Minggu, 19 Februari 2012

Memelihara Lidah dan Adab Berbicara

Dari Maimun bin Mihran diriwayatkan bahwa ia berkata: “ada seorang lelaki yang datang menemui Salman (Al-Farisi), lalu berkata kepadanya: “Berikan aku nasihat.” Beliau berkata: “Jangan banyak bicara.” Lelaki itu berkata: “Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara?” Beliau menanggapi: “Kalaupun Anda hendak berbicara, berbicaralah yang benar, atau diam.” Lelaki itu berkata lagi: “Tolong tambahkan yang lain.” Beliau berkata: “Jangan suka marah.” Lelaki itu berkomentar: “Terkadang terjadi pada diriku, apa yang aku tidak bisa menahan diri.” Beliau berkata menanggapi: “Kalau begitu, bila engkau marah, jaga lidah dan tanganmu.” “Tambahkan lagi.’ Lelaki itu meminta. Beliau berkata: “Jangan campuri urusan orang lain. ” Lelaki itu menjawab: “Orang yang hidup bersama orang banyak, tidak mungkin tidak mencampuri urusan orang lain. “Beliau berkata: “Kalau engkau harus mencampuri urusan orang lain, katakan perkataan yang benar, dan tunaikanlah amanah kepada yang berhak. (Shifatush Shafwah I:549)
Dari Mu’adz bin Said diriwayatkan bahwa ia berkata: “kami pernah bersama Atha’ bin Rabbah. Tiba-tiba seorang lelaki berbicara dan pembicaraannya dipotong oleh temannya. Maka Atha berkata: “Subhanallah, akhlak macam apa ini?” Sesungguhnya aku dengar orang lain berbicara, sedangkan aku lebih mengerti daripada dirinya, tetapi aku seolah-olah menunjukkan bahwa aku belum mengerti apa yang disampaikannya. (Shifatush Shafwah II:214)
Dari Utsman bin Al-Aswad diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Atha’: “Ada seorang lelaki yang lewat di hadapan sekelompok orang, tiba-tiba ada di antara mereka yang mengejeknya (dan dia tidak mendengarnya), apakah sebaiknya ia diberitahu?” Beliau menjawab: “Tidak. Karena orang-orang yang duduk di satu majelis, harus mampu menjaga amanah.” (Shifatush Shafwah II:214)
Dari khalaf bin Tamim diriwayatkan bahwa ia berkata: “Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami, dari Al-Auza’i, bahwa ia berkata: “Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada kami yang hanya dihafal isinya oleh aku dan Makhul. Yakni sebagai berikut: “Amma Ba’du: Sesungguhnya orang yang banyak mengingat-ingat kematian, ia akan senang dengan bagian di dunia yang sedikit; orang yang menganggap bicaranya itu termasuk amal perbuatannya, ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam hal yang membawa manfaat buat dirinya. Wassalam (Siyaru A’laamin Nubalaa’)
Sumber : Aina Nahnu Min Akhlaaqis Salaf, Abdul Azis bin Nashir Al-Jalil Baha’uddien ‘Aqiel, Edisi  Indonesia “Panduan Akhlak Salaf” alih bahasa : Abu Umar Basyir Al-Medani

Akhlak Dalam Tertawa dan Bercanda

Dari Anas diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan.” Beliau berkata: “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta.” Lelaki itu menukas: “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?” “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” Ujar beliau (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam”Sunan”-nya dalam kitab “Al-Adab”-92 bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau Hadits No.3998 (V:270) dan dishahihkan ole Al-Albani)

Dari Shuhaib diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku pernah menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Ketika itu di hadapan beliau ada roti dan kurma. “Sini mendekatlah dan makanlah.” Beliau menawarkan. Akupun mulai memakan kurma tersebut. Tiba-tiba Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjawab: “Lho, kamu kok makan kurma, bukankah kamu sakit mata?” Aku menjawab: “Iya . Tetapi aku memakannya lewat mata yang sebelahnya.” Beliaupun tersenyum.(Dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Sunan Ibnu Majah”II:253 No.2776)
Dari Usaid bin Hudhair diriwayatkan bahwa ia berkata: “Ketika Shuhaib sedang berbincang dengan sekelompok orang (ia dikenal suka bercanda), ia menuturkan cerita yang lucu, maka Nabi menohok pinggangnya (dengan tongkat). Ia kontan berkata: “Coba aku balas engkau ya Rasulullah!” Beliau menanggapi: “Balaslah.” Lelaki itu menukas: “Tetapi Anda memakai gamis, sedangkan saya tidak memakai gamis.” Maka Nabi menyingkapkan gamisnya. Tetapi tak dinyana, ternyata Shuhaib justru memeluk beliau dan menciumi kulit perutnya, sambil berkata: “Sesungguhnya yang kumaui tidak lain adalah ini wahai Rasulullah.” (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam “Sunan”-nya dalam kitab “Al-Adab”-160, bab Mencium Tubuh (Nabi) hadits No.5223 dan dishahihkan oleh Al-Albani ["Shahih Abi Dawud" III:980 No.4352])
Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa ia berkata: “Orang-orang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Anda juga mengajak kami bercanda?” Beliau menjawab: “Iya, cuma aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta).” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam bab-bab kitab “Al-Birr wash Shillah”-57 bab Riwayat Tentang Senda Gurau 1991, dan beliau berkomentar: “Hadits ini hasan shahih.”)
Jarir menuturkan: “Setiap kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihatku, beliau pasti tersenyum.” (Al-Bukhari dan Muslim)
Sumber : Aina Nahnu Min Akhlaaqis Salaf, Abdul Azis bin Nashir Al-Jalil Baha’uddien ‘Aqiel, Edisi Indonesia “Panduan Akhlak Salaf” alih bahasa : Abu Umar Basyir Al-Medani

Akhlak Dalam Memelihara Waktu

Dari Hasan Al-Bashri -Radhiallahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa ia berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:585)
Diantara ungkapan Hasan lainnya: “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit dalam memelihara umurnya daripada menjaga hartanya.” (“Syarhus Sunnah”, karya Al-Baghawi XIV:225)
Termasuk juga ucapan Al-Hasan dalam menasihati para sahabatnya agar mereka bersikap zuhud terhadap dunia dan menggairahkan mereka untuk mengejar akherat, beliau berkata: “Janganlah benda dunia fana yang sedikit ini melenakan dirimu, demikian juga janganlah mengukur-ukur dirimu. Semua itu akan berlalu dengan cepat mengikis umurmu. Kejarlah ajalmu, jangan lagi katakan: “Besok dan besok.” karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabb-mu.” (“Hilyatul Awliyaa” II:140)
Ar-Razi berkata: “aku pernah mendengar Ali bin Ahmad Al-Khawarizmi menyatakan: “aku pernah mendengar Abdurrahman bin Abu Hatim berkata: “Kami pernah berada di Mesir tujuh bulan dan tidak pernah makan sayur (makanan berkuah). Pada setiap siang, kami berkumpul di majelis-majelis para Syaikh. Dan pada malam harinya kami menyalin pelajaran dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari, aku bersama teman dekatku datang menemui seorang Syaikh. Namun orang-orang bilang: “Beliau sedang sakit.’ Di tengah perjalanan, kami melihat ikan yang menarik. Kamipun membelinya. Ketika kami tiba di rumah, tepat datang waktu belajar, sehingga kami belum sempat membereskannya. Kamipun langsung berangkat ke majelis. Demikian terus waktu berlalu hingga tiga hari. Ikan itu tentu saja sudah hampir busuk. Maka kamipun memakannya dalam keadaan mentah. Kami tidak sempat memberikannya kepada seseorang untuk dibakar.” Kemudian beliau menyatakan: “Sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan bersenang-senang.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” XIII:266)
Abul Wafa Ali bin Abu Aqil menceritakan tentang dirinya sendiri: “sesungguhnya aku tidak membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya satu jam dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti berdzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan fikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis. Dan ternyata aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur delapan puluhan, lebih besar dari hasrat belajarku pada umur dua puluh tahun.” (“Al-Muntazhim” karya Ibnul Jauzi IX:214 menukil dari buku “Sawanih Wa Tawilat Fii Qimatinz Zaman” karya Khaldun Al-Ahdab hal.24)
Beliau juga berkata: “Dengan segala kesungguhan, aku juga memendekkan waktu makanku, sampai-sampai aku lebih memilih memakan biskuit yang dilarutkan dengan air dari pada memakan roti. Alasannya karena kedua makanan tersebut berbeda ketika dikunyah. Yakni demi lebih memberi waktu untuk membaca dan menyalin berbagai hal bermanfaat yang belum sempat kuketahui.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:177, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “34)
Semoga Allah merahmati seorang perdana mentri yang faqih semacam Yahya bin Muhammad bin Hubairah – guru dari Ibnul Jauzi, ketika menuturkan:
“Waktu akan semakin berharga bila dijaga dengan baik, tapi aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah dilalaikan.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:281, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “39)
Tentang dirinya sendiri Ibnul Jauzi -Rahimahullah- pernah menuturkan: “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya untuk acara kunjung mengunjungi sebagaimana yang menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebutkan kebiasaan itu sebagai “pelayanan”. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan orang yang tidak berguna. Kadang-kadang semuanya itu diselingi dengan menggunjing orang lain.”
Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan oleh anggota masyarakat di jaman kita sekarang ini. Terkadang acara kunjung-mengunjungi itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diripun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari-hari raya dan ‘Ied. Kita bisa melihat mereka saling tandang ke rumah temannya, tidak hanya mencukupkan diri dengan mengucapkan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang telah saya paparkan.
Ketika kulihat bahwa waktu itu adalah sesuatu yang paling berharga, sementara kewajiban kita adalah melakukan kebajikan, akupun tidak menyukai kebiasaan itu. Sikapku terhadap mereka antara dua hal saja; Kalau aku menyangkal mereka, akan terjadi kerusuhan yang bisa memecah persahabatan. Tapi kalau aku menerima ajakan mereka, aku akan membuang-buang waktu. Akhirnya aku memilih berusaha menolak secara halus, kalau gagal, aku ikuti mereka, namun aku tidak mau ngobrol panjang agar cepat selesai pertemuannya.”
Kemudian aku menyiapkan berbagai aktifitas yang tidak menghalangi aku untuk berbincang-bincang dengan mereka ketika bertemu muka, artinya agar waktuku tidak terbuang sia-sia. Sehingga yang aku persiapkan sebelum bertemu dengan mereka adalah memotong kaghid (kertas yang disiapkan untuk menulis) dan meruncingkan pena serta menyiapkan buku-buku tulis. Semuanya itu perangkat yang tidak boleh tertinggal. Dan untuk mempersiapkannya tidak terlalu membutuhkan fikiran dan konsentrasi. Aku pun mempersiapkannya pada saat-saat terjadi pertemuan dengan mereka agar waktuku tidak terbuang sia-sia.” (“Shaidul Khatir” hal 184,185)
Sumber : Aina Nahnu Min Akhlaaqis Salaf, Abdul Azis bin Nashir Al-Jalil Baha’uddien ‘Aqiel, Edisi Indonesia “Panduan Akhlak Salaf” alih bahasa : Abu Umar Basyir Al-Medani

Rabu, 11 Januari 2012

"Manajemen Konflik dalam Keluarga"


Narasumber: Siti Urbayatun, S.Psi, M.Psi
 

 Seminar online KHARISMA Women and Education  bulan Juni 2009 kali ini bersama nara sumber dari Yogyakarta  Ibu Siti Urbayatun, S.Psi, M.Psi mengangkat tema tentang Manajemen Konflik dalam keluarga. Beliau merupakan salah satu dosen di fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, konsultan di eramuslim.com dan merupakan Komisaris di Lembaga Psikologi terapan Cahaya Ummat Yogyakarta. kesibukan beliau yang sangat padat tidak mengurungkan niat beliau untuk melanjutkan jenjang pendidikan S3 beliau dalam program Doktor Psikologi UGM. Semol kali ini dihadiri lebih dari 25 peserta dari berbagai negara  yang mengakses Semol melalui fasilitas YM dan Paltalk.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap keluarga berharap keluarga yang mereka bina menjadi keluaraga yang sakinah, mawadah dan warahmah. tetapi adakalanya permasalahan-permasalahan yang hadir dalam kehidupan berkeluarga membutuhkan sebuah manejemen yang baik agar permasalah yang hadir dapat segera diatasi dan tidak mengganggu hubungan keharmonisan di dalam kehidupan berkeluarga. ternyata manajemen Konflik di dalam kehidupan berumah tangga sudah diaturoleh islam di dalam Al-Quran.
Islam adalah agama lengkap yang mengatur segala aspek dimensi kehidupan. Salah satunya adalah keluarga dan problematikanya. Keluarga adalah sebuah realisasi dari amal soleh, penelaahan ruhiyah dan sekaligus realisasi dari beberapa aspek yang lain.
Kesuksesan yang sesungguhnya bukan direalisasikan hanya dalam aspek bermasyarakat dan profesi saja, tetapi aspek keluarga juga harus mendapatkan porsi yang sama. Kehidupan berkeluarga dalam Islam disinggung di dalam Al-Quran Surat Ar-Rum: 21 yang berbunyai "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir".
Dalam kehidupan berkeluaraga pasti terdapat konflik-konflik dan promblematika yang harus dihadapi dan harus diselesaikan dengan cara yang paling tepat. Alangkah baiknya jika permasalah-permasalahan yang ada diselesaikan dengan cara yang benar dan islami. Permasalahan yang terjadi biasanya menyangkut:
 1. Permasalahan ekonomi

Hal ini biasanya terkait dengan masalah pendapatan yang didapatkan oleh sang istri jauh lebih besar dari pendapatan sang suami.Adakalanya superioritas suami sedikit terganggu dalam situasi seperti di contohkan di atas.
2.  Perbedaan pendapat dan prinsip
3.  Permasalahan dengan keluarga besar. Permasalahan terjadi disebebkan karena keluarga besar terlalu mencampuri urusan internal keluarga
4. perkembangan psikologis atau kepribadian masing-masing pasangan

Pemecahan dari permasalahan-permasalahan di atas adalah dengan:

 1.Jalan komunikasi dan meningkatakan pemahaman masing-masing pasangan.
 2. Saling memahami dan mengetahui kondisi psikologis pasangan masing-masing
 3. Memperhatikan perasaan pasangan masing-masing atau meningkatkan perasaan empati kita terhadap pasangan.

Contoh manajeman konflik di dalam Islam sudah digambarakan di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 34-36 yang menyinggung konflik yang terjadi di dalam keluarga Rasulullah Saw. Ketika istri-istri beliau berkomplot dan protes serta meminta nafkah lebih terhadap apa yang telah Rasul beri. Karena hal tersebut maka turunlah surat Annisa ayat 34-36 tersebut yang mengatur bagaimana penyelesaian konflik di dalam keluarga.

QS. An-Nissa 34 : "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberi nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlahmereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukulah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah maha tinggi, Maha besar".

QS. An-Nissa 35: "Dan jika kamu khawatir terjadi perseketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada sami-istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti".

QS. An-Nissa 36: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri".

Jadi secara garis besarnya konflik keluarga di dalam islam diatur penyelesaiannya sebagai berikut

1. Menasehati jika istri atau pasangan melakukan kesalahan
2. Tinggalkanlah atau pisah ranjang
3. Jika perlu pukulah mereka (dalam tahap ini jika sudah tidak ada jalan yang lain)
4. Memanggil juru damai dari kedua belah pihak.

Dalam kehidupan berumah tangga diperlukan rasa saling sayang dan memahami. Dan juga harus diperhatikan juga hal-hal kecil dari pasangan-pasangan kita. Semisal suami harus bisa memahami kondisi istri dan juga sebaliknya. Diperlukan juga adanya waktu refresh bersama-sama . Dan yang penting adalah jika ada permasalahan, akan sangat baik jika dibicarakan bersama dan dikomunikasikan.

Hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah:

1. memberikan perhatian baik simpati ataupun empati yang tulus
2. memberikan masukan yang jujur dan tulus
3. memberikan panggilan yang baik kepada pasangan

Rasulullah Saw memanggil Aisyah dengan sebuatan Humairah yang berarti yang berpipi merah.
 4. menjadi pendengar yang baik
 5. membuka pembicaraan dengan hal-hal dan topik-topik yang menarik dan menggembirakan.
 6. menunjukkan kepada pasangan kita bahwa dialah yang terpenting, jadi memberikan perhatian yang khusus pada pasangan kita.

Pertanyaan dan jawaban Semol

1. saya menikah dg laki2 beda negara/budaya.pertanyaan saya (1) bagaimana memenej(mengatur) pernikahan yg beda negara dan budaya.(2) bagaimana menyikapi suami yg emosional,temperamen dan beda usia

Jawaban:

Untuk menghadapi masalaha kultural, sebaiknya bukan hanya menunggu pasangan untuk beradaptasi tetapi dari kita juga sebaiknya proaktif untuk membuka diri dan beradaptasi dengan pasangan. Untuk perbedaan bersifat teknis sebaiknya kita bisa saling melengkapi dengan pasangan dan berusaha memahaminya. Dan yang paling penting harus ada landasan bersama yaitu Al-Quran sebagai landasan penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Bila masalah trus datang, anggaplah itu sebagai sarana kita untuk bisa terus bersabar dan itu merupakan sarana meumbuhkan kepribadian kita dihadapan Allah SWT.

2. Bagaimana perspektif Islam terhadap konflik? perspektif inilah yang akan sangat menentukan bagaimana pasangan suami istri mensikapi konflik, mengelola, dan mencari solusi atas konflik?

Jawaban:

Berusaha berempati dengan pasangan dan memahami pasangan dengan segala latar belakang yang berbeda (yaitu keluarga, pola asuh, dll) yang mengakibatkan pasangan tidak mempunyai kepekaan yang sama dengan kita. Melatih diri kita untuk bisa memandang persoalan dengan sisi yang berbeda (dari sisi orang lain). Yang paling penting lainnya adalah adanya keterbukaan dengan pasangan.

3. Jika kita mengenal satu keluarga yang tidak jujur kepada pasangannya, mungkin maksudnya supaya pasangan tidak terlalu pusing atau ikut stress dengan apa yang sedang dihadapinya. Namun hal tersebut malah menjadi konflik yang sampai terlihat dari luar. Apa yang sebaiknya kita lakukan, apakah dengan menasehati salah satu pasangan, atau kita biarkan saja karena itu sudah termasuk wilayah dalam negeri rumah tangga tersebut?

Jawaban:

memang sebaiknya aib di rumah tangga jangan sampai tersebar. Jika ada permasalahan bisa dikomunikasikan atau mencari penengah yang bisa memberikan solusi kepada permasalahan tersebut. Kita sebagai sahabat bisa menasehati sahabat kita tersebut dengan cara yang baik. Dan sebaiknya mencari sahabat yang bisa amanah dengan permasalah rumah tangga tersebut agar tidak tersebar luas.

4. Bagaimana mensikapi permasalahan dengan pasangan bila ternyata salah satu pasangan tidak merasa itu sebuah masalah akan tetapi sang istri merasa tertekan dengan kondisi yang ada?

Jawaban:

Meningkatakan rasa empati yaitu mencoba menempatkan sudut pandang kita pada sudut pandang orang lain sehingga kita bisa merasakan atau peka terhadap perasaan orang yang sedang mengalami masalah tersebut. Yang terpenting disini juga membiasakan untuk berbagi dan berkomunikasi baik untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Keterbukaan dan membiasakan mengemukakan perasaan yang ada merupakan sebuah cara yang baik untuk mengindari kesalahpahaman dan ketidakpekaan pasangan terhadap pasangan yang lainnya. Dan perlu diperhatikan juga sifat-sifat khusus pasangan kita apakah termasuk orang yang bisa menerima permasalahan secara langsung ataukah dengan bertahap.

5. Mohon penjelasan tentang surat An-Nisa ayat 19

"wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya".

Jawaban:

Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Bahwa mungkin apa yang tidak kita sukai membawa banyak manfaat dan terbaik untuk kita dan sebaliknya. Di ayat ini juga disinggung jika kita mendapat masalah atau tidak menyukai sesuatu maka bersabarlah.

6. Bagaimana menyikapi pasangan yang mempunyai masalalu yang kelam?
 Jawaban:
Jika pasangan mempunyai masa lalu yang kelam, cobalah untuk fokus berfikir tentang kelebihan-kelebihannya. Karena dalam diri manusia akan selalu tersimpan dua potensi, baik positif maupun negatif, yang saling berlomba untuk muncul dalam keseharian. InsyaAllah jika seseorang telah bertaubat maka Allah akan menjadikannya putih lagi bak cermin yang bening. Justru yang penting berpikir sekarang dan yang akan datang untuk menjaga kebersihan kepribadiannya. apa yang dipikirkan, itu akan mempengaruhu perasaanya. Jadi jangan banyk berpikir negatif tentang pasangan tersebut agar perasaan istrinya tidak terbawa negatif. Ikhlas, memaafkan adalah terapi kejiwaan; dan adil dalam menilai diri maupun pasangan akan membawa perasaan lebih tentram, InsyaAllah

Rabu, 16 November 2011

Syirik Dalam Beribadah

unduk | Tauhid | Thursday, March 10th, 2011
syirik
syirik
Satu hal yang paling berbahaya, yang paling bisa menjadikan seseorang murtad dari agama ini adalah syirik dalam beribadah kepada Allah, yaitu dia beribadah kepada Allah juga beribadah kepada selain-Nya.
Seperti dalam berdo’a, menyembelih, nadzar, istighotsah (minta diselamatkan dari perkara yang sulit dan membinasakan), isti’anah (memohon pertolongan) dalam perkara yang tidak mampu untuk melaksanakannya melainkan hanya Allah, berdo’a kepada mayit, istighotsah kepada kuburan, meminta pertolongan kepada orang yang telah mati, bahkan ada juga istilah-istilah yang sudah ngetrend di sekitar kita seperti “numpang”, atau “permisi” kepada pohon “keramat” atau kuburan ketika melewatinya.
Ini adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling besar, dan mayoritas orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya. Mereka beranggapan bahwa hal ini dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka.” (QS. al-Maidah: 72)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendald-Nya. Barang siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisaa: 48)
“Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. an-Nisaa: 116)
Oleh karena itu, kesyirikan adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya, yang paling dimurkai dan tiada ampunan bagi pelakunya.
Kenapa meieka tidak mendekatkan din kepada Allah secara langsung dan meninggalkan tempat-tempat yang menyesatkan itu? Padahal hendaknya mercka mendekatkan diri kepada Allah (secara langsung), karena sesungguhnya Allah itu Maha Dekat dan memenuhi permintaan.
Kenapa mereka mendekatkan diri kepada makhluk-Nya kemudian mereka mengatakan: “Para mahluk itu mendekatkan diri kami kepada Allah.”
Apakah Alloh M itu jauh?! Apakah Allah tidak mengetahui dan tidak mendengar mahluk-Nya?! Tidak melihat apa yang mereka kerjakan?!
Ketahuilah…! Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi adalah dekat dan memenuhi permintaan.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Sesungguhnya Allah adalah dekat dan memenuhi permintaan, kenapa kalian pergi dan berdo’a kepada selain Allah?! Kemudian kalian mengatakan: hal ini bisa mendekatkan diri kami kepada Allah (hal ini seperti ucapan orang-orang musyrik yang dikisahkan Allah)
“Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. az -Zumar:3)
Yakni, seolah-olah mereka (orang-orang Musyrik itu) menganggap bahwa Allah tidak mendengar dan mengetahui segala sesuatu, demikianlah syetan dari kalangan jin dan manusia menghiasi hal-hal tersebut untuk mereka dalam keadaan mereka mengaku Islam, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan hanya Allah.
Mereka sholat dan puasa, akan tetapi mereka mencampuri amalan-amalan mereka dengan syirik besar maka mereka keluar dari agama Islam dalam keadaan mereka sholat, puasa dan haji. Orang yang melihat mereka menyangka bahwa mereka Muslimin, padahal mereka pada hakikatnya bukan Muslim.
Maka sudah sepantasnya bagi Idta semua mengetahui hal ini, bahwa syirik kepada Allah adalah dosa yang paling berbahaya dan paling besar. Bersamaan dengan bahayanya dan jeleknya syirik.
Tanpa terasa, ternyata banyak dari orang-orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya, mereka tidak menamainya sebagai perbuatan syirik, akan tetapi mereka menamainya dengan bertawasul atau meminta syafaat, atau mereka menamainya dengan nama-nama selain syirik.
Akan tetapi nama-nama itu tidak bisa merubah hakekat sesuatu, kalau perbuatan tersebut adalah suatu kesyirikan tetap kita katakan syirik (walaupun mereka menamainya dengan nama selain syirik). Syirik adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi. Padahal hukum syirik ini sudah dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Seruan dan peringatan serta ancaman dari perbuatan syirik sangat jelas sekali, tidaklah lewat satu surat di dalam al-Qur’an melainkan di dalamnya memperingatkan ummat ini dari bahaya perbuatan syirik. Dan bersamaan dengan ini mereka sebenaraya membaca al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak menjauhi perbuatan syirik dalam kehidupannya.
Mungkin akan datang seseorang dan mengatakan: “Mereka adalah orang-orang bodoh, mereka mendapatkan udzur dengan kebodohan mereka tersebut.”
Maka kita katakan: Sampai kapan dia akan bodoh? Sedangkan al-Qur’an dibacakan, mereka menghapal al-Qur’an dan membacanya. Setiap orang yang telah sampai al-Qur’an kepadanya, maka sungguh telah tegak hujjah atasnya dan tidak ada udzur baginya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 116)
Ayat ini menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, dimana Allah tidak akan mengampuni pelakunya, jika ia tidak bertaubat dari hal tersebut Firman-Nya: “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik).” (QS. An-Nisaa’: 48)
Dosa selain syirik seperti zina, minum khamar, mencuri, makan riba, dan lain-lain ini semua dosa-dosa selain dari syirik. Dosa-dosa ini di bawah kehendak Allah, pelakunya adalah pelaku dosa besar, dan mereka adalah orang-orang fasik, akan tetapi mereka tidak terjatuh dalam perbuatan syirik, hanya saja mereka terjatuh dalam dosa-dosa besar dan hal ini mengurangi keimanan mereka dan mereka dihukumi dengan kefasikan.
Seandainya mereka mati dan belum bertaubat maka mereka di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuni mereka dengan tauhid yang ada pada mereka, dan jika Allah berkehendak maka Allah akan mengadzab mereka disebabkan dosa-dosa mereka, kemudian tempat kembali mereka adalah jannah (Surga) disebabkan tauhid yang ada pada mereka. Ini adalah tempat kembali para pelaku dosa besar selain syirik.
Syirik adalah dosa yang paling besar. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah dan tempat kembalinya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzallim seorang penolong pun.” (QS. al-Maidah:72)
Ini adalah akibat di akhirat, yaitu diharamkan atasnya jannah, yakni dia terhalang untuk masuk jannah selama-lamanya. Apabila dia tidak termasuk penduduk jannah, kemana dia akan pergi? Apakah dia menjadi sesuatu yang tidak ada?! Tidak!
Tempat kembalinya adalah neraka yang dia kekal di dalamnya. Allah berfirman: “Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” (Al Maidah: 72)
Yang dimaksud orang-orang dzalim adalah orang-orang musyrik. Karena syirik adalah kedzaliman, bahkan dia merupakan kedzaliman yang paling besar.
“Tidak ada bagi mereka (penolong)”, yaitu tidak ada seorang pun yang mampu mengeluarkan mereka dari neraka atau memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah, sebagaimana halnya pelaku dosa besar diberi syafa’at dan mereka bisa keluar dari neraka dengan syafa’at. Adapun orang-orang musyrik (maka) tidaklah bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberi syafa’at.
“Dan tidak ada bagi orang-orang yang dzallim.” Yaitu orang-orang Musyrik “Teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. al-Mukminin: 18)
Seorang Musyrik tidaklah diterima syafa’at padanya kita berlindung kepada Allah – “Dan tempatnya adalah neraka” dan itulah sejelek-jelek tempat tinggal, tidak ada tempat tinggal baginya selain neraka selama-lamanya.
Maka dosa yang demikian bahayanya dan sangat buruk akibatnya, apakah boleh pura-pura bodoh dan tidak mengetahuinya serta kita tidak memperingatkan darinya?! Dan apabila dikatakan: “Biarkanlah manusia, biarkan para penyembab kubur, para penyembah kubah-kubah, biarkan orang-orang yang ada perkara-perkara kemurtadan padanya selama dia masih mengaku Islam, berarti ia seorang Muslim dan hadapilah orang-orang atheis.”
Maka kita katakan, “Mereka (orang-orang musyrik) lebih berbahaya daripada orang-orang atheis.”
Termasuk contoh dari perbuatan syirik adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti menyembelih untuk jin dan kuburan.
Kita menyebutkan contoh ini karena kasus ini banyak terjadi dan manusia menganggap enteng hal tersebut, mereka menyembelih untuk selain Allah, mereka menyembelih untuk jin dalam rangka menjaga diri dari keburukan yang akan menimpa mereka, juga dalam rangka berobat dan penyembuhan.
Kebanyakan manusia menganggap enteng masalah ini, dan ini banyak terjadi, padahal ini adalah syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agamanya, dan ini bukan perkara yang mudah. Syetan akan berkata kepadanya:
“Sembelihlah seekor anak domba, sembelihlah seekor ayam,” Padahal orang yang menyembelih seekor lalat saja (untuk selain Allah) bisa masuk neraka, karena yang dilihat bukanlah yang disembelih, tetapi yang dilihatnya adalah aqidah (keyakinan) nya.
Manusia terlalu menganggap sepele dalam hal ini dalam hal ini, hanya sekedar ingin ditunaikan kebutuhannya, atau agar syetan memberitahunya sesuatu yang tersembunyi, atau memberitahu tentang harta yang hilang, atau yang selainnya dari perkara-perkara yang manusia bertanya kepada jin tentangnya.
Maka dengan hal itu, ia keluar dari agamanya kita berlindung kepada Allah – ia murtad dalam perkara yang ia anggap mudah, padahal perkara tersebut sangat berbahaya sekali.
Sumber: Buletin Dakwah Hasmi, 11 Februari 2011
Related Posts with Thumbnails

Senin, 14 November 2011

BAB 4. SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL

Daftar isi

[sembunyikan]

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Harga 3 buku tulis dan 4 pensil adalah Rp13.200,00, sedangkan harga 5 buku tulis dan 2 pensil adalah Rp15.000,00. Dapatkah kamu menghitung harga satuan untuk buku tulis dan pensil tersebut? Permasalahan-permasalahan aritmetika sosial seperti ini dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV). Mengapa harus dua variabel? Perhatikan bahwa contoh kasus tersebut melibatkan dua macam variabel yang belum diketahui nilainya, yaitu harga satuan buku tulis dan harga satuan pensil. Untuk dapat mengetahui harga-harganya, kamu dapat menggunakan pemisalan untuk harga satuan buku tulis dan harga satuan pensil. Misalkan, harga satuan buku tulis adalah x dan harga satuan pensil adalah y. Jadi, contoh kasus tersebut dapat ditulis dalam bentuk model matematika sebagai berikut.
Dengan menggunakan metode penyelesaian SPLDV, kamu dapat mengetahui nilai x dan y. Berikut ini akan diuraikan konsep dasar SPLDV serta metode-metode penyelesaian yang dapat digunakan.


A. Pengertian SPLDV

Untuk memahami pengertian dan konsep dasar SPLDV, ada baiknya mengulang kembali materi tentang persamaan linear satu variabel. Pelajarilah uraian berikut secara saksama.

1. Persamaan Linear Satu Variabel

Di Kelas VII, kamu telah mempelajari materi tentang persamaan linear satu variabel. Masih ingatkah kamu apa yang dimaksud dengan persamaan linear satu variabel? Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaan berikut.

Bentuk-bentuk persamaan tersebut memiliki satu variabel yang belum diketahui nilainya. Bentuk persamaan seperti inilah yang dimaksud dengan linear satu variabel. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.1 secara seksama.




Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, untuk penyelesaian dari persamaan linear satu variabel dapat digunakan beberapa cara. Salah satu di antaranya dengan sifat kesamaan. Perhatikan uraian persamaan berikut.

Image:persamaan_5.jpg

Jadi, diperoleh nilai x = 4 dan himpunan penyelesaian, Hp = {4}. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.2 berikut.



2. Persamaan Linear Dua Variabel

Kamu telah mempelajari dan memahami persamaan linear satu variabel. Materi tersebut akan membantu kamu untuk memahami persamaan linear dua variabel. Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaaan berikut.

Persamaan-persamaan tersebut memiliki dua variabel yang belum diketahui nilainya. Bentuk inilah yang dimaksud dengan persamaan linear dua variabel. Jadi, persamaan dua variabel adalah persamaan yang hanya memiliki dua variabel dan masing-masing variabel berpangkat satu. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.3 berikut.
Image:persamaan_9.jpg

Image:persamaan_10.jpg

Image:persamaan_11.jpg

Image:persamaan_12.jpg

3. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Coba kamu perhatikan bentuk-bentuk persamaan linear dua variabel berikut.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa masing-masing memiliki dua buah persamaan linear dua variabel. Bentuk inilah yang dimaksud dengan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Berbeda dengan persamaan dua variabel, SPLDV memiliki penyelesaian atau himpunan penyelesaian yang harus memenuhi kedua persamaan linear dua variabel tersebut. Contoh, perhatikan sistem SPLDV berikut.
Image:persamaan_14.jpg

Penyelesaian dari sistem persamaan linear adalah mencari nilai-nilai x dan y yang dic ari demikian sehingga memenuhi kedua persamaan linear. Perhatikan Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa persamaan linear 2x + y = 6 memiliki 4 buah penyelesaian. Adapun persamaan linear x + y = 5 memiliki 6 buah penyelesaian. Manakah yang merupakan penyelesaian dari 2 x + y = 6 dan x + y = 5? Penyelesaian adalah nilai x dan y yang memenuhi kedua persamaan linear tersebut. Perhatikan dari Tabel 4. 1 nilai x = 1 dan y = 4 sama-sama
memenuhi penyelesaian dari kedua persamaan linear tersebut. Jadi, dapat dituliskan:
Image:persamaan_16.jpg
Image:persamaan_17.jpg
Image:persamaan_18.jpg

B. Penyelesaian SPLDV

Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, SPLDV adalah persamaan yang memiliki dua buah persamaan linear dua variabel. Penyelesaian SPLDV dapat ditentukan dengan cara mencari nilai variabel yang memenuhi kedua persamaan linear dua variabel tersebut. Pada subbab sebelumnya, kamu telah mempelajari bagaimana cara menentukan penyelesaian suatu SPLDV dengan menggunakan tabel, namun cara seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk itu, ada beberapa
metode yang dapat digunakan untuk menentukan penyelesaian SPLDV.
Metode-metode tersebut adalah:

1. Metode Grafik
2. Metode Substitusi
3. Metode Eliminasi
Pelajarilah uraian mengenai metode-metode tersebut pada bagian berikut ini.

1. Metode Grafik

Grafik untuk persamaan linear dua variabel berbentuk garis lurus. Bagaimana dengan SPLDV? Ingat, SPLDV terdiri atas dua buah persamaan dua variabel, berarti SPLDV digambarkan berupa dua buah garis lurus. Penyelesaian dapat ditentukan dengan menentukan titik potong kedua garis lurus tersebut. Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.6 dan Contoh Soal 4.7

Image:persamaan_19.jpg

Image:persamaan_20.jpg

Image:persamaan_21.jpg



2. Metode Substitusi

Penyelesaian SPLDV menggunakan metode substitusi dilakukan dengan cara menyatakan salah satu variabel dalam bentuk variabel yang lain kemudian nilai variabel tersebut menggantikan variabel yang sama dalam persamaan yang lain. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan penyelesaian SPLDV dengan menggunakan metode substitusi dapat kamu pelajari dalam Contoh Soal 4.8 dan Contoh Soal 4.9

Image:persamaan_22.jpg

Image:persamaan_23.jpg



3. Metode Eliminasi

Berbeda dengan metode substitusi yang mengganti variabel, metode eliminasi justru menghilangkan salah satu variabel untuk dapat menentukan nilai variabel yang lain. Dengan demikian, koefisien salah satu variabel yang akan dihilangkan haruslah sama atau dibuat sama. Untuk lebih jelasnya, coba kamu perhatikan dan pelajari Contoh Soal 4.10 dan Contoh Soal 4.11

Image:persamaan_24.jpg
Image:persamaan_25.jpg

C. Penerapan SPLDV

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali permasalahan-permasalahan yang dapat dipecahkan menggunakan SPLDV. Pada umumnya, permasalahan tersebut berkaitan dengan masalah aritmetika sosial. Misalnya, menentukan harga satuan barang, menentukan panjang atau lebar sebidang tanah, dan lain sebagainya. Agar kamu lebih memahami, perhatikan dan pelajari
contoh-contoh soal berikut.

Image:persamaan_26.jpg
Image:persamaan_27.jpg
Image:persamaan_28.jpg
Image:persamaan_29.jpg

Rabu, 09 November 2011


Blog Entri


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Firman Allah Ta'ala:
"Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kedhaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah." (Al-An'am: 82)
Iman yaitu ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat Lillah dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syirik disebut kedhaliman, karena syirik adalah perbuatan menempatkan sesuatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.
'Ubadah ibn Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, menuturkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah Hamba dan Rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa 'Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat pula bahwa) surga adalah benar adanya dan neraka-pun benar adanya; maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang diperbuatnya." (HR Bukhari Muslim)
Syahadat ialah persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari 'Itban: "Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada neraka orang yang berkata: Laa ilaha illa Allah (Tiada sesembahan yang hak selain Allah), dengan ikhlas dari hatinya dan mengharapkan (pahala melihat) Wajah Allah."
Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Musa berkata: Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo'a kepada-Mu. Allah berfirman: Katakanlah hai Musa: "Laa ilaha illa Allah". Musa berkata lagi: Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini. Allah pun berfirman: Hai Musa, andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang Laa ilaha illa Allah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka Laa ilaha illa Allah niscaya lebih berat timbangannya." (Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan bahwa hadits ini Shahih)

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits, yang dinyatakan hasan, dari Anas: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula."
Kandungan dalam tulisan ini:
  1. Luasnya karunia Allah Ta'ala.
  2. Banyaknya pahala tauhid disisi Allah Ta'ala.
  3. Selain itu, tauhid menghapuskan dosa-dosa.
  4. Tafsiran surah Al-An'am ayat 82, menunjukkan keistimewaan tauhid dan keuntungan yang diperoleh darinya dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan menunjukkan pula bahwa syirik adalah perbuatan zhalim yang dapat membatalkan iman jika syirik itu akbar (besar) atau mengurangi iman jika syirik itu ashghar (kecil).
  5. Perhatikan kelima masalah yang tersebut dalam hadits 'Ubadah.
  6. Apabila anda mempertemukan hadits 'Ubadah, hadits 'Itban dan hadits sesudahnya, akan
  7. jelas bagi anda pengertian kalimat "Laa ilaha illa Allah" dan jelas pula kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.
  8. Perlu diingat persyaratan yang dinyatakan di dalam hadits 'Itban yaitu ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.
  9. Para nabi perlu diingatkan pula akan keistimewaan "Laa ilaha illa Allah"
  10. Bahwa Laa ilaha illa Allah berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak diantara orang yang mengucapkan kalimat tersebut ringan timbangannya.
  11. Langit dan bumi ada penghuninya.
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah, berbeda dengan pendapat Asy'ariyah yaitu salah satu aliran teologis, pengikut Syaikh Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy'ary (260-324H = 874-936M). Dan maksud penulis disini ialah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an dan Sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya Wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum Salaf Shaleh dalam masalah ini, yaitu: mengimani kebenaran sifat-sifat Allah yang dituturkan oleh Al Qur'an dan Sunnah tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
Adapun Asy'ariyah dalam masalah sifat yang seperti ini, sebagian mereka ada yang menta'wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya) dengan dalih bahwa hal tersebut apabila tidak dita'wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya.

 Akan tetapi, perlu diketahui bahwa Syaikh Abul Hasan Al Asy'ary sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzab salaf shaleh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis diakhir masa hidupnya, yaitu Al-Ibanah 'An Ushulid-Diyanah (editor: Abdul Qadir Al-Arna'uth, Beirut: Maktabah Dar Al-Bayan, 1401 H), bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta'wil yang dilakukan orang-orang yang menyimpang dari madzhab Salaf.
  1. Apabila anda memahami hadits Anas, anda akan tahu bahwa sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits 'Itban maksudnya ialah dengan tidak melakukan perbuatan syirik sedikitpun, bukan sekedar mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan saja.
  2. Perhatikanlah perpaduan sebutan Hamba Allah dan Rasul-Nya dalam pribadi Nabi 'Isa dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
  3. Mengetahui keistimewaan Nabi 'Isa sebagai kalimat Allah, maksudnya yaitu bahwa Nabi 'Isa diciptakan Allah dengan firman-Nya "Kun" (jadilah) yang disampaikan-Nya kepada Maryam melalui Malaikat Jibril.
  4. Mengetahui bahwa Nabi 'Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan-Nya.
  5. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya surga dan neraka.
  6. Mengetahui sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "betapapun amal yang telah diperbuatnya".
  7. Mengetahui bahwa timbangan mempunyai dua daun.
  8. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah Ta'ala.
Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.


Kata kunci: ketauhidan