasarkan uraian di atas, nampak bahwa masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam menjalani hidup dan kehidupannya secara pribadi atau pun secara bersama-sama (keluarga dan masyarakat) senantiasa mengacu kepada keempat nilai-nilai utama kebudayaannya dengan tidak mengabaikan nilai mappesona ri dewataE (bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa). Dalam bekerjasama,  keempat nilai tersebut melahirkan nilai persatuan yang dinamakan a’bulo sibatang (bahasa Makassar) atau mabbulo sipeppa (bahasa Bugis). Karakter yang terdapat di dalam a’bulo sibatang lahir dari pacce (bahasa Makassar) atau pesse (bahasa Bugis), sebagaimana yang dikemukakan pada bagian sebelumnya

Bisnis Islami

10 Cara Menjemput Rezeki Secara Islami

JEMPUTLAH REJEKI YANG DIBERIKAN ALLAH SWT.

Sumber rezeki sangatlah luas dan dalam. Seluas bentangan bumi dan kedalaman samudra. Sungguh, di setiap jengkal hamparan bumi dan laut terdapat rezeki yang bisa dikais. Permasalahannya, kerap kali manusia lebih berorientasi menunggu rezeki daripada menjemputnya.

Lebih mementingkan selera pribadi dalam memilih sumber rezeki ketimbang merebut kesempatan di depan mata. Lebih mengutamakan cara yang cepat daripada berletih-letih dalam menggapainya.

Liku-liku kehidupan memang tak bisa dikalkulasi dengan hitungan. Seakan manusia telah lalai, bahwa segala yang terhampar di jagat raya ini ada Dzat yang mengaturnya.

Allah Ta’ala telah berfirman, artinya :
“Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Alloh-lah yang memberi rezkinya” (QS. Hud : 6)

Karena itu, Islam menekankan setiap Muslim agar menjemput rezeki dengan mengguna kan semua potensi dan kekuatan yang dimilikinya. Yang pasti, dua kebaikan perlu diperhatikan.

Pertama, rezeki yang didapatkan adalah yang baik.
(QS Al-Baqarah 2: 127)

“Hai, orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian”

Terkait ayat di atas, Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan betapa pentingnya seorang Muslim mengonsumsi makanan yang halal, bersih, dan lurus.

Halal maksudnya adalah tidak mengandung kedurhakaan terhadap Allah SWT. Bersih bermakna tidak mengandung perkara yang melupakan Allah. Sedangkan, lurus berarti rezeki tersebut mampu menahan nafsu dan memelihara akal.

Kedua, untuk mendapatkan rezeki yang baik, hendaknya proses yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang baik pula. Islam melarang segala bentuk upaya mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang zalim
Riba (Al-Baqarah [2]: 278-279)

Maka jika kamu tidak mengerjakan [meninggalkan sisa riba], maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.

Dan jika kamu bertaubat [dari pengambilan riba], maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak [pula] dianiaya. (279)

Judi (Al-Maidah [5]: 90)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [meminum] khamar, berjudi, [berkorban untuk] berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (90)

Penipuan (gharar), Suap (risywah), dan Maksiat.

Mengapa Islam menekankan pentingnya rezeki yang halal?

Karena, setiap asupan yang masuk ke dalam tubuh manusia akan memengaruhinya, baik secara fisik, emosional, psikologis, maupun spiritual.

Rezeki yang halal menghadirkan ketenangan jiwa. Hidup akan lebih terarah dan menjadikan pintu-pintu keberkahan terbuka semakin lebar.

Selain itu, rezeki yang halal merupakan syarat diterimanya setiap doa oleh Allah SWT. Rezeki yang halal akan menciptakan tatanan mayarakat dan bangsa yang kuat.

Saat ini, sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sepatutnya kita tidak memfasilitasi setiap anak negeri mengais rezeki dengan cara-cara yang dilarang Allah SWT.

Mengikuti arus global, kapitalisme, dan melupakan cara-cara nenek moyang dahulu melakukan aktivitas ekonomi. Yakni, sistem bagi hasil, maro, atau paron ditinggalkan.

Manipulatif, spekulatif, dan ribawi dipraktikkan. Karena itu, kini, kita selalu berada dalam sistem ekonomi yang sangat rentan dan goyah. Krisis demi krisis selalu siap menerjang sepanjang waktu. Petaka demi petaka berlangsung di depan mata.

Kini, saatnya kita kembali kepada sistem yang berkeadilan dalam mencari rezeki dan berupaya meneguhkan kembali jati diri bangsa. Semua itu bermuara pada pentingnya rezeki yang halal. Wallahu  a’lam.

Keyakinan yang mantap adalah bekal utama dalam menjalani asbab (usaha) mencari rezeki. Ar Rahman yang menjadikan dunia ini sebagai negeri imtihan (ujian), telah memberikan jalan keluar terhadap problem yang dihadapi manusia. Diantaranya:
1. Berusaha dan Bekerja

Allah berfirman, artinya :
“Kalau telah ditunaikan shalat Jum’at maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia.” (QS. Al Jumu’ah : 10)

2. Taqwa
(Mengikuti Perintahnya dan Laranganya)

Allah berfirman, artinya :
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thala : 2)

3. Tawakkal
(Menyerahkan urusannya kepada Allah)

Allah berfirman, artinya :
”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq : 3)

4. Bersabar dan Syukur

Allah berfirman, artinya :
“Kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh-sungguh Kami akan menambah untuk kalian (nikmat-Ku) dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

5. Berinfaq / Sadaqah / Zakat

Allah berfirman, artinya :
“Dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39)

6. Silaturahmi

Rasulullah bersabda, artinya :
”Barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturohmi.” (HR. Bukhori Muslim)

7. Ber Do’a dan Istigfar

Rasulullah bersabda, artinya:
“Ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah dan yang selainnya)

Allah berfirman, artinya :
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Rasulullah bersabda, artinya:
“Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim)

8. Berbuat Kebaikan

Allah berfirman, artinya :
“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al qashash: 84)

Rasulullah bersabda, artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan zalim pada hambaNya yang berbuat kebaikan. Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.” (HR. Ahmad)

9. Berdagang

Rasulullah bersabda, artinya:
“Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan.” (Riwayat Ahmad)

10. Bangun Pagi

Fatimah (Puteri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W) mengatakan kepadanya,
“Puteriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Allah, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang.

Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari.” (HR. Al-Baihaqi)

Karenanya apapun rezeki yang kita harapkan maka akan selalu ada langkah yang harus kita usahakan. Dan yang paling utama adalah selalu memelihara rasa syukur terhadap semua yang sedang kita miliki sekarang.

referensi : http://saputra51.wordpress.com