Rabu, 11 Januari 2012

"Manajemen Konflik dalam Keluarga"


Narasumber: Siti Urbayatun, S.Psi, M.Psi
 

 Seminar online KHARISMA Women and Education  bulan Juni 2009 kali ini bersama nara sumber dari Yogyakarta  Ibu Siti Urbayatun, S.Psi, M.Psi mengangkat tema tentang Manajemen Konflik dalam keluarga. Beliau merupakan salah satu dosen di fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, konsultan di eramuslim.com dan merupakan Komisaris di Lembaga Psikologi terapan Cahaya Ummat Yogyakarta. kesibukan beliau yang sangat padat tidak mengurungkan niat beliau untuk melanjutkan jenjang pendidikan S3 beliau dalam program Doktor Psikologi UGM. Semol kali ini dihadiri lebih dari 25 peserta dari berbagai negara  yang mengakses Semol melalui fasilitas YM dan Paltalk.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap keluarga berharap keluarga yang mereka bina menjadi keluaraga yang sakinah, mawadah dan warahmah. tetapi adakalanya permasalahan-permasalahan yang hadir dalam kehidupan berkeluarga membutuhkan sebuah manejemen yang baik agar permasalah yang hadir dapat segera diatasi dan tidak mengganggu hubungan keharmonisan di dalam kehidupan berkeluarga. ternyata manajemen Konflik di dalam kehidupan berumah tangga sudah diaturoleh islam di dalam Al-Quran.
Islam adalah agama lengkap yang mengatur segala aspek dimensi kehidupan. Salah satunya adalah keluarga dan problematikanya. Keluarga adalah sebuah realisasi dari amal soleh, penelaahan ruhiyah dan sekaligus realisasi dari beberapa aspek yang lain.
Kesuksesan yang sesungguhnya bukan direalisasikan hanya dalam aspek bermasyarakat dan profesi saja, tetapi aspek keluarga juga harus mendapatkan porsi yang sama. Kehidupan berkeluarga dalam Islam disinggung di dalam Al-Quran Surat Ar-Rum: 21 yang berbunyai "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir".
Dalam kehidupan berkeluaraga pasti terdapat konflik-konflik dan promblematika yang harus dihadapi dan harus diselesaikan dengan cara yang paling tepat. Alangkah baiknya jika permasalah-permasalahan yang ada diselesaikan dengan cara yang benar dan islami. Permasalahan yang terjadi biasanya menyangkut:
 1. Permasalahan ekonomi

Hal ini biasanya terkait dengan masalah pendapatan yang didapatkan oleh sang istri jauh lebih besar dari pendapatan sang suami.Adakalanya superioritas suami sedikit terganggu dalam situasi seperti di contohkan di atas.
2.  Perbedaan pendapat dan prinsip
3.  Permasalahan dengan keluarga besar. Permasalahan terjadi disebebkan karena keluarga besar terlalu mencampuri urusan internal keluarga
4. perkembangan psikologis atau kepribadian masing-masing pasangan

Pemecahan dari permasalahan-permasalahan di atas adalah dengan:

 1.Jalan komunikasi dan meningkatakan pemahaman masing-masing pasangan.
 2. Saling memahami dan mengetahui kondisi psikologis pasangan masing-masing
 3. Memperhatikan perasaan pasangan masing-masing atau meningkatkan perasaan empati kita terhadap pasangan.

Contoh manajeman konflik di dalam Islam sudah digambarakan di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 34-36 yang menyinggung konflik yang terjadi di dalam keluarga Rasulullah Saw. Ketika istri-istri beliau berkomplot dan protes serta meminta nafkah lebih terhadap apa yang telah Rasul beri. Karena hal tersebut maka turunlah surat Annisa ayat 34-36 tersebut yang mengatur bagaimana penyelesaian konflik di dalam keluarga.

QS. An-Nissa 34 : "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlahmereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukulah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah maha tinggi, Maha besar".

QS. An-Nissa 35: "Dan jika kamu khawatir terjadi perseketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada sami-istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti".

QS. An-Nissa 36: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri".

Jadi secara garis besarnya konflik keluarga di dalam islam diatur penyelesaiannya sebagai berikut

1. Menasehati jika istri atau pasangan melakukan kesalahan
2. Tinggalkanlah atau pisah ranjang
3. Jika perlu pukulah mereka (dalam tahap ini jika sudah tidak ada jalan yang lain)
4. Memanggil juru damai dari kedua belah pihak.

Dalam kehidupan berumah tangga diperlukan rasa saling sayang dan memahami. Dan juga harus diperhatikan juga hal-hal kecil dari pasangan-pasangan kita. Semisal suami harus bisa memahami kondisi istri dan juga sebaliknya. Diperlukan juga adanya waktu refresh bersama-sama . Dan yang penting adalah jika ada permasalahan, akan sangat baik jika dibicarakan bersama dan dikomunikasikan.

Hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah:

1. memberikan perhatian baik simpati ataupun empati yang tulus
2. memberikan masukan yang jujur dan tulus
3. memberikan panggilan yang baik kepada pasangan

Rasulullah Saw memanggil Aisyah dengan sebuatan Humairah yang berarti yang berpipi merah.
 4. menjadi pendengar yang baik
 5. membuka pembicaraan dengan hal-hal dan topik-topik yang menarik dan menggembirakan.
 6. menunjukkan kepada pasangan kita bahwa dialah yang terpenting, jadi memberikan perhatian yang khusus pada pasangan kita.

