Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Reso Temmangingngi

Motivasi (Reso Temmangingngi) Dalam Suku Bugis

Dalam hal motivasi berprestasi, terungkap dalam ungkapan Bugis dengan istilah reso (usaha keras). Untuk mencapai prestasi reso merupakan syarat utama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan, seseorang haruslah pantang menyerah; ia harus tampil sebagai pemenang. Ungkapan Lontarak berikut mengisyaratkan betapa pentingnya melakukan gerak cepat agar orang lain tidak mendahului kita dalam bertindak:
Aja’ mumaelo’ ribetta makkalla ri cappa alletennge
(Janganlah mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian.)

Ungkapan di atas memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini terdapat persaingan yang cukup ketat dan untuk memenangkan persaingan itu, semua kemampuan yang ada harus dimanfaatkan. Titian yang hanya dapat dilalui oleh seorang saja dan siapa yang terdahulu menginjakkan kaki pada titian itu, berarti dialah yang berhak meniti terlebih dahulu. Ini berarti bahwa bertindak cepat dengan penuh keberanian, walaupun mengandung risiko besar merupakan syarat mutlak untuk menjadi pemenang. Namun demikian, tidak ada keberuntungan besar tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan besar tanpa risiko yang besar. Dalam sebuah ungkapan Lontarak ditekankan:

Resopa natinulu, natemmanginngi malomo naletei pammase Dewata Seuwaee.
(Hanya dengan kerja keras dan ketekunan, sering menjadi titian rahmat Ilahi.)

Ungkapan itu memberi pelajaran bahwa untuk memperoleh keberhasilan, seseorang tidak hanya berdo’a, tetapi harus bekerja keras dan tekun.

Ambo Enre (1992) mengutip sebuah ungkapan pesan Bugis bagi perantau-perantau sebelum meninggalkan kampung halaman sebagai berikut.

Akkellu peppeko mulao,
a’bulu rompeko murewe’.

(Bergundul licinlah engkau pergi, berbulu suaklah engkau kembali).

Pesan itu diperuntukkan kepada para perantau agar terdorong bekerja keras di negeri rantauannya. Serta mempunyai tekad yang kuat untuk tidak kembali ke kampung halamannya sebelum berhasil. Dalam kaitannya dengan usaha, waktu atau kesempatan merupakan salah satu faktor penentu dalam meraih kemenangan (Tang, 2007). Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Bugis disebutkan:
Onroko mammatu-matu napole marakkae naia makkalu
(Tinggallah engkau bermalas-malas hingga kelak datang yang gesit lalu menguasai)

Selain pentingnya menghargai waktu/kesempatan, pentingnya seseorang menghindari perbuatan memetik keuntungan dari hasil jerih payah orang lain, tergambar dalam ungkapan berikut.

Temmasiri kajompie, tania ttaro rampingeng, naia makkalu.
(Tak malu nian si Buncis, bukan ia menyimpan penyanggah, ia yang memanjat)

Ungkapan itu menganjurkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, seseorang dituntut bekerja keras, tidak menyandarkan harapannya kepada orang lain.

Pustaka :

http://bangsabugis.blogspot.com

http://portalbugis.com/

Minggu, 10 Juli 2016

PASOMPE BUGIS

PASOMPE – Jiwa Pelaut Pedagang Bugis

Oleh: NASRULLAH NARA

”Resopa temmangingi, matinulu, namalomo naletei pammase Dewata sewwa-E.” Begitulah pesan tetua Bugis-Makassar kepada anak cucunya. Bahwa ”Rahmat berupa kesejahteraan dari Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa diraih melalui kerja keras, gigih, dan ulet”.

Bagi warga Bugis-Makassar, semangat kerja keras yang biasa dilafalkan sebagai makkareso tak hanya diwujudkan dalam bentuk bekerja ulet di tanah kelahiran atau di kampung asal. Guna bertahan hidup, di mana saja, semangat itu dikobarkan. Namun, lazimnya, kutipan pesan itu diucapkan para tetua kepada anak-anak muda yang meminta restu untuk sompe’ atau merantau.

Secara etimologi, istilah sompe’ berasal dari bahasa Bugis yang artinya berlayar. Zaman dulu, kendaraan yang paling lazim digunakan untuk bepergian jauh adalah (perahu) kapal layar. Maka, orang yang berlayar untuk bepergian jauh meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan yang lebih baik biasa disebut sompe’.

Antropolog dari Universitas Hasanuddin, Prof Dr Abu Hamid, dalam buku Pasompe: Pengembaraan Orang Bugis (Pustaka Refleksi, 2004), memaknakan pasompe’ sebagai pelaut-pedagang yang berlayar dari pulau ke pulau atau dari satu negeri ke negeri lain. Orang Bugis lekat dengan budaya migrasi karena ketangkasannya berlayar. Ini erat dengan hukum pelayaran dan perdagangan, seperti kontrak kerja, perkongsian, upah muatan/penumpang, dan utang piutang.

