Jumat, 17 Juni 2016

AQIDAH (definisi)

Definisi Aqidah

oleh: Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari 

Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :

Kata "‘Aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraamal-ihkam(pengesahan), (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).

"Al-‘Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " ‘Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " ‘Aqdan" (ikatan sumpah), dan " ‘Uqdatun Nikah" (ikatan menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89).

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).

Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.

Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi)

Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang  menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

 
Aqidah Islamiyyah:

Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta'ala, Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta'ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam.

 
Aqidah Islamiyyah:

Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi'in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.

 
Nama lain Aqidah Islamiyyah:

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syari'iah dan al-Iman.

Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu ‘aqidah.

Sumber:

Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama'ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama'ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi'i, cet.I), hlm. 33-35.

Buku Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama'ah

Rabu, 15 Juni 2016

MAKNA DAN FAEDAH TAUHID

Makna dan Faedah Tauhid

Diposting oleh Uwaiz Al Baihaqi pada 15:10, 07-Mei-15

Di: Tauhid dan Aqidah

Apa itu Tauhid?

Tinjauan secara makna bahasa: menyatukan, menyendirikan, mengesakan.

Tinjauan secara syariat: mengkhususkan Allah –سبحانه و تعالى-, pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, baik dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, maupun nama dan sifat-Nya.

Macam-macam Tauhid

1. Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah berkeyakinan bahwa Allah berkuasa di seluruh alam.

"Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam." [Qs. Al Fatihah(1) : 2]

2. Tauhid uluhiyah
Berkeyakinan bahwa Allah saja yang berhak di sembah.

"Dan Tuhan mamu adalah tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan selain Dia(yang berhak disembah). Yang pengasih, yang penyayang." [Qs. AL Baqarah(2):163]

Baik tauhid uluhiyah maupun rububiyah keduanya bertujuan supaya manusia mengetahui keagungan Nya dan Dia yang berhak disembah dan ditaati. Sehingga iman jadi kuat dan berorientasi pada kehidupan di dunia.

3. Tauhid Asma dan Sifat

Menetapkan sifat dan nama Allah seperti apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul Nya tanpa Ta'wil (menafsirkan), Tamtsil (menyamakan), Ta'thil (Meniadakan), dan Takyif (Bagaimana). Seperti : Istiwa, tangan dan sebagainya.

" .....Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang maha mendengar, maha melihat." [Qs. Asy-Syura(42) : 11]

Faedah Tauhid

1. Bebas dari siksa neraka

"Hak seorang hamba atas Allah adalah tidak menyiksa dia apabila tak menyetukan dengan sesuatu" [HR. Bukhari-Muslim)

2. Bisa menghapus dosa

Dari Ibnu Mas'ud ra, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Siapa saja yang meninggal sedangkan dia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia akan masuk kedalam neraka. Dan siapa saja yang meninggal sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka ia akan masuk surga." (HR. Muslim dan Ahmad).

"Allah tidak akan mengampuni dosa syirik(mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan dia menghendaki dosa selain itu bagia siapa yang Dia kehendaki......." [Qs. An Nisa (4) : 116]

3. Mendapat hidayah di dunia

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman dengan syirik, mereka itulah yang mendapat rasa aman dan mereka itulah yang mendapat petunjuk." [Qs. Al-An'am(6) : 82]

Bakar bin Sawad ra menjelaskan, bahwa ada seorang lelaki musyrik yang suatu saat telah membunuh dua orang muslim. Lantas, ia menemui Rasulullah saw, menjelaskan perbuatannya dan bertanya, "Apakah islam akan bermanfaat bagiku setelah kulakukan semua ini?" Rasul saw menjawab, "Ya, bermanfaat dan taubatmu dapat diterima." Ia pun bergabung dalam pasukan Islam. Tak lama, ia berhasil membunuh tiga sahabatnya yang masih kafir dan ia mati syahid." (HR. Ibnu Abu Hatim. Lihat Ad-Durul Mantsur : 3/30)

Ikhtiar itu dengan berusaha dan berdo'a pada Allah bukan dengan bertanya pada hal yang menyekutukan(Dukun). Fenomena semacam itu kerap terjadi bahkan di lingkungan yang masih memegang prinsip adat kebudayaan. Semoga kita dijauhkan dari ke syirikan dan diampuni segala dosa nya.... Aamiin, Aamiin yaa robal alamin,,

AQIDAH1

Akidah Islam

Akidah (Bahasa Arab: اَلْعَقِيْدَةُ; transliterasi: al-'Aqīdah) dalam istilahIslam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah. Pondasi akidah Islam didasarkan pada hadits Jibril, yang memuat definisi Islam, rukun Islam, rukun Iman, ihsan dan peristiwa hari akhir.

EtimologiSunting

Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kataal-'aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi), akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.[1]

Jadi, Akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepadaNya, beriman kepada para malaikatNya, rasul-rasulNya,kitab-kitabNya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma'(konsensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath'i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma' salaf as-shalih.[3]

Pembagian akidah tauhidSunting

Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Tauhid Al-Uluhiyyah, (al-Fatihah ayat 4 dan an-Nas ayat 3)
mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.Tauhid Ar-Rububiyyah, (al-Fatihah ayat 2, dan an-Nas ayat 1)
mengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.Tauhid Al-Asma' was-Sifat,
mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya, artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah, dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhidar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmadberkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis padaLauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.[4]

Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.[5]

Selasa, 14 Juni 2016

TAUHID1

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.

Pembagian Tauhid

Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:

 

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullahshallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.

Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)

Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dalilnya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘” (QS. An Nahl: 36)

Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??

Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180)

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura: 11)

Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

Pentingnya mempelajari tauhid

Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4).

—

Penulis: Yulian Purnama

Artikel www.muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html

Jumat, 10 Juni 2016

TAWADHU'

10 Faedah Tentang Tawadhu'

1. Definisi Tawadhu'

Tawadhu' (التّواضع) secara bahasa adalah التّذلّل "Ketundukan" dan التّخاشع "Rendah Hati". Asal katanya adalah Tawadha'atil Ardhu' yakni Tanah itu lebih rendah daripada tanah sekelilingnya.

Tawadhu' secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakan nya, baik dalam keadaan ridha maupun marah.

Tawadhu' juga merendahkan diri dan santun terhadap manusia, dan tidak melihat diri memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah (manusia) yang lain nya. 

2. Macam-Macam Tawadhu'

Tawadhu' terdiri dari dua macam :
Pertama : Tawadhu' yang terpuji. Tawadhu' yang terpuji adalah sikap merendahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama.Kedua : Tawadhu' yang tercela. Tawadhu' yang tercela adalah sikap merendahkan diri dihadapan orang kaya dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya.Orang yang berakal seharusnya menghindari sikap tawadhu' yang tercela dan menerapkan tawadhu' yang terpuji dalam setiap aspek kehidupan nya. 

3. Syarat-Syarat Tawadhu'

Syarat tawadhu' ada dua :

Pertama : Selalu Ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta'ala
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam :

وما تواضع أحد لله إلّا رفعه الله عزّوجلّ

"Tidaklah seorang bertawadhu' yang ditunjukkan semata-mata karena Allah, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengangkat (derajat)nya." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam Shahih nya no 2588]

Kedua : Mempunyai Kemampuan
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam :
من ترك اللّباس تواضعا لله وهو يقدر عليه , دعاه الله يوم القيامة على رءس الخلائق , حتّى يخيّر من أيّ حلل الإيمان شاء يلبسها
"Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawadhu' kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadap sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan." [Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan nya no 2481, Imam Ahmad didalam Musnad nya 3/439 dan Imam al-Hakim dalam Al-Mustadraknya IV/183. Lihat juga Silsilatul Ahaadits Ash-Shahihah no 718] 