Pertanyaan dan jawaban Semol

1. saya menikah dg laki2 beda negara/budaya.pertanyaan saya (1) bagaimana memenej(mengatur) pernikahan yg beda negara dan budaya.(2) bagaimana menyikapi suami yg emosional,temperamen dan beda usia

Jawaban:

Untuk menghadapi masalaha kultural, sebaiknya bukan hanya menunggu pasangan untuk beradaptasi tetapi dari kita juga sebaiknya proaktif untuk membuka diri dan beradaptasi dengan pasangan. Untuk perbedaan bersifat teknis sebaiknya kita bisa saling melengkapi dengan pasangan dan berusaha memahaminya. Dan yang paling penting harus ada landasan bersama yaitu Al-Quran sebagai landasan penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Bila masalah trus datang, anggaplah itu sebagai sarana kita untuk bisa terus bersabar dan itu merupakan sarana meumbuhkan kepribadian kita dihadapan Allah SWT.

2. Bagaimana perspektif Islam terhadap konflik? perspektif inilah yang akan sangat menentukan bagaimana pasangan suami istri mensikapi konflik, mengelola, dan mencari solusi atas konflik?

Jawaban:

Berusaha berempati dengan pasangan dan memahami pasangan dengan segala latar belakang yang berbeda (yaitu keluarga, pola asuh, dll) yang mengakibatkan pasangan tidak mempunyai kepekaan yang sama dengan kita. Melatih diri kita untuk bisa memandang persoalan dengan sisi yang berbeda (dari sisi orang lain). Yang paling penting lainnya adalah adanya keterbukaan dengan pasangan.

3. Jika kita mengenal satu keluarga yang tidak jujur kepada pasangannya, mungkin maksudnya supaya pasangan tidak terlalu pusing atau ikut stress dengan apa yang sedang dihadapinya. Namun hal tersebut malah menjadi konflik yang sampai terlihat dari luar. Apa yang sebaiknya kita lakukan, apakah dengan menasehati salah satu pasangan, atau kita biarkan saja karena itu sudah termasuk wilayah dalam negeri rumah tangga tersebut?

Jawaban:

memang sebaiknya aib di rumah tangga jangan sampai tersebar. Jika ada permasalahan bisa dikomunikasikan atau mencari penengah yang bisa memberikan solusi kepada permasalahan tersebut. Kita sebagai sahabat bisa menasehati sahabat kita tersebut dengan cara yang baik. Dan sebaiknya mencari sahabat yang bisa amanah dengan permasalah rumah tangga tersebut agar tidak tersebar luas.

4. Bagaimana mensikapi permasalahan dengan pasangan bila ternyata salah satu pasangan tidak merasa itu sebuah masalah akan tetapi sang istri merasa tertekan dengan kondisi yang ada?

Jawaban:

Meningkatakan rasa empati yaitu mencoba menempatkan sudut pandang kita pada sudut pandang orang lain sehingga kita bisa merasakan atau peka terhadap perasaan orang yang sedang mengalami masalah tersebut. Yang terpenting disini juga membiasakan untuk berbagi dan berkomunikasi baik untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Keterbukaan dan membiasakan mengemukakan perasaan yang ada merupakan sebuah cara yang baik untuk mengindari kesalahpahaman dan ketidakpekaan pasangan terhadap pasangan yang lainnya. Dan perlu diperhatikan juga sifat-sifat khusus pasangan kita apakah termasuk orang yang bisa menerima permasalahan secara langsung ataukah dengan bertahap.

5. Mohon penjelasan tentang surat An-Nisa ayat 19

"wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya".

Jawaban:

Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Bahwa mungkin apa yang tidak kita sukai membawa banyak manfaat dan terbaik untuk kita dan sebaliknya. Di ayat ini juga disinggung jika kita mendapat masalah atau tidak menyukai sesuatu maka bersabarlah.

6. Bagaimana menyikapi pasangan yang mempunyai masalalu yang kelam?
 Jawaban:
Jika pasangan mempunyai masa lalu yang kelam, cobalah untuk fokus berfikir tentang kelebihan-kelebihannya. Karena dalam diri manusia akan selalu tersimpan dua potensi, baik positif maupun negatif, yang saling berlomba untuk muncul dalam keseharian. InsyaAllah jika seseorang telah bertaubat maka Allah akan menjadikannya putih lagi bak cermin yang bening. Justru yang penting berpikir sekarang dan yang akan datang untuk menjaga kebersihan kepribadiannya. apa yang dipikirkan, itu akan mempengaruhu perasaanya. Jadi jangan banyk berpikir negatif tentang pasangan tersebut agar perasaan istrinya tidak terbawa negatif. Ikhlas, memaafkan adalah terapi kejiwaan; dan adil dalam menilai diri maupun pasangan akan membawa perasaan lebih tentram, InsyaAllah