Abu Hamid mengklaim nenek moyang Bugis-Makassar mampu menjelajahi lautan hingga Malaysia, Filipina, China, dan Australia. Dalam kepustakaan Melayu terkisahkan beberapa sultan dan pembesar Malaysia adalah keturunan Bugis-Makassar, seperti Sultan Johor, Selangor, Trengganu, dan Pahang.

Abu mengaitkan itu semua dengan epos La Galigo, yaitu episode pengembaraan dan pelayaran Sawerigading di Kepulauan Nusantara dan China.

Sosiolog dari Unhas, Dr Muhammad Darwis, mengatakan, semangat perantauan itu merupakan wujud dari naluri gandrung akan tantangan. ”Adrenalin orang Bugis-Makassar untuk hidup lebih baik terlecut ketika dirinya dihadapkan pada tantangan. Kondisi hidup berpahit- pahit dan bersusah-susah sedapat mungkin dikondisikan untuk memacu diri meraih kehidupan lebih baik,” ujar Darwis.

Semangat survival orang Bugis-Makassar di tanah rantau, menurut Darwis, juga tak lepas dari sistem sosial-budaya yang lekat dengan hierarki (kasta), yakni arung (bangsawan/juragan) dan ata (hamba/orang kebanyakan). Bagi orang kebanyakan yang ingin bebas dari sistem itu atau setidaknya ingin naik kelas sosial, merantau adalah salah satu pilihan.

Tali-temali dengan mobilitas vertikal, ekonom senior dari Unhas, Prof Halide, menekankannya pada aspek ekonomi. ”Peningkatan taraf hidup seseorang berbanding lurus dengan strata sosial yang disandangnya,” kata Halide.
Kisah suksesHaji Syamsudin Tumpa (65) adalah contoh putra Bugis-Makassar yang sukses sebagai perantau. Tekadnya untuk memperbaiki nasib dengan meninggalkan kampung halaman di Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, ia buktikan. Impiannya untuk mendongkrak strata sosial dari kuli angkut menjadi bos usaha angkutan kapal laut sudah terwujud lebih dari 20 tahun terakhir.

Di Jayapura, Papua, usaha ekspedisi muatan kapal laut yang dirintisnya sejak beberapa tahun setelah menginjakkan kaki di sana tahun 1969 kini telah mempekerjakan sekitar 200 warga setempat.

Jika suatu saat Anda berjalan- jalan di kompleks Pelabuhan Jayapura, cobalah sebut nama Syamduddin, maka orang-orang yang hilir mudik di area itu—mulai dari kuli angkut, calo tiket, hingga pegawai pelabuhan—segera menunjuk sebuah bangunan permanen di kawasan pelabuhan. Di situlah Syamsuddin sehari-hari bertindak selaku juragan yang memitrai hampir semua kapal barang yang berlabuh di pelabuhan Jayapura.

”Kalau saja saya tidak merantau ke Papua tahun 1969, mungkin hidup saya tidak berubah, masih tetap bolak-balik naik-turun kapal memikul barang,” kenang pria yang suka berpeci ini.

Kediamannya di Jalan Gajah Putih, Jayapura, secara periodik menjadi tempat berkumpul tokoh masyarakat asal Sulsel. Maklum, sudah lebih lima tahun Syamsuddin menjabat sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan Provinsi Papua. Organisasi primordial ini menghimpun sekitar 70.000 warga asal Sulsel yang bermukim di Papua, mencakup warga suku Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.

Keberhasilannya menjadi orang terpandang tentu bukanlah karena ”simsalabim”. Jalan panjang dan prihatin ia sempat lalui, terutama ketika berusia 20-30 tahun. Kerasnya kehidupan sebagai buruh pelabuhan yang (maaf) akrab dengan premanisme telah menempanya menjadi sosok perantau yang tangguh.

Tekad untuk mengubah nasib sudah terpatok dalam batinnya ketika ia masih bekerja sebagai kuli pelabuhan di Makassar pada pertengahan tahun 1960. Kala itu, sebagai orang dari kelas sosial kebanyakan, ia menyadari betapa sulit menjadi juragan jika terus- menerus cuma bergaul dengan sesama kuli di daerah sendiri, terlebih bekal pendidikannya tak sampai tamat SMA. ”Kalau saya di Makassar terus, selamanya saya tak terdorong untuk mengubah nasib,” katanya.

Jadilah ia—di usia 25 tahun— meninggalkan Makassar menuju Jayapura. Di sana, selama beberapa tahun, ia sempat malang melintang sebagai buruh pelabuhan sebelum kemudian merintis usaha sendiri yang tak jauh-jauh dari urusan bongkar muat.
Pasar tradisionalDi pasar-pasar tradisional Papua, seperti pasar Entrop, Hamadi, Abepura, Ampera, dan Sentani, percakapan antarpemilik kios/los sangat lekat dengan logat Bugis-Makassar dialek Bone, Soppeng, Wajo, Maros, Barru, Pinrang, dan Sidrap.

Umumnya, pemilik kios juga mempekerjakan sanak famili yang ikut serta dari Sulsel selepas masa mudik lebaran.

Sebutlah, misalnya, Daeng Said (52), satu dari sekitar 200 pedagang Pasar Sentral Hamadi. Ia mempekerjakan keponakannya, Aco (20), yang tergiur ikut serta mengadu nasib di perantauan.

”Daripada nganggur di Pangkep, lebih baik ikut paman,” ujar Aco, yang mengaku tamatan SMA.

Di wilayah timur Indonesia, Papua hanyalah satu di antara daerah tujuan rantau orang Bugis-Makassar. Di Ambon, Kupang, dan Palu, mereka juga merajai kegiatan ekonomi tradisional, terutama untuk perdagangan bahan kebutuhan pokok.

Di wilayah tengah dan barat, tak sedikit perantau Bugis-Makassar juga ditemukan di kota-kota pesisir Kalimatan dan Sumatera.

Tentang survival dan diterimanya perantau asal Bugis-Makassar oleh warga lokal di mana pun berada, Darwis dan Halide melihatnya sebagai cerminan simbiosis mutualisme. Orang Bugis- Makassar berdagang untuk memutar roda ekonomi setempat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Keuntungannya sebagian besar diputar kembali untuk mengembangkan usaha di tempat itu juga sehingga pekerja lokal bisa terserap.

Guna menguatkan ikatan sosial-budaya, tak jarang mereka kawin-mawin dengan warga lokal. Alhasil, motif sosial, ekonomi, dan budaya pun itu bertaut.

Sumber: Kompas.Com

Selasa, 23 September 2014

SHOLAT DALAM BUDAYA SIRI’ NA PACCE

Sholat adalah tiang agama, jika sholat seseorang baik, maka bisa dianggap sifat orang itu akan baik, dan bila sholat orang itu buruk maka bisa di bilang orang itu buruk, demikian juga dengan amalan, amalan yang pertama kali dihisab atau dihitung oleh Allah adalah sholat, jika sholatnya baik maka baiklah seluruh amalannya jika buruk maka buruk lah seluruh amalannya.
Budaya adalah sesuatu yang tercipta dari proses interaksi orang dalam suatu masyarakat yang dijaga dan dilestarikan. Dalam masyakarat Bugis makassar, budaya Siri na Pacce adalah nilai budaya yang paling tinggi karna menyangkut harga diri manusia. Bahkan orang bugis makassar sejak dari lahir sampai ke liang lahat terus menjunjug tinggi yang namanya siri na pacce. Hal ini bisa disandingkan dengan kata sholat sebagai pilar utama bagi umat islam.
Jika ditinjau dari segi kata, Siri’ dalam bahasa makassar atau bugis, bermakna malu, dan Pacce (Bugis:Pesse) dapat berarti tidak tega atau kasihan atau iba. Malu disini bukan berati malu dalam berbuat baik, misalkan membantu orang lain, melakukan perintah agama, dan menaati aturan. Siri’ justru memberikan makna kebalikan dari segala tindakan buruk. Kita akan malu jika kita tidak melakukan kebaikan, kita malu melakukan tindakan dosa dan kita justru malu melakukan korupsi yang notabenenya melanggar hukum dan merampas hak orang lain. Sedangkan Pacce’ (Pesse) yang berarti Tidak Tega atau iba, bermakna tidak tega melihat orang lain menderita, tidak tega mengambil hak orang lain, dan merasa iba menumpuk kekayaan dari harta hasil korupsi.
Sama halnya dengan sholat, kita mengenal ada sholat dari tingkatan sunnah kurang penting, sunah sangat penting, dan wajib. Dalam struktur kata siri dalam bahasa makassar atau bugis terbagi dalam empat kategori, yaitu Siri Ripakasiri, Siri Mappakasiri-siri’, Siri Tappela Siri (Teddeng Siri), dan Siri mate siri’.
Siri’ Ripakasiri’ adalah rasa malu yang ada hubungannya dengan harga diri, harkat dan martabat keluarga. Sebagai contoh penganiaayaan, Silariang, dan pembunuhan. Jika Siri Ripakasiri’ telah hilang dalam diri seseorang maka orang itu akan melakukan tindakan pengrusakan seperti membusur, pergaulan bebas, dan tawuran. Dalam falsafah bugis makassar, hal yang melanggar ini tidak bisa dilakukan karena nyawa adalah taruhannya. Dalam keyakinan orang Bugis/Makassar bahwa orang yang mati terbunuh karena menegakkan Siri’, matinya adalah mati syahid, atau yang mereka sebut sebagai Mate Risantangi atau Mate Rigollai, yang artinya bahwa kematiannya adalah ibarat kematian yang terbalut santan atau gula. itulah kesatria sejati.
Jadi sebagai Manusia bugis makassar, kita perlu meneggakkan yang namanya siri’, karena sejalan dengan sabda nabi Muhammad SAW “Minna Suderoka, Mimma Inna.., artinya Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu., punna tena kimmalaki siri’, sambarang mho panggaukang.
Dalam kaitannya dengan sholat, terdapat dalam Surah Al-‘Ankabuut ayat 45. Innash Sholaata Tanhaa Anil Fahsyaa’I Wal Mungkar.., artinya Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.
Siri’ Mappakasiri’siri’ adalah Siri’ jenis yang berhubungan dengan etos kerja. Dalam falsafah Bugis disebutkan, “Narekko degaga siri’mu, inrengko siri’.” Artinya, kalau Anda tidak punya malu maka pinjamlah (kepada orang yang masih memiliki rasa malu (Siri’). Begitu pula sebaliknya, “Narekko engka siri’mu, aja’ mumapakasiri’-siri.” Artinya, kalau Anda punya malu maka jangan ki membuat malu atau …malu-maluin.
Hal yang terkait dengan etos kerja yang tinggi adalah cerita-cerita tentang keberhasilan orang-orang Bugis dan Makassar di perantauan. Dengan dimotori dan dimotivasi oleh semangat siri’ sebagaimana ungkapan orang Makassar, “Takunjunga bangun turu’ naku gunciri’ gulingku kualleangngangi tallanga na towaliya.” Artinya, begitu mata terbuka (bangun di pagi hari), arahkan kemudi, tetapkan tujuan ke mana kaki akan melangkah, pasang tekad “Lebih baik tenggelam daripada balik haluan (pulang ke rumah) sebelum tercapai cita-cita.” Atau, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai, sebelum tercapai pulau harapan. Inilah juga yang menjadi Falsafah atau lambang kota Makassar.
Dalam hubungannya dengan sholat terdapat dalam surah Al- Jumu’ah ayat 10 yang artinya Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Siri’ Tappela’ Siri’ (Makassar) atau Siri’ Teddeng Siri’ (Bugis) Artinya Rasa malu telah hilang dalam diri seseorang dengan sebab seperti berbohong, tidak tepat janji, dan tidak amanah. Misalnya, ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si pihak yang berutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayar utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan (disepakati). Ketika sampai waktu yang telah ditentukan, jika si berutang ternyata tidak menepati janjinya, itu artinya dia telah mempermalukan dirinya sendiri.
Hubungannya dengan sholat, terdapat dalam surah Al- Baqaroh ayat 83 yang artinya ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Jangan menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak mu, kaum kerabat mu, anak-anak yatim, dan orang miskin. serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada sesama manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (yang selalu berpaling ini , adalah orang yang hilang rasa malunya).
Siri’ Mate Siri’ adalah Siri’ yang satu berhubungan dengan kepercayaan kepada Allah Ta’ Ala. Dalam pandangan orang Bugis/Makassar, orang yang mate siri’-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman) sedikit pun. Orang seperti ini diapakan juga tidak akan pernah merasa malu, atau yang biasa disebut sebagai bangkai yang hidup.
Pacce (Bugis: Pesse)
Pacce atau Pesse adalah suatu tata nilai yang lahir dan dianut oleh masyarakat Bugis/Makassar. Pacce lahir dan dimotivasi oleh nilai budaya Siri’ (malu). Contoh, apabila seorang anak durhaka kepada orangtuanya (membuat malu keluarga) maka si anak yang telah membuat malu (siri’) tersebut dibuang dan dicoret dalam daftar keluarga. Namun, jika suatu saat, manakala orangtuanya mendengar, apalagi melihat anaknya menderita dan hidup terlunta-lunta, si anak pun diambilnya kembali. Malu dan tidak tega melihat anaknya menderita.
Punna tena siri’nu pa’niaki paccenu. Artinya meski anda marah karena si anak telah membuat malu keluarga, lebih malulah jika melihat anakmu menderita. Jika Anda tidak malu, bangkitkan rasa iba di hatimu (Paccenu). Anak adalah amanah Allah, jangan engkau sia-siakan.
Terima kasih.