4. Implikasi-Implikasi Tawadhu'

a. Tawadhu' kepada Allah Azza wa Jalla
Tawadhu' ini terdiri atas dua maca yaitu :
Tawadhu' seorang hamba kepada Allah ketika melaksanakan ketaatan kepada-Nya tanpa disertai perasaan bangga diri dan riya'.Seorang merendahkan diri kepada Allah tatkala mengingat dosa-dosa yang telah ia perbuat sehingga ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling sedikit ketaatan nya (amalanya) dan paling banyak dosanya (dimana hal ini akan mendorongnya untuk bertaubat).b. Tawadhu' dalam Berpakaian dan Penampilan

c. Tawadhu' Ahli Ilmu (Ulama)
Selayaknya bagi seorang ulama tidak perlu mengaku-ngaku dirinya sebagai orang yang berilmu dan tidak perlu membanggakan diri atas apa yang dimilikinya, kecuali dalam keadaan yang terpaksa atau darurat karena dia membicarakan nya sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada nya. Bukan untuk membanggaan diri dihadapan manusia.

d. Tawadhu' Penuntut Illmu
Selayaknya bagi para penuntut ilmu untuk senantiasa tawadhu' karena orang tawadhu' diantara mereka adalah orang yang lebih banyak ilmunya. Perumpamaan nya seperti tempat yang lebih rendah, ia lebih banyak genangan airnya dan lebih banyak manfaatnya.

5. Tingkatan-Tingkatan Tawadhu'

a. Tawadhu' dalam Agama
Tawadhu' dalam agama yaitu tunduk kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan patuh terhadap nya.

b. Tawadhu' kepada sesama Makhluk
Tawadhu' kepada sesama Makhluk terdapat tiga makna :
Ridha untuk menjadikan seseorang dari kaum Muslimin sebagai saudaramu, karena Allah telah ridha kepadanya untuk menjadi hamba-Nya.Tidak menolak kebenaran, walaupun kebenaran itu datang dari musuh mu.Menerima maaf dari orang yang meminta maaf.

6. Keutamaan-Keutamaan Tawadhu'

a. Tawadhu' dapat mengangkat derajat seorang hamba.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah kepada seseorang hamba sifat pemaaf, kecuali dia akan mendapatkan kemuliaan, serta tidaklah seorang menerapkan sifat tawadhu' karena Allah kecuali Allah pasti mengangkat derajatnya." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya XVI/141, Imam Ad-Darimi dalam Sunan nya 1/369, Imam Ahmad dalam Musnad 2/386 dan selain nya]

b. Tawadhu' dapat mengangkat derajat dan pangkat seorang hamba
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
"Tidaklah dari setiap keturunan Adam, melainkan dikepalanya terdapat hakamah ditangan seorang Malaikat. Apabila ia tawadhu', dikatakan kepada Malaikat tersebut : "Angkatlah hakamahnya", sedangkan apabila ia sombong, dikatakan kepada Malaikat tersebut : "Letakkan hakamahnya." [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no 538]

Hakamah adalah besi kekang yang berada dihidung kuda, tali kekang tersebut dapat mencegah kuda dari melawan perintah penunggangnya.

c. Tawadhu' itu menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu', sehingga seseorang tidak merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya kepada orang lain." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya]

7. Tanda-Tanda Manusia Tawadhu'

a. Tunduk dan patuh kepada Kebenaran.Dengan menerima sepenuh hati kebenaran dan tidak ada keinginan didalam dirinya untuk menentang kebenaran tersebut.

b. Menghormati orang lain dan menghargai kedudukan nya.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya]

c. Sederhana dalam berjalan yakni berjalan dengan ringan, tenang, tidak memberatkan diri didalam langkahnya, tidak dibuat-buat dan tidak terkandung didalam nya kesombongan, tidak pula memalingkan pipi, tidak juga terlalu lepas kendali. Bukan berjalan seperti orang yang tidak berdaya, lemah langkahnya dan menundukkan kepala.

d. Rendah hati dan lemah lembut kepada sesama

8. Hal-Hal yang Dapat Memotivasi Timbulnya Sifat Tawadhu'

a. Bertafakur terhadap asal penciptaan manusia.
Dengan mengetahui asal muasal penciptaan diri nya, yang hina dan rendah, kemudian Allah memberikan kehidupan, membaguskan bentuknya, dan memberikan nafkah kepadanya. Maka bagaimana mungkin dia bisa menyombongkan diri lagi tinggi hati?

Ibnu Hibban rahimahullah berkata dalam kitab Raudhatun 'Uqalaa' wa Nuzhatul Fudhalaa' hal 61 : "Bagaimana tidak harus tawadhu', sedangkan dia tercipta dari nutfah yang memancar dan akhirnya kembali menjadi bangkai yang busuk, sementara semasa hidupnya ia senantiasa membawa kotoran."

b. Mengetahui terbatasnya kemampuan nya.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan kesombongan karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." [al-Quran surat al-Isra' ayat 37] 

9. Contoh Tawadhu' nya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam

a. Larangan memuji beliau berlebih-lebihan.
Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya maka katakanlah (bahwa aku) hamba Allah dan Rasul-Nya." [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih nya IV/478]

b. Membantu Pekerjaan
Dari al-Aswad bin Yazid, dia berkata : "Aku pernah bertanya kepada Aisyah : "Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salalm dirumahnya? Aisyah menjawab : "Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar suara adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan) shalat." [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih nya] 

10. Syair tentang Tawadhu'

Seorang penyair rahimahullah berkata :

ولا تمش فوق الأرض إلّا تواضعا

فكم تحتها قوم هم منك أرفع

فإن كنت في عزّ وخير ومنعة

فكم مات من قوم منك أمنع

"Janganlah engkau berjalan diatas bumi ini kecuali dengan ketawadhu'an.

Berapa banyak orang yang berada dibawah bumi (mayat) dari golonganmu, sedangkan mereka (dulunya) lebih tinggi (kedudukan dan kekuasaan nya) daripada engkau.

Jika engkau berada dalam kekuasaan, kebaikan dan benteng yang kokoh.

Maka berapa banyak orang yang telah mati sedangkan dia lebih kokoh (pertahanan nya) daripada dirimu."

[Diringkas dari kitab At-Tawadhu' fi Dhauil Kitab was Sunnah, Syaikh Salim bin Ied al-Hilali. Diterjemahkan dengan judul "Hakikat Tawadhu' dan Sombong Menurut al-Quran dan as-Sunnah" cet Pustaka Imam Syafi'i]

Oleh:  Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny
Diarsipkan: www.faisalchoir.blogspot.com

Kamis, 26 Mei 2016

SELINGKUH (3)

Tanda Tanda Suami atau Isteri Selingkuh

Redaksi – Jumat, 18 April 2014 09:35 WIB

Tanda – tanda suami / isteri   selingkuh

Sering meninggalkan sholat  terutama subuh, mulai suka bohong  dan lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai  suami /isteri dalam rumah tangga.Dalam keseharian tidak perhatian dan tidak  mesra dalam hubungan suami isteri jika bicara suka berbantahan banyak alasanPergi Pagi Pulang Malam  dan suka berlama –lama di pekerjaan dengan alasan lembur jika pergi keluar kantor tidak izin suami / isteriMencari-cari alasan untuk bisa pergi keluar sendiri  dan tidak mau ditemaniHandpone di password  jika dihidupkan suara ringtone  di silenceJika bepergian sulit dihubungi atau jika bisa dihubungi hanya sebentar dan mati lagi serta mempunyai no hp lain tanpa sepengetahuan suami / isteriTidak mau putus hubungan dengan Handphone dan internetSibuk SMS dimana saja tanpa kenal waktu dan pergi saat menerima  telpon, jika ada anda  gugup dan akan bilang nanti saya hubungi atau telpon langsung dimatikan tanpa dijawabJika pulang dari bepergian akan langsung kebelakang untuk menghilangkan jejak perselingkuhanBiasanya cuek tapi tiba-tiba perhatian untuk menutupi perselingkuhanBeli pakaian baru yang tidak biasa, suka berdandan dan  memakai minyak wangi

 

Cara mengatasi Suami atau Istri yang selingkuh dalam Islam

Untuk mengatasi suami atau isteri selingkuh kenali dulu tanda-tandanya untuk mencegah  perselingkuhan  selain itu perhatikan kurangnya kebutuhan lahir batin dari pasangannya, kurang perhatian dan meyepelekan  pasangan,  kondisi kejiwaan dan jauh dari suami/ isteri,  kemajuan teknologi serta  kurangnya pengawasan suami/isteri yang mendorong  terjadinya perbuatan  selingkuh.

Meskipun  untuk berselingkuh tergantung dari keimanan masing –masing pelakunya, akan tetapi bila tidak hati-hati kita  akan tergelincir dalam lingkaran perselingkuhan yang awalnya sama sekali   tidak menginginkannya.

Hanya  dengan  selalu ingat kepada Allah dengan tidak meninggalkan Shalat dan menjadi  suami / isteri soleh yang  berderajad tinggi bukan derajad Pelacur  selingkuh dapat dihindari

Jika suami atau isteri terlanjur selingkuh  jangan khawatir   pasti ada jalan keluarnyaasal selalu dekat dan yakin dan mau berusaha mencari jalan keluar dan beriktiar kepada Allah SWT pasti semua masalah akan selesai.

Jika suami atau isteri :

1. Selingkuh Ringan

Selingkuh ringan artinya suami/isteri  melakukan Perbuatan   mendekati  zina belum zina yang sebenarnya  seperti : sms mesra , telpon mesra , chatting mesra,  ketemuan dan berduaan dengan laki / perempuan tanpa izin suami atau isterinya.

Selingkuh Ringan adalah awal dari Selingkuh berat (Zina)

Perbuatan ini pasti akan menyakiti hati anda, merendahkan kehormatan serta menyepelekan anda.  Agar perselingkuhan model ini cepat terselesaikan dan tidak berkembang menjadi Selingkuh Berat  secepatnya  dilakukan perbaikan  hubungan dengan suami / istri   yaitu  dengan cara melakukan diskusi  dari hati-kehati pada waktu dan suasana yang tepat agar maksud dan tujuan tercapai  caranya:

–         Benahi dulu kondisi mental  anda, Tidak perlu marah2  meskipun anda tahu semua itu adalah kesalahan suami / isteri bukan anda,   marah  tidak akan  menyelesaikan masalah, tenangkan diri anda agar dapat berfikir jernih, tambah ibadah seperti  sholat  sunat rawatib, tahajjud, hajad dan berdzikir sebanyak-banyaknya agar hati menjadi tenang  serta buat kesibukan positif.

– Sebelum berdiskusi,  koreksi diri anda sendiri dulu dan jawablah pertanyaan kenapa suami / isteri  anda selingkuh jika anda tahu jawabannya itulah solusinya. Coba ubah  diri anda dulu  sesuai  perkiraan kemauan suami / isteri  karena bagaimanapun juga suami / isteri  anda dulu mencintai anda

– Pada waktu dan suasana yang tepat berdandalah yang rapi ganteng / cantik dan pakaian sexy, memakai parfum kesukaan suami /isteri tapi jangan berhubungan sexual dulu, tanyakan pada suami / isteri anda  alasan  dia selingkuh,  jika tidak mau mengungkapkan  pancing dengan mengatakan hal –hal yang paling tidak disukai dari suami / isteri yang tidak menyakti hati pasangan  agar dia mau mengungkapkan hal yang tidak disukai pada anda jadikan informasi ini sebagai tambahan koreksi terhadap diri anda sendiri

– Setelah suami / isteri  mengungkapkan seluruh isi hatinya, Minta maaflah anda karena bagaimanapun juga salah satu factor kekurangan diri anda menjadikan   suami / isteri  anda selingkuh.

– Katakan pada suami / isteri  bahwa  anda  janji akan merubah sikap anda begitu juga dengan  suami / isteri anda  diminta untuk berjanji mengubah perilakunya.

– Nasehati dengan baik dan tambahkan perhatian serta kasih sayang serta  tanyakan apa yang diinginkan  pasangan agar bisa menghentikan perselingkuhan, berikan bimbingan  dengan cara yang baik usahakan ayat Al Quran dan Hadis diatas bisa dibaca atau dimengerti oleh suami / isteri  anda.

– Ulangi buat perjanjian dengan suami atau isteri selingkuh yang isinya jika diulang lagi sampai batas tertentu anda tidak akan segan untuk menggugat cerai suami atau mencerai istri

– Sambil menunggu waktu berlalu , cari informasi tentang  pasangan selingkuh  suami /isteri sebelum menuduh suami isteri selingkuh, catat no hp, alamat rumah maupun pekerjaan , datangi baik-baik dan minta tolong kepada pasangan selingkuh agar tidak mengganggu suami atau isterinya  buat perjanjian jika masih selingkuh akan di laporkan ke orang tuanya, suami / isterinya atau atasannya .

–  Jika masih saja tetap selingkuh ringan tanyakan pada suami / isteri  apakah masih ingin meneruskan perkawinan atau tidak beri waktu  untuk berfikir dan memutuskan.

–  Jika sudah sampai 3 kali suami / isteri  tetap saja selingkuh ringan  jangan ragu untuk menggugat cerai karena sebenarnya suami atau isteri anda sudah zina yang sebenarnya .

2. Selingkuh Berat

Jika suami / isteri anda tidak  hanya selingkuh ringan  tapi sudah melakukan perbuatan zina

untuk Suami jangan ragu untuk segera menceraikan isteri anda  , atau melaporkan perselingkuhan tersebut ke polisi karena termasuk kategori kejahatan dalam kesusilaan atau perlakukan orang yang menyelingkuhi isteri anda menggunakan dalil hadist nabi diatas.

Tapi bagi Isteri yang suaminya selingkuh dan  tidak ingin mengajukan gugatan cerai pada suami, ada pahala dari Allah untuk kesabaran dan keikhlasan anda. Pertimbangkan dengan matang untuk mengambil sikap  jika suami selingkuh dengan melihat faktor :

1. Sifat dasar suami dilihat dari ketekunan dan pengetahuan agama, komitmen, tanggung jawab, Sifat   dan  kemungkinan tidak berbuat selingkuh lagi serta kesungguhan suami untuk bertobat

2. Kondisi diri pribadi anda seperti umur, kesempatan menikah lagi,   ada tidaknya calon pengganti, status, jaminan hidup kedepan  dll

3. Masa depan anak anda, kebahagiaan keluarga besar anda dan suami dll

Faktor – faktor diatas bisa membantu anda untuk mengambil keputusan jika suami selingkuh.

Tapi  jika anda masih mencintai suami dan anda rela untuk berbagi dengan mempertimbangkan   faktor diatas tidak ada salahnya anda memberi kesempatan pada suami untuk membina rumah tangga lagi karena secara Islam seorang  suami boleh beristeri lebih dari satu jika Mampu dan Adil sedangkan wanita tetap tidak boleh bersuami dua meskipun mampu dan adil.

Untuk mendapatkan  ketenangan batin dan ditunjukkan Allah  jalan terbaik   mengatasi segala masalah yang ditimbulkan akibat suami / isteri selingkuh,  Islam memberikan  cara yang sangat MANJUR yaitu  Ikhlas  dengan apa yg diberikan Allah , Sholat Tahajjud di 1/3 malam terakhir (jam 02.30-03.30) malam) dan pagi-siang-sorenya melakukan zikir Ya Allah….. dan Sholawat Nabi : Sallahu ala Muhammad ….. sebanyak-banyaknya agar hati menjadi tenang…

Semoga manfaat

SELINGKUH (2)

Haruskah Saya Ceraikan Istri yang Berselingkuh?

From: Andre Muslim

Pertanyaan:

Assalamu ’alaikum, Ustadz.

Sekadar share aja, Ustadz. Saya menikah sudah hampir 4 tahun. Di tahun ke-2 pernikahan kami, saya mendapat tugas di luar pulau, yang mengakibatkan kami jarang bertemu. Mungkin, dengan kurangnya intensitas pertemuan kami, (itu) mengakibatkan istri (saya) selingkuh. Hal ini saya ketahui sekitar setahun yang lalu (dikuatkan oleh kedua belah pihak). Malah, saat itu, istri (saya) mengungkapkan (bahwa dia) ingin bercerai karena laki-laki itu.

Yang ingin saya tanyakan: Apa saran Ustadz dengan rumah tangga kami? Di satu sisi, saya tidak bisa menerima perselingkuhan istri saya itu karena (dia) sampai berbuat zina, tetapi di sisi lain, saya kasihan dengan buah hati kami yang baru menginjak dua tahun.

Apa yang harus saya lakukan, Uztadz?

Karena sampai saat ini, saya sudah mengucapkan talak (sebanyak) dua kali ke dia, dan sampai sekarang (status pernikahan kami) masih saya gantung karena istri (saya) tidak mau (jika) saya ceraikan (dia).

Mohon bimbingan dalam kebimbangan hati ini. Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Semoga Allah memperbaiki kondisi Anda sekeluarga.

Pertama: Sesungguhnya, talak itu halal, namun sangat disukai iblis.

Dia merasa bangga ketika ada anak buahnya yang mampu menggoda pasangan suami-istrisehingga pasangan suami-istri itu mengalami perceraian. Untuk dalilnya, bisa dilihat di tautan berikut: http://kisahmuslim.com/iblis-pun-memiliki-singgasana/

Karena itu, kami sarankan, hendaknyaperceraian menjadi solusi terakhir bagi permasalahan Anda. Bahkan, kalau bisa, jangan sampai terjadi perceraian.

Kedua: Suami memiliki hak sepenuhnya untuk menceraikan istrinya. Anda sudah menjatuhkan cerai sebanyak dua kali; tinggal satu kesempatan lagi.

Jika kesempatan terakhir ini dijatuhkan maka konsekuensinya: Anda harus berpisah dengan istri Anda, sampai dia menikah lagi. Jika hal itu sampai terjadi, harapan untuk bisa kembali menjadi keluarga akan sangat kecil. Karena itu, jagalah lisan baik-baik ….

Ketiga: Terkait kasus perselingkuhan. Seorang suami yang telah memaafkan istrinya yang berselingkuh diperbolehkan untuk tetap mempertahankan istrinya tersebut.

Di antara dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaan istrinya, “Sesungguhnya, istriku tidak pernah menolak setiap laki-laki yang ingin menyentuhnya.” Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan, “Ceraikan dia!” Namun, orang tadi masih berkeinginan untuk hidup bersamanya, “Saya tidak bisa sabar menahan diri untuk mendekatinya.” Akhirnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan, “Pertahankan dia (tetap jadikan dia sebaga istri).” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Turmudzi, dan Al-Bazzar; disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram dan beliau menyatakan, “Perawi-perawinya tsiqah.”)

Hadits di atas hanya menyebutkan salah satu latar belakang orang untuk tetap mempertahankan keluarga. Tidak menutup kemungkinan adanya latar belakang lain. Memerhatikan kondisi anak merupakan salah satu alasan yang bisa dijadikan latar belakang untuk tetap mempertahankan keluarga.

Keempat: Ajak istri Anda untuk bertobat dan menyesali perbuatannya, ingatkan dia dengan bahaya ancaman berbuat zina, dan carikan teman bergaul yang baik. Mudah-mudahan, itu semua bisa memengaruhi kepribadiannya.

Kelima: Jika istri Anda sudah bertobat, jangan ungkit-ungkit lagi masalahnya, karena orang yang sudah bertobat dari suatu dosa itu seolah sudah tidak lagi memiliki dosa tersebut. Karena itu, dosanya tidak boleh disebut-sebut.

Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju jalan-Nya yang lurus. Allahu a’lam.

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
sumber : http://www.konsultasisyariah.com/haruskah-saya-ceraikan-istri-yang-berselingkuh/