Rabu, 16 November 2011

Syirik Dalam Beribadah

unduk | Tauhid | Thursday, March 10th, 2011
syirik
syirik
Satu hal yang paling berbahaya, yang paling bisa menjadikan seseorang murtad dari agama ini adalah syirik dalam beribadah kepada Allah, yaitu dia beribadah kepada Allah juga beribadah kepada selain-Nya.
Seperti dalam berdo’a, menyembelih, nadzar, istighotsah (minta diselamatkan dari perkara yang sulit dan membinasakan), isti’anah (memohon pertolongan) dalam perkara yang tidak mampu untuk melaksanakannya melainkan hanya Allah, berdo’a kepada mayit, istighotsah kepada kuburan, meminta pertolongan kepada orang yang telah mati, bahkan ada juga istilah-istilah yang sudah ngetrend di sekitar kita seperti “numpang”, atau “permisi” kepada pohon “keramat” atau kuburan ketika melewatinya.
Ini adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling besar, dan mayoritas orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya. Mereka beranggapan bahwa hal ini dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka.” (QS. al-Maidah: 72)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendald-Nya. Barang siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisaa: 48)
“Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. an-Nisaa: 116)
Oleh karena itu, kesyirikan adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya, yang paling dimurkai dan tiada ampunan bagi pelakunya.
Kenapa meieka tidak mendekatkan din kepada Allah secara langsung dan meninggalkan tempat-tempat yang menyesatkan itu? Padahal hendaknya mercka mendekatkan diri kepada Allah (secara langsung), karena sesungguhnya Allah itu Maha Dekat dan memenuhi permintaan.
Kenapa mereka mendekatkan diri kepada makhluk-Nya kemudian mereka mengatakan: “Para mahluk itu mendekatkan diri kami kepada Allah.”
Apakah Alloh M itu jauh?! Apakah Allah tidak mengetahui dan tidak mendengar mahluk-Nya?! Tidak melihat apa yang mereka kerjakan?!
Ketahuilah…! Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi adalah dekat dan memenuhi permintaan.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Sesungguhnya Allah adalah dekat dan memenuhi permintaan, kenapa kalian pergi dan berdo’a kepada selain Allah?! Kemudian kalian mengatakan: hal ini bisa mendekatkan diri kami kepada Allah (hal ini seperti ucapan orang-orang musyrik yang dikisahkan Allah)
“Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. az -Zumar:3)
Yakni, seolah-olah mereka (orang-orang Musyrik itu) menganggap bahwa Allah tidak mendengar dan mengetahui segala sesuatu, demikianlah syetan dari kalangan jin dan manusia menghiasi hal-hal tersebut untuk mereka dalam keadaan mereka mengaku Islam, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan hanya Allah.
Mereka sholat dan puasa, akan tetapi mereka mencampuri amalan-amalan mereka dengan syirik besar maka mereka keluar dari agama Islam dalam keadaan mereka sholat, puasa dan haji. Orang yang melihat mereka menyangka bahwa mereka Muslimin, padahal mereka pada hakikatnya bukan Muslim.
Maka sudah sepantasnya bagi Idta semua mengetahui hal ini, bahwa syirik kepada Allah adalah dosa yang paling berbahaya dan paling besar. Bersamaan dengan bahayanya dan jeleknya syirik.
Tanpa terasa, ternyata banyak dari orang-orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya, mereka tidak menamainya sebagai perbuatan syirik, akan tetapi mereka menamainya dengan bertawasul atau meminta syafaat, atau mereka menamainya dengan nama-nama selain syirik.
Akan tetapi nama-nama itu tidak bisa merubah hakekat sesuatu, kalau perbuatan tersebut adalah suatu kesyirikan tetap kita katakan syirik (walaupun mereka menamainya dengan nama selain syirik). Syirik adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi. Padahal hukum syirik ini sudah dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Seruan dan peringatan serta ancaman dari perbuatan syirik sangat jelas sekali, tidaklah lewat satu surat di dalam al-Qur’an melainkan di dalamnya memperingatkan ummat ini dari bahaya perbuatan syirik. Dan bersamaan dengan ini mereka sebenaraya membaca al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak menjauhi perbuatan syirik dalam kehidupannya.
Mungkin akan datang seseorang dan mengatakan: “Mereka adalah orang-orang bodoh, mereka mendapatkan udzur dengan kebodohan mereka tersebut.”
Maka kita katakan: Sampai kapan dia akan bodoh? Sedangkan al-Qur’an dibacakan, mereka menghapal al-Qur’an dan membacanya. Setiap orang yang telah sampai al-Qur’an kepadanya, maka sungguh telah tegak hujjah atasnya dan tidak ada udzur baginya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 116)
Ayat ini menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, dimana Allah tidak akan mengampuni pelakunya, jika ia tidak bertaubat dari hal tersebut Firman-Nya: “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik).” (QS. An-Nisaa’: 48)
Dosa selain syirik seperti zina, minum khamar, mencuri, makan riba, dan lain-lain ini semua dosa-dosa selain dari syirik. Dosa-dosa ini di bawah kehendak Allah, pelakunya adalah pelaku dosa besar, dan mereka adalah orang-orang fasik, akan tetapi mereka tidak terjatuh dalam perbuatan syirik, hanya saja mereka terjatuh dalam dosa-dosa besar dan hal ini mengurangi keimanan mereka dan mereka dihukumi dengan kefasikan.
Seandainya mereka mati dan belum bertaubat maka mereka di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuni mereka dengan tauhid yang ada pada mereka, dan jika Allah berkehendak maka Allah akan mengadzab mereka disebabkan dosa-dosa mereka, kemudian tempat kembali mereka adalah jannah (Surga) disebabkan tauhid yang ada pada mereka. Ini adalah tempat kembali para pelaku dosa besar selain syirik.
Syirik adalah dosa yang paling besar. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah dan tempat kembalinya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzallim seorang penolong pun.” (QS. al-Maidah:72)
Ini adalah akibat di akhirat, yaitu diharamkan atasnya jannah, yakni dia terhalang untuk masuk jannah selama-lamanya. Apabila dia tidak termasuk penduduk jannah, kemana dia akan pergi? Apakah dia menjadi sesuatu yang tidak ada?! Tidak!
Tempat kembalinya adalah neraka yang dia kekal di dalamnya. Allah berfirman: “Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” (Al Maidah: 72)
Yang dimaksud orang-orang dzalim adalah orang-orang musyrik. Karena syirik adalah kedzaliman, bahkan dia merupakan kedzaliman yang paling besar.
“Tidak ada bagi mereka (penolong)”, yaitu tidak ada seorang pun yang mampu mengeluarkan mereka dari neraka atau memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah, sebagaimana halnya pelaku dosa besar diberi syafa’at dan mereka bisa keluar dari neraka dengan syafa’at. Adapun orang-orang musyrik (maka) tidaklah bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberi syafa’at.
“Dan tidak ada bagi orang-orang yang dzallim.” Yaitu orang-orang Musyrik “Teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. al-Mukminin: 18)
Seorang Musyrik tidaklah diterima syafa’at padanya kita berlindung kepada Allah – “Dan tempatnya adalah neraka” dan itulah sejelek-jelek tempat tinggal, tidak ada tempat tinggal baginya selain neraka selama-lamanya.
Maka dosa yang demikian bahayanya dan sangat buruk akibatnya, apakah boleh pura-pura bodoh dan tidak mengetahuinya serta kita tidak memperingatkan darinya?! Dan apabila dikatakan: “Biarkanlah manusia, biarkan para penyembab kubur, para penyembah kubah-kubah, biarkan orang-orang yang ada perkara-perkara kemurtadan padanya selama dia masih mengaku Islam, berarti ia seorang Muslim dan hadapilah orang-orang atheis.”
Maka kita katakan, “Mereka (orang-orang musyrik) lebih berbahaya daripada orang-orang atheis.”
Termasuk contoh dari perbuatan syirik adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti menyembelih untuk jin dan kuburan.
Kita menyebutkan contoh ini karena kasus ini banyak terjadi dan manusia menganggap enteng hal tersebut, mereka menyembelih untuk selain Allah, mereka menyembelih untuk jin dalam rangka menjaga diri dari keburukan yang akan menimpa mereka, juga dalam rangka berobat dan penyembuhan.
Kebanyakan manusia menganggap enteng masalah ini, dan ini banyak terjadi, padahal ini adalah syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agamanya, dan ini bukan perkara yang mudah. Syetan akan berkata kepadanya:
“Sembelihlah seekor anak domba, sembelihlah seekor ayam,” Padahal orang yang menyembelih seekor lalat saja (untuk selain Allah) bisa masuk neraka, karena yang dilihat bukanlah yang disembelih, tetapi yang dilihatnya adalah aqidah (keyakinan) nya.
Manusia terlalu menganggap sepele dalam hal ini dalam hal ini, hanya sekedar ingin ditunaikan kebutuhannya, atau agar syetan memberitahunya sesuatu yang tersembunyi, atau memberitahu tentang harta yang hilang, atau yang selainnya dari perkara-perkara yang manusia bertanya kepada jin tentangnya.
Maka dengan hal itu, ia keluar dari agamanya kita berlindung kepada Allah – ia murtad dalam perkara yang ia anggap mudah, padahal perkara tersebut sangat berbahaya sekali.
Sumber: Buletin Dakwah Hasmi, 11 Februari 2011
Related Posts with Thumbnails

Senin, 14 November 2011

BAB 4. SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

Daftar isi

[sembunyikan]

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Harga 3 buku tulis dan 4 pensil adalah Rp13.200,00, sedangkan harga 5 buku tulis dan 2 pensil adalah Rp15.000,00. Dapatkah kamu menghitung harga satuan untuk buku tulis dan pensil tersebut? Permasalahan-permasalahan aritmetika sosial seperti ini dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV). Mengapa harus dua variabel? Perhatikan bahwa contoh kasus tersebut melibatkan dua macam variabel yang belum diketahui nilainya, yaitu harga satuan buku tulis dan harga satuan pensil. Untuk dapat mengetahui harga-harganya, kamu dapat menggunakan pemisalan untuk harga satuan buku tulis dan harga satuan pensil. Misalkan, harga satuan buku tulis adalah x dan harga satuan pensil adalah y. Jadi, contoh kasus tersebut dapat ditulis dalam bentuk model matematika sebagai berikut.
Dengan menggunakan metode penyelesaian SPLDV, kamu dapat mengetahui nilai x dan y. Berikut ini akan diuraikan konsep dasar SPLDV serta metode-metode penyelesaian yang dapat digunakan.


A. Pengertian SPLDV

Untuk memahami pengertian dan konsep dasar SPLDV, ada baiknya mengulang kembali materi tentang persamaan linear satu variabel. Pelajarilah uraian berikut secara saksama.

1. Persamaan Linear Satu Variabel

Di Kelas VII, kamu telah mempelajari materi tentang persamaan linear satu variabel. Masih ingatkah kamu apa yang dimaksud dengan persamaan linear satu variabel? Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaan berikut.

Bentuk-bentuk persamaan tersebut memiliki satu variabel yang belum diketahui nilainya. Bentuk persamaan seperti inilah yang dimaksud dengan linear satu variabel. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.1 secara seksama.




Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, untuk penyelesaian dari persamaan linear satu variabel dapat digunakan beberapa cara. Salah satu di antaranya dengan sifat kesamaan. Perhatikan uraian persamaan berikut.

Image:persamaan_5.jpg

Jadi, diperoleh nilai x = 4 dan himpunan penyelesaian, Hp = {4}. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.2 berikut.



2. Persamaan Linear Dua Variabel

Kamu telah mempelajari dan memahami persamaan linear satu variabel. Materi tersebut akan membantu kamu untuk memahami persamaan linear dua variabel. Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaaan berikut.

Persamaan-persamaan tersebut memiliki dua variabel yang belum diketahui nilainya. Bentuk inilah yang dimaksud dengan persamaan linear dua variabel. Jadi, persamaan dua variabel adalah persamaan yang hanya memiliki dua variabel dan masing-masing variabel berpangkat satu. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.3 berikut.
Image:persamaan_9.jpg

Image:persamaan_10.jpg

Image:persamaan_11.jpg

Image:persamaan_12.jpg

3. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaan linear dua variabel berikut.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa masing-masing memiliki dua buah persamaan linear dua variabel. Bentuk inilah yang dimaksud dengan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Berbeda dengan persamaan dua variabel, SPLDV memiliki penyelesaian atau himpunan penyelesaian yang harus memenuhi kedua persamaan linear dua variabel tersebut. Contoh, perhatikan sistem SPLDV berikut.
Image:persamaan_14.jpg

Penyelesaian dari sistem persamaan linear adalah mencari nilai-nilai x dan y yang dic ari demikian sehingga memenuhi kedua persamaan linear. Perhatikan Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa persamaan linear 2x + y = 6 memiliki 4 buah penyelesaian. Adapun persamaan linear x + y = 5 memiliki 6 buah penyelesaian. Manakah yang merupakan penyelesaian dari 2 x + y = 6 dan x + y = 5? Penyelesaian adalah nilai x dan y yang memenuhi kedua persamaan linear tersebut. Perhatikan dari Tabel 4. 1 nilai x = 1 dan y = 4 sama-sama
memenuhi penyelesaian dari kedua persamaan linear tersebut. Jadi, dapat dituliskan:
Image:persamaan_16.jpg
Image:persamaan_17.jpg
Image:persamaan_18.jpg

B. Penyelesaian SPLDV

Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, SPLDV adalah persamaan yang memiliki dua buah persamaan linear dua variabel. Penyelesaian SPLDV dapat ditentukan dengan cara mencari nilai variabel yang memenuhi kedua persamaan linear dua variabel tersebut. Pada subbab sebelumnya, kamu telah mempelajari bagaimana cara menentukan penyelesaian suatu SPLDV dengan menggunakan tabel, namun cara seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk itu, ada beberapa
metode yang dapat digunakan untuk menentukan penyelesaian SPLDV.
Metode-metode tersebut adalah:

1. Metode Grafik
2. Metode Substitusi
3. Metode Eliminasi
Pelajarilah uraian mengenai metode-metode tersebut pada bagian berikut ini.

1. Metode Grafik

Grafik untuk persamaan linear dua variabel berbentuk garis lurus. Bagaimana dengan SPLDV? Ingat, SPLDV terdiri atas dua buah persamaan dua variabel, berarti SPLDV digambarkan berupa dua buah garis lurus. Penyelesaian dapat ditentukan dengan menentukan titik potong kedua garis lurus tersebut. Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.6 dan Contoh Soal 4.7

Image:persamaan_19.jpg

Image:persamaan_20.jpg

Image:persamaan_21.jpg



2. Metode Substitusi

Penyelesaian SPLDV menggunakan metode substitusi dilakukan dengan cara menyatakan salah satu variabel dalam bentuk variabel yang lain kemudian nilai variabel tersebut menggantikan variabel yang sama dalam persamaan yang lain. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan penyelesaian SPLDV dengan menggunakan metode substitusi dapat kamu pelajari dalam Contoh Soal 4.8 dan Contoh Soal 4.9

Image:persamaan_22.jpg

Image:persamaan_23.jpg



3. Metode Eliminasi

Berbeda dengan metode substitusi yang mengganti variabel, metode eliminasi justru menghilangkan salah satu variabel untuk dapat menentukan nilai variabel yang lain. Dengan demikian, koefisien salah satu variabel yang akan dihilangkan haruslah sama atau dibuat sama. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.10 dan Contoh Soal 4.11

Image:persamaan_24.jpg
Image:persamaan_25.jpg

C. Penerapan SPLDV

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dapat dipecahkan menggunakan SPLDV. Pada umumnya, permasalahan tersebut berkaitan dengan masalah aritmetika sosial. Misalnya, menentukan harga satuan barang, menentukan panjang atau lebar sebidang tanah, dan lain sebagainya. Agar kamu lebih memahami, perhatikan dan pelajari
contoh-contoh soal berikut.

Image:persamaan_26.jpg
Image:persamaan_27.jpg
Image:persamaan_28.jpg
Image:persamaan_29.jpg

Rabu, 09 November 2011


Blog Entri


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Firman Allah Ta'ala:
"Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kedhaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah." (Al-An'am: 82)
Iman yaitu ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat Lillah dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syirik disebut kedhaliman, karena syirik adalah perbuatan menempatkan sesuatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.
'Ubadah ibn Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, menuturkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa 'Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat pula bahwa) surga adalah benar adanya dan neraka-pun benar adanya; maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang diperbuatnya." (HR Bukhari Muslim)
Syahadat ialah persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari 'Itban: "Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada neraka orang yang berkata: Laa ilaha illa Allah (Tiada sesembahan yang hak selain Allah), dengan ikhlas dari hatinya dan mengharapkan (pahala melihat) Wajah Allah."
Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Musa berkata: Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo'a kepada-Mu. Allah berfirman: Katakanlah hai Musa: "Laa ilaha illa Allah". Musa berkata lagi: Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini. Allah pun berfirman: Hai Musa, andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang Laa ilaha illa Allah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka Laa ilaha illa Allah niscaya lebih berat timbangannya." (Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan bahwa hadits ini Shahih)

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits, yang dinyatakan hasan, dari Anas: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula."
Kandungan dalam tulisan ini:
  1. Luasnya karunia Allah Ta'ala.
  2. Banyaknya pahala tauhid disisi Allah Ta'ala.
  3. Selain itu, tauhid menghapuskan dosa-dosa.
  4. Tafsiran surah Al-An'am ayat 82, menunjukkan keistimewaan tauhid dan keuntungan yang diperoleh darinya dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan menunjukkan pula bahwa syirik adalah perbuatan zhalim yang dapat membatalkan iman jika syirik itu akbar (besar) atau mengurangi iman jika syirik itu ashghar (kecil).
  5. Perhatikan kelima masalah yang tersebut dalam hadits 'Ubadah.
  6. Apabila anda mempertemukan hadits 'Ubadah, hadits 'Itban dan hadits sesudahnya, akan
  7. jelas bagi anda pengertian kalimat "Laa ilaha illa Allah" dan jelas pula kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.
  8. Perlu diingat persyaratan yang dinyatakan di dalam hadits 'Itban yaitu ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
  9. Para nabi perlu diingatkan pula akan keistimewaan "Laa ilaha illa Allah"
  10. Bahwa Laa ilaha illa Allah berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak diantara orang yang mengucapkan kalimat tersebut ringan timbangannya.
  11. Langit dan bumi ada penghuninya.
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah, berbeda dengan pendapat Asy'ariyah yaitu salah satu aliran teologis, pengikut Syaikh Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy'ary (260-324H = 874-936M). Dan maksud penulis disini ialah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an dan Sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya Wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum Salaf Shaleh dalam masalah ini, yaitu: mengimani kebenaran sifat-sifat Allah yang dituturkan oleh Al Qur'an dan Sunnah tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
Adapun Asy'ariyah dalam masalah sifat yang seperti ini, sebagian mereka ada yang menta'wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal tersebut apabila tidak dita'wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya.

 Akan tetapi, perlu diketahui bahwa Syaikh Abul Hasan Al Asy'ary sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzab salaf shaleh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis diakhir masa hidupnya, yaitu Al-Ibanah 'An Ushulid-Diyanah (editor: Abdul Qadir Al-Arna'uth, Beirut: Maktabah Dar Al-Bayan, 1401 H), bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta'wil yang dilakukan orang-orang yang menyimpang dari madzhab Salaf.
  1. Apabila anda memahami hadits Anas, anda akan tahu bahwa sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits 'Itban maksudnya ialah dengan tidak melakukan perbuatan syirik sedikitpun, bukan sekedar mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan saja.
  2. Perhatikanlah perpaduan sebutan Hamba Allah dan Rasul-Nya dalam pribadi Nabi 'Isa dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
  3. Mengetahui keistimewaan Nabi 'Isa sebagai kalimat Allah, maksudnya yaitu bahwa Nabi 'Isa diciptakan Allah dengan firman-Nya "Kun" (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui Malaikat Jibril.
  4. Mengetahui bahwa Nabi 'Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan-Nya.
  5. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
  6. Mengetahui sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "betapapun amal yang telah diperbuatnya".
  7. Mengetahui bahwa timbangan mempunyai dua daun.
  8. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah Ta'ala.
Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.


Kata kunci: ketauhidan

Senin, 31 Oktober 2011

Dimana Allah? Dia… di atas Langit

Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari.
 
Amat mengherankan perkaranya ketika dimunculkan satu pertanyaan i’tiqodiyah, “Di mana Allah?”, kita mendapatkan jawaban yang bermacam-macam dan berbeda-beda dari mulut-mulut kaum muslimin. Ada yang beranggapan bahwa tidak boleh mempertanyakan di mana Allah, tetapi tak sedikit pula yang menjawab, “Allah ada di mana-mana”, lebih ironisnya ada yang mengatakan, “Allah tidak di atas, tidak juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah kiri, tidak di barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di utara.”
Para pembaca, sungguh sangat memprihatinkan bila seorang muslim atau banyak muslim tidak mengetahui masalah pokok dalam agamanya ini, tapi apa hendak dikata bila memang realita yang ada menunjukkan demikian, satu fenomena yang cukup mu`sif (menyedihkan) menimpa ummat ini yang dilatarbelakangi dengan jauhnya dari pendidikan ilmu agama yang benar, sementara Allah telah berfirman,
“Allah menganugrahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur`an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Al Baqoroh: 269).
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az Zumar: 9).
Bagaimana tidak dikatakan hal yang pokok dalam agama, pengetahuan tentang “di mana Allah?” tatkala ternyata Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai dalil akan kebenaran iman seseorang. Di dalam Shohih Muslim, dan Sunan Abi Daud, Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami, ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?” Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” “Siapa aku?” tanya Rosul. “Engkau Rosulullah (utusan Allah)” ujarnya. Kemudian Rosulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang mu`min.”
Di dalam hadits ini terkandung tiga pelajaran yang sangat signifikan.
Pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia mengetahui bahwa Allah di atas langit.
Kedua: Disyari’atkannya ucapan seorang muslim yang bertanya “Di mana Allah?”.
Ketiga: Disyari’atkannya bagi orang yang ditanya hal itu agar menjawab, “Di atas langit.”
Sulaiman at Taimi, salah seorang tabi’in mengatakan, “Bila aku ditanya di mana Allah? Aku pasti akan menjawab di atas langit.”

Para pembaca, apa jadinya jika ternyata sebagian kaum yang taunya sebatas “air barokah” dan orang-orang yang spesialisasinya hanya itu kemudian apriori untuk menolak bahkan lebih dari itu mengkafirkan orang yang mempertanyakan “Di mana Allah?” Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengingkari permasalahan ini berarti ia telah mengingkari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wal ‘iyadzubillah bila kemudian mengkafirkannya. Jawaban seorang budak dalam hadits di atas sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu… Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu.” (QS Al Mulk: 16-17).
Tidaklah mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit menjadi keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah -seorang alim dari negeri Iraq- berkata, “Barangsiapa yang mengingkari Allah ‘azza wa jalla di langit maka ia telah kufur!” Imam Malik -imam Darul Hijroh- mengatakan, “Allah di atas langit, sedang ilmuNya (pengetahuanNya) di setiap tempat, tidak akan luput sesuatu darinya.” Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan sebutan Imam asy Syafi’i berkata, “Berbicara tentang sunnah yang menjadi peganganku dan para ahli hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada ilah (yang berhak untuk diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas ‘arsy di langit…” Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah Allah di atas langit yang ke tujuh di atas ‘arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?” Beliau menjawab, “Ya, Dia di atas ‘arsy-Nya tidak akan luput sesuatupun darinya.” (Lihat kitab Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).

Aqidah yang agung ini telah tertanam dalam dada-dada kaum muslimin periode pertama, para salafus sholih ahlussunnah wal jama’ah. Berkata Imam Qutaibah bin Sa’id -wafat pada tahun 240 H-, “Ini adalah pendapat / ucapan para imam-imam Islam, sunnah, dan jama’ah, bahwa kita mengenal Rabb kita di atas langit yang ke tujuh di atas ‘arsyNya.” Sehingga semakin jelaslah bahwa Allah di atas langit sebagai ijma ahlissunnah wal jama’ah yang berlandaskan Kitab, Sunnah, akal, dan fitrah. Allah berfirman,
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi.” (QS As Sajdah: 5).
“Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik dan amal sholeh yang dinaikkan-Nya.” (QS Fathir: 10).
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhannya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS Al Ma’arij: 4).
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit…” (QS Al Mulk: 16-17).
“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.” (QS Al A’laa: 1).
Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan sampai-sampai sebagian besar kalangan Syafi’i mengatakan, “Di dalam Al Qur`an terdapat seribu dalil atau bahkan lebih menunjukkan bahwa Allah ta’ala tinggi di atas makhlukNya.” (Majmu’ul Fatawa: 5/226). Di dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia pada hari Arafah, beliau berkata, “Ya Allah, saksikanlah” (seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah langit).
Semua orang yang berakal akan menetapkan bahwa ketinggian adalah sifat sempurna sedangkan kebalikannya adalah sifat kekurangan, sementara Allah ‘azza wa jalla tersucikan dari hal-hal yang bersifat kekurangan, ini semua menunjukkan bahwa Dzat Allah di atas langit adalah suatu kesempurnaan bagiNya. Demikian pula secara fitroh, semua kaum muslimin di belahan dunia apabila berdo’a mengangkat kedua tangannya ke langit, tak didapatkan seorang pun dari mereka apabila mengatakan, “Ya Allah, ampunilah dosaku” mengarahkan kedua tangannya ke tanah -selama-lamanya!!- menunjukkan secara fitrah, semua manusia menetapkan bahwa Dzat Allah di atas langit.

Para pembaca, perjalanan waktu yang cukup lama aqidah Islam ini tak lagi dikenal dan diketahui mayoritas umat Islam, seakan-akan sirna dari sumbernya, malah sebaliknya faham-faham Jahmiyah, Asy’ariyah, Mu’tazilah, dan ahli kalam yang merajalela bak wabah penyakit yang menular. Kalangan anak-anak, remaja, dan para orang tua, bahkan sang ustadz atau kyai dan guru ngaji bila ditanya, “Di mana Allah?” serempak menjawab, “Allah ada di mana-mana.” Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sebagian yang dinisbatkan kepada ilmu berdalil atas pernyataannya itu dengan firman Allah,
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS Al Hadid: 4).
Memang menjadi ciri khas ahli bathil adalah “seenaknya mengambil dalil tetapi buruk ketika berdalil”. Ketahuilah bahwa ayat itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah ada di mana-mana, sebab bila difahami demikian, maka tentu ketika seseorang berada di masjid Allah ada di situ, ketika di pasar Allah juga ada di situ, bahkan tatkala seseorang berada di tempat kotor sekalipun, seperti WC, maka Allah pun ada di situ! Maha tinggi Allah atas pernyataan-pernyataan ini.
Tetapi maksud dari ayat itu “Dia bersama kamu…” ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).
Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H- pernah ditanya tentang ayat ini “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” Beliau menjawab, “yakni ilmu-Nya.” Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad, pent.) ditanya apa makna “Dan Dia bersama kamu”? Beliau menjawab, “Yakni ilmu-Nya, ilmu-Nya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas arsy…” Imam Nu’aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang firman Allah “Dan Dia bersama kamu” beliau berkata, “Maknanya tidak ada sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmu-Nya.” (lihat Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).
Ketika Imam Abu Hanifah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala di langit tidak di bumi”, ada yang bertanya, “Tahukah Anda bahwa Allah berfirman, ‘Dia (Allah) bersama kamu’?” Beliau menjawab, “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang “saya akan selalu bersama kamu” padahal kamu jauh darinya. (I’tiqodul a`immah al arba’ah).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sudah saatnya kita tanamkan kembali aqidah yang murni warisan Nabi dan para salafus sholih ini di dalam jiwa-jiwa generasi Islam kini dan mendatang. Sungguh keindahan, ketentraman mewarnai anak-anak kita dan para orang tua saat kita tanyai “Di mana Allah?” lalu mereka mengarahkan jari telunjuknya ke atas dan berucap, “Allah di langit.”
Wallahul haadi ila sabilir rosyaad. Wal ilmu indallah.

Sumber: Buletin Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-42 Tahun ke-1 / 03 Oktober 2003 M / 06 Sya’ban 1424 H. Judul Asli “Dia… di atas Langit”

Kamis, 27 Oktober 2011

Hadits 20: Beramal Sesuai Sunnah, Tidak Memberatkan Diri Agar Bisa Istiqamah


Judul pembahasan hadits Shahih Bukhari ke-20 ini agak panjang. Hadits yang kita bahas ini masih berada dalam kitab iman (كتاب الإيمان) dalam Shahih Bukhari.

Imam Bukhari memberi judul hadits ini bab قَوْلِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ "sabda Nabi SAW: aku paling mengetahui Allah diantara kalian". Hadits ini berisikan dialog Rasulullah bersama sahabatnya sebagaimana didengar oleh Aisyah. Karena isinya bermuatan tuntunan Rasulullah kepada para sahabat agar menjalankan hal-hal yang sanggup dikerjakan dan tidak memberatkan diri, maka kita jadikan judul hadits ke-20 ini "Beramal Sesuai Sunnah, Tidak Memberatkan Diri Agar Bisa Istiqamah" dengan harapan begitu membaca judul ini pembaca langsung mengerti arah hadits ke-20 Shahih Bukhari ini.

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-20:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ الأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ . فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِى وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا

Dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata, apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Akan tetapi kemudian mereka berkata, "Ya Rasulullah, kami ini tidak sepertimu. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." Maka, mendengar ucapan mereka itu, Rasulullah SAW marah hingga terlihat tanda kemarahan di wajahnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan yang mengetahui tentang Allah diantara kamu sekalian adalah aku."

Penjelasan Hadits

إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ الأَعْمَالِ بِمَا يُطِيقُونَ
Apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan

Inilah kebiasaan Rasulullah SAW dalam memerintah para sahabat untuk beramal. Dan inilah tuntunan Islam. Bahwa seorang muslim tidak dianjurkan memperberat diri dalam beribadah.

Ketika Islam memberikan tugas dan kewajiban kepada umatnya, maka beban itu telah diukur agar sesuai dengan kemampuan mereka. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang sulit dan berat. Agar para sahabat dan umatnya sanggup menjalankannya secara terus menerus (istiqamah). Dalam hadits lain dijelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang terus menerus.

وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit. (Muttafaq 'alaih)

Karena itu kita dapati hadits lain yang membatasi amal sunnah agar tidak memberatkan umat Islam. Misalnya tilawah Al-Qur'am maksimal khatam satu kali dalam tiga hari. Tidak boleh lebih cepat dari itu. Puasa sunnah dibatasi yang paling tinggi adalah puasa daud, satu hari puasa satu hari tidak. Tidak boleh berpuasa terus menerus. Demikian pula untuk shalat malam disunnahkan agar tetap memiliki waktu istirahat, tidak shalat terus-menerus sepanjang malam.

قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
Akan tetapi kemudian mereka berkata, "Ya Rasulullah, kami ini tidak sepertimu. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang."

Dengan ungkapan ini para sahabat menyampaikan keberatannya. Para sahabat meminta amal yang berat karena mereka yakin semakin berat amal makin tinggi derajat mereka di sisi Allah dan mereka mendapatkan ampunan atas dosa-dosa mereka.

Inilah mereka para sahabat yang begitu antusias dalam menyambut seruan Islam. Inilah mereka para sahabat yang sangat bersemangat dalam menyongsong amal. Maka mereka mengungkapkan alasan yang membuat mereka merasa berhak mendapatkan kewajiban yang lebih berat. Argumen yang membuat merasa merasa tidak cukup dengan amal-amal yang diperintahkan Rasulullah dan menyediakan diri jika ada pilihan amal yang lebih berat. Bahwa amal itu cukup untuk diri Rasulullah sebab Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Sementara mereka? Mereka merasa tidak ada jaminan ampunan sehingga mereka harus beramal keras dan berat agar mendapatkan ampunan itu.

فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِى وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا
Maka, mendengar ucapan mereka itu, Rasulullah SAW marah hingga terlihat tanda kemarahan di wajahnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan yang mengetahui tentang Allah diantara kamu sekalian adalah aku."

Rasulullah marah dengan jawaban para sahabat. Bukan karena argumennya bahwa amal ibadah bisa mendatangkan ampunan dari Allah, tetapi karena Rasulullah mengkhawatirkan jika mereka justru tidak mampu istiqamah dan terus menerus beramal seandainya amal yang diperintahkan itu lebih berat. Juga agar umat Islam sepanjang generasi mencukupkan diri dengan sunnah.

Apa yang dilakukan Rasulullah dengan amal-amal –yang kelihatannya ringan menurut sahabat saat itu- sekaligus diperintahkan hal yang sama bagi sahabatnya bukan karena Rasulullah telah diampuni hingga boleh beringan-ringan dalam beramal. Namun itu justru karena Rasulullah adalah orang yang paling bertaqwa; seharusnya itu pula yang dilakukan oleh orang lain, yang ketaqwaannya masih berada di bawah Rasulullah SAW. Demikian pula, Rasulullah SAW adalah orang yang paling makrifat (mengetahui) Allah SWT dan beliau paling tahu bahwa Allah mencintai amal seperti itu; meksipun ringan atau sedikit namun dilakukan terus menerus dan sesuai sunnah.

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Amal shalih bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa orang yang melakukan, dan meningkatkan derajat;
2. Dianjurkan untuk melakukan hukum azimah (hukum asal) ataupun rukhshah (keringanan) sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan syariat. Melakukan sesuatu yang lebih ringan tapi sesuai syariat adalah lebih baik daripada melakukan sesuatu yang lebih berat tapi bertentangan dengan syariat;
3. Ibadah yang paling utama adalah yang dilakukan terus-menerus;
4. Hadits ini menunjukkan betapa besar semangat para sahabat dalam beribadah dan menambah kebaikan;
5. Diperbolehkan marah jika melihat sesuatu yang bertentangan dengan syariat, sekaligus dianjurkan untuk mengingatkan (nahi munkar);
6. Boleh menyampaikan kebaikan atau kelebihan diri sesuai kebutuhan dan bisa mendatangkan manfaat dengan syarat tidak berniat membesar-besarkan;
7. Rasulullah adalah orang yang mencapai tingkat kesempurnaan karena telah menghimpun dua hal sekaligus yaitu ketaqwaan (amal tertinggi) dan makrifat (ilmu).

Demikian penjelasan singkat hadits Shahih Bukhari ke-20. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita sehingga kita senantiasa bersemangat beramal sesuai sunnah, tanpa memberatkan diri dan bisa menjalankannya dengan istiqamah. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

KEMBALI KE HADITS